× Beranda Toko Online Artikel ↷ Baca Quran Asbabunnuzul Tafsir ↷ Mencari Artikel Mencari Ayat Advertisement
×
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا سَوَاۤءٌ عَلَيْهِمْ ءَاَنْذَرْتَهُمْ اَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُوْنَ
Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman.

Asbabunnuzul

"Sesungguhnya orang-orang kafir": ayat ini turun pada orang-orang Yahudi Madinah. Menurut Al-Qurtubi bahwasanya para ulama berbeda pandangan dalam penakwilan ayat ini. Maka ada yang berpandangan, ayat ini umum dan maknanya khusus pada orang-orang yang mereka pasti akan ditimpa azab, dan telah didahului dalam ilmu Allah, bahwasanya mereka akan mati dalam kekufuran, Allah SWT ingin memberitahu bahwasanya ada diantara manusia keadaannya seperti ini, tanpa menentukan orangnya.
وَاِذَا لَقُوا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قَالُوْٓا اٰمَنَّاۚ وَاِذَا خَلَوْا اِلٰى شَيٰطِيْنِهِمْۙ قَالُوْٓا اِنَّا مَعَكُمْۙ اِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِءُوْنَ
Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan:"Kami telah beriman". Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan:"Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok".

Asbabunnuzul

Ayat ini turun pada Abdullah bin Ubay dan sahabat-sahabatnya yaitu ketika mereka pada suatu hari sedang keluar dan bertemu dengan sebagian sahabat Rasulullah saw, maka Abdullah bin Ubay (seorang pemimpin para orang munafik di kota Madinah) berkata : "lihatlah bagaimana aku menghindarkan kalian dari orang-orang bodoh." Kemudian ia menghampiri Abu Bakar ra, dan memegang tangannya dan berkata, "Selamat datang wahai Ash-Shiddiq, orang terhormat dari Bani Tamim, Syaikhul Islam, pendamping Rasulullah di dalam gua, pejuang dengan jiwa dan raganya untuk Rasulullah." Kemudian ia memegang tangan Umar bin Al-Khaththab ra dan berkata: "Selamat datang wahai orang terpandang dari Bani Addi bin Kaab, Al-Faruq, orang kuat dalam agama Allah, pejuang dengan jiwa dan raga untuk Rasulullah." Kemudian memegang tangan Ali bin Abi Thalib ra dan berkata, "Selamat datang wahai anak paman Rasulullah dan suami dari anak perempuan beliau, orang terpandang dari Bani Hasyim dan tidak pernah meninggalkan Rasulullah." Kemudian mereka saling berpisah. Setelah itu, Abdullah bin Ubay berkata kepada para sahabatnya, "Bagaimana kalian melihat tadi yang aku lakukan?" Maka, jika kalian bertemu dengan mereka, maka lakukanlah seperti yang aku lakukan tadi." Dan, para sahabatnya memujinya. Kemudian orang-orang muslim kembali kepada Rasulullah saw dan memberitahukannya apa yang telah terjadi, kemudian ayat ini turun.
اَوْ كَصَيِّبٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ فِيْهِ ظُلُمٰتٌ وَّرَعْدٌ وَّبَرْقٌۚ يَجْعَلُوْنَ اَصَابِعَهُمْ فِيْٓ اٰذَانِهِمْ مِّنَ الصَّوَاعِقِ حَذَرَ الْمَوْتِۗ وَاللّٰهُ مُحِيْطٌۢ بِالْكٰفِرِيْنَ
Atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir, sebab takut akan mati. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir.

Asbabunnuzul

Adalah dua orang munafik penduduk kota Madinah kabur dari Rasulullah menuju orang-orang musyrik, maka mereka ditimpa hujan yang Allah sebutkan ini, disertai guruh yang sangat dahsyat dan juga kilat, setiap mereka mendengar suara petir, maka mereka menutupi telinga dengan jari mereka karena ketakutan yang dahsyat di dalam diri mereka. Ketika petir mengeluarkan sinar kilat, mereka berjalan di bawah sinar tersebut dan jika petir tidak mengeluarkan sinar mereka berdua tidak dapat melihat apa-apa. Setelah itu mereka berkata: "Seandainya kita memasuki pagi, hingga kita datang kepada Muhammad dan menaruh tangan kita pada tangannya." Kemudian mereka mendatangi Rasulullah saw dan masuk Islam. Maka, Allah memberikan permisalan dua orang munafik ini yang kabur sebagai contoh untuk orang-orang munafik yang tinggal di kota Madinah. Adalah orang-orang munafik jika menghadiri majelis Nabi saw, mereka menutupi telinga mereka dengan jari-jari mereka karena sangat takut mendengar sabda Nabi saw tentang orang munafik, atau menyebutkan sesuatu yang dapat membunuh mereka seperti yang terjadi pada dua orang munafik yang pergi dari Rasulullah saw dan menutupi telinga mereka dengan jari mereka berdua. ("Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu"), jika harta mereka bertambah banyak, atau mendapatkan ghanimah atau melakukan pembebasan kota, mereka berjalan dengan para Muslimin seraya berkata, "sesungguhnya agama Muhammad benar." dan mereka kemudian terlihat istiqamah seperti dua orang munafik yang berjalan di bawah sinar kilat petir. ("dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti"), dan jika mereka mengalami kerugian dan kekurangan dalam harta dan anak dan tertimpa musibah, mereka berkata, "semua ini terjadi karena agama Muhammad." Kemudian mereka keluar dari Islam dan kafir, seperti apa yang dikatakan dua orang munafik ketika mereka tidak dapat melihat karena tidak ada sinar kilat.
اِنَّ اللّٰهَ لَا يَسْتَحْيٖٓ اَنْ يَّضْرِبَ مَثَلًا مَّا بَعُوْضَةً فَمَا فَوْقَهَاۗ فَاَمَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا فَيَعْلَمُوْنَ اَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَّبِّهِمْۚ وَاَمَّا الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فَيَقُوْلُوْنَ مَاذَآ اَرَادَ اللّٰهُ بِهٰذَا مَثَلًاۘ يُضِلُّ بِهٖ كَثِيْرًا وَّيَهْدِيْ بِهٖ كَثِيْرًاۗ وَمَا يُضِلُّ بِهٖٓ اِلَّا الْفٰسِقِيْنَۙ
Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Rabb mereka,tetapi mereka yang kafir mengatakan:"Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?". Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan oleh Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberinya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik,

Asbabunnuzul

Ketika Allah SWT memberikan dua permisalan ini untuk orang-orang munafik yakni firman-Nya, ("Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api") dan firman-Nya ("orang-orang yang ditimpa hujan lebat dari langit") orang-orang munafik berkata, "Sesungguhnya Allah Mahatinggi dan Suci dari membuat perumpamaan-perumpamaan seperti ini," maka Allah menurunkan ayat 26 surah Al-Baqarah ini.
اَتَأْمُرُوْنَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ اَنْفُسَكُمْ وَاَنْتُمْ تَتْلُوْنَ الْكِتٰبَۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ
Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al-Kitab (Taurat) Maka tidakkah kamu berpikir

Asbabunnuzul

Ayat ini turun pada orang-orang Yahudi kota Madinah, seorang dari mereka mengatakan kepada keluarga istrinya, kerabatnya, dan semua yang antara ia dan mereka ada ikatan persusuan dari orang-orang muslim, "kokohlah di atas agamamu dan taatlah pada orang itu yakni Muhammad saw karena apa yang ia bawa adalah sesuatu yang benar," mereka menyuruh orang-orang untuk mengikuti Rasulullah saw akan tetapi mereka sendiri tidak melakukannya.
اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَالَّذِيْنَ هَادُوْا وَالنَّصٰرٰى وَالصَّابِـِٕيْنَ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ اَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْۚ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ
Sesungguhnya orang-orang mumin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Rabb mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) meereka bersedih hati.

Asbabunnuzul

Diriwayatkan dari Abu Hatim, dan Al-Adani dalam musnad-nya dari jalur Ibnu Abi Najih dari Mujahid berkata, "Saya bertanya kepada Nabi saw tentang penganut agama yang aku dahulu pernah menganutnya, maka aku menyebutkan shalat mereka dan ibadah mereka, maka turunlah ayat 62 surah Al-Baqarah ini.
وَاِذَا لَقُوا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قَالُوْٓا اٰمَنَّاۚ وَاِذَا خَلَا بَعْضُهُمْ اِلٰى بَعْضٍ قَالُوْٓا اَتُحَدِّثُوْنَهُمْ بِمَا فَتَحَ اللّٰهُ عَلَيْكُمْ لِيُحَاۤجُّوْكُمْ بِهٖ عِنْدَ رَبِّكُمْۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ
Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata:"Kamipun telah beriman", tetapi apabila mereka berada sesama mereka saja, lalu mereka berkata:"Apakah kamu menceritakan kepada mereka apa yang telah diterangkan Allah kepadamu, supaya dengan demikian mereka dapat mengalahkan hujjahmu di hadapan Rabb-mu; tidakkah kamu mengerti?".

Asbabunnuzul

Ayat ini turun pada orang-orang Yahudi yang masuk Islam, kemudian di dalam hati mereka terdapat kemunafikan, adalah mereka yang menceritakan kepada orang-orang mukmin tentang azab yang menimpa mereka, kemudian sebagian mereka berkata kepada sebagian lain, "apakah kalian menceritakan kepada mereka tentang apa yang telah Allah terangkan kepada kalian dari azab, agar mereka berkata, "kami lebih dicintai oleh Allah daripada kalian dan lebih mulia dari kalian."
فَوَيْلٌ لِّلَّذِيْنَ يَكْتُبُوْنَ الْكِتٰبَ بِاَيْدِيْهِمْ ثُمَّ يَقُوْلُوْنَ هٰذَا مِنْ عِنْدِ اللّٰهِ لِيَشْتَرُوْا بِهٖ ثَمَنًا قَلِيْلًاۗ فَوَيْلٌ لَّهُمْ مِّمَّا كَتَبَتْ اَيْدِيْهِمْ وَوَيْلٌ لَّهُمْ مِّمَّا يَكْسِبُوْنَ
Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya:"Ini dari Allah", (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan.

Asbabunnuzul

Ayat ini turun pada rahib-rahib Yahudi yang mereka mengetahui ciri-ciri Nabi Muhammad saw tertulis di dalam Taurat yaitu pelupuk di sekeliling matanya berwarna hitam, bertubuh sedang berambut ikal, dan berparas tampan. Mereka menghapusnya karena rasa dengki dan sifat mereka yang selalu melampaui batas, atau mereka berdusta dengan berkata, "kami menemukan ciri-cirinya sangat tinggi, berkulit biru dan berambut lurus." Al-Qurtubi berkata bahwasanya ciri-ciri Rasulullah saw di dalam kitab mereka tidak terlalu tinggi dan juga tidak terlalu pendek, berkulit agak kecokelatan, tetapi mereka menggantinya. Dan mereka berkata kepada sekutu-sekutu mereka, "lihatlah ciri-ciri Nabi Muhammad saw yang diutus pada akhir zaman tidak sesuai dengan yang ada di dalam Taurat." Adalah para rahib dan petinggi Yahudi yang mempunyai kekuasaan dan harta, mereka takut jika mereka menerangkan yang sebenarnya, semua kenikmatan yang mereka dapatkan hilang. Oleh karena itu, mereka mengubahnya dan turunlah ayat ini.
وَقَالُوْا لَنْ تَمَسَّنَا النَّارُ اِلَّآ اَيَّامًا مَّعْدُوْدَةًۗ قُلْ اَتَّخَذْتُمْ عِنْدَ اللّٰهِ عَهْدًا فَلَنْ يُّخْلِفَ اللّٰهُ عَهْدَهٗٓ اَمْ تَقُوْلُوْنَ عَلَى اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ
Dan mereka berkata:"Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja". Katakanlah:"Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan memungkiri janji-Nya, ataukah kamu hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui".

Asbabunnuzul

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari jalur Adh-Dhahhak, dari Ibnu Abbas ra bahwasanya orang-orang Yahudi berkata, "kami tidak akan masuk ke dalam neraka kecuali hanya sebentar, hari-hari dimana kami menyembah anak sapi hanya empat puluh malam, maka jika berlalu empat puluh hari, maka azab akan berhenti," maka ayat ini turun. Mereka meyakini telah mendapatkan di dalam Taurat tertulis bahwasanya antara dua ujung neraka jahanam sejauh perjalanan empat puluh tahun yang nanti mereka akan bermuara kepada poho Zaqum yang tumbuh di dasar neraka. Dan para musuh Allah berkata, "sesungguhnya kita disiksa di dalam neraka dan tidak disiksa lagi sampai pohon Zaqum, maka neraka jahanam menghilang dan binasa, dan perkataan mereka terdapat dalam firman Allah SWT ini.
وَلَمَّا جَاۤءَهُمْ كِتٰبٌ مِّنْ عِنْدِ اللّٰهِ مُصَدِّقٌ لِّمَا مَعَهُمْۙ وَكَانُوْا مِنْ قَبْلُ يَسْتَفْتِحُوْنَ عَلَى الَّذِيْنَ كَفَرُوْاۚ فَلَمَّا جَاۤءَهُمْ مَّا عَرَفُوْا كَفَرُوْا بِهٖۖ فَلَعْنَةُ اللّٰهِ عَلَى الْكٰفِرِيْنَ
Dan setelah datang kepada mereka al-Quran dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, lalu mereka ingkar kepadanya. Maka lanat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu.

Asbabunnuzul

Orang Yahudi Khaibar memerangi Bani Gathafan, maka setiap kali dua kelompok ini bertemu, orang-orang Yahudi kalah Maka orang-orang Yahudi meminta perlindungan dengan memanjatkan doa, "Ya Allah! kami memohon kepada-Mu dengan kebenaran Muhammad seorang Nabi yang ummi yang Engkau janjikan untuk Engkau utus kepada kami pada akhir zaman, berikanlah kemenangan kepada kami atas mereka." Maka setiap mereka bertemu dengan Bani Ghathfan, mereka mendapatkan kemenangan. Akan tetapi, ketika Nabi Muhammad saw diutus oleh Allah swt, mereka mengingkarinya. Makan Allah menurunkan ayat ini.
قُلْ اِنْ كَانَتْ لَكُمُ الدَّارُ الْاٰخِرَةُ عِنْدَ اللّٰهِ خَالِصَةً مِّنْ دُوْنِ النَّاسِ فَتَمَنَّوُا الْمَوْتَ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ
Katakanlah:"Jika kamu (menganggap bahwa) kampung akhirat (surga) itu khusus untukmu di sisi Allah, bukan untuk orang lain, maka inginilah kematian(mu), jika kamu memang benar.

Asbabunnuzul

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Abul Aliyah berkata bahwasanya orang-orang Yahudi berkata, "tidak akan pernah masuk surga kecuali orang-orang yang beragama Yahudi," maka Allah swt menurunkan ayat ini.
قُلْ مَنْ كَانَ عَدُوًّا لِّجِبْرِيْلَ فَاِنَّهٗ نَزَّلَهٗ عَلٰى قَلْبِكَ بِاِذْنِ اللّٰهِ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَهُدًى وَّبُشْرٰى لِلْمُؤْمِنِيْنَ
Katakanlah:"Barang siapa menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkan (al-Quran) ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman".

Asbabunnuzul

Imam Ahmad, At-Tirmdzi, dan An-Nasai meriwayatkan dari jalur Bukair bin Syihab, dari Said bin Jubair, dari Ibnu Abbas ra bahwasanya orang-orang Yahudi menemui Rasulullah saw dan berkata, "Wahai Ayahnya Al-Qasim! Sesungguhnya kami ingin mengajukan pertanyaan kepadamu tentang lima hal, jika engkau dapat menjawabnya, maka kami mengetahui bahwa engkau adalah Nabi." Lalu hadis ini menjelaskan bagaimana pertanyaan mereka dan jawaban Nabi saw tentang apa yang Bani Israil haramkan kepada diri mereka sendiri, tanda-tanda kenabian, guruh dan suaranya, bagaimana seorang anak berkelamin laki-laki atau perempuan, dan darimana ia mengetahui kabar langit. Setelah itu orang-orang Yahudi berkata, "Beritahu kepada kami siapa sahabatmu?" Rasulullah saw menjawab, "Jibril." Mereka berkata, "Jibril yang turun dengan peperangan, pertikaian, dan azab. Ia adalah musuh kami, jika engkau mengatakan Mikail yang turun dengan kasih sayang, tumbuh-tumbuhan, hujan, maka itu lebih baik." Maka kemudian ayat ini turun.
وَلَقَدْ اَنْزَلْنَآ اِلَيْكَ اٰيٰتٍۢ بَيِّنٰتٍۚ وَمَا يَكْفُرُ بِهَآ اِلَّا الْفٰسِقُوْنَ
Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu ayat-ayat yang jelas; dan tak ada yang ingkar kepadanya, melainkan orang-orang yang fasik.

Asbabunnuzul

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari jalur Said atau Ikrimah dari Ibnu Abbas ra, berkata: Ibnu Shuriya berkata kepada Nabi saw, "Wahai Muhammad! Sesungguhnya engkau datang dengan sesuatu yang kami tidak tahu, dan Allah tidak menurunkan kepadamu ayat-ayat yang jeas." Maka Allah menurunkan ayat, "Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu ayat-ayat yang jelas." (QS.2:99) Malik bin Ash-Shaif berkata, ketika Allah mengutus Rasulullah dan menyebutkan apa yang diambil dari mereka dari perjanjian, dan apa yang diikat janji dengan mereka pada Muhammad, "Demi Allah! Kami tidak diikat janji pada Muhammad, dan tidak diambil dari kami perjanjian," maka Allah menurunkan ayat berikutnya, "Dan setiap kali mereka mengikat janji." Yaitu surah Al-Baqarah ayat 100.
وَاتَّبَعُوْا مَا تَتْلُوا الشَّيٰطِيْنُ عَلٰى مُلْكِ سُلَيْمٰنَۚ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمٰنُ وَلٰكِنَّ الشَّيٰطِيْنَ كَفَرُوْا يُعَلِّمُوْنَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَآ اُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوْتَ وَمَارُوْتَۗ وَمَا يُعَلِّمٰنِ مِنْ اَحَدٍ حَتّٰى يَقُوْلَآ اِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْۗ فَيَتَعَلَّمُوْنَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُوْنَ بِهٖ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهٖۗ وَمَا هُمْ بِضَاۤرِّيْنَ بِهٖ مِنْ اَحَدٍ اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِۗ وَيَتَعَلَّمُوْنَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْۗ وَلَقَدْ عَلِمُوْا لَمَنِ اشْتَرٰىهُ مَا لَهٗ فِى الْاٰخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍۗ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهٖٓ اَنْفُسَهُمْۗ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ
Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (mengerjakan sihir), hanya setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaiu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan:"Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir". Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan ijin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Dan sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barang siapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya sendiri dengan sihir, kalau mereka mengetahui.

Asbabunnuzul

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Syahr bin Hausyab berkata, orang-orang Yahudi berkata: "Lihatlah kepada Muhammad yang mencampuradukkan antara yang benar dan yang salah, menyebutkan Sulaiman dari para Nabi, padahal Sulaiman adalah seorang penyihir yang dapat mengendarai angin." Maka Allah swt. menurunkan ayat, "Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan ..." (QS.2:102).
Dan diriwayatkan oleh Ibnu Hatim dari Abul Aliyah bahwasanya orang-orang Yahudi bertanya kepada Nabi saw tentang perkara yang ada di dalam Taurat, mereka tidak mengajukan pertanyaan kepada Nabi kecuali Allah menurunkan kepada Nabi saw, jawaban apa yang mereka tanyakan, maka nabi saw selalu menjawabnya, dan ketika mereka melihat hal tersebut, mereka berkata: "Orang ini lebih mengetahui daripada kita tentang apa yang diturunkan kepada kita." Dan sesungguhnya mereka bertanya kepada nabi saw tentang sihir dan mereka berselisih dengan nabi, maka Allah swt. menurunkan firman-Nya yaitu QS.2:102.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَقُوْلُوْا رَاعِنَا وَقُوْلُوا انْظُرْنَا وَاسْمَعُوْا وَلِلْكٰفِرِيْنَ عَذَابٌ اَلِيْمٌ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (Muhammad):"Raaina", tetapi katakanlah:"Unzhurna", dan "dengarlah". Dan bagi orang-orang yang kafir siksaan yang pedih.

Asbabunnuzul

Diriwayatkan dari Ibnul Mundzir dari As-Suddi bahwasanya, Ada dua orang Yahudi yang bernama Malik bin Ash-Shaif dan Rifaah bin Zaid apabila bertemu dengan nabi saw, maka mereka berdua mengucapkan kepada nabi, "raaina" (pendengaranmu dan dengarlah sedangkan kamu tidak mendengarnya). Kemudian orang-orang mukmin mengira bahwasanya kalimat yang dilontarkan orang-orang Yahudi kepada nabi saw ini adalah sebuah kalimat yang digunakan oleh Ahlul Kitab untuk mengagungkan nabi-nabi mereka, maka orang-orang mengucapkan kalimat tersebut kepada nabi saw, maka turunlah ayat ini, yaitu QS.2:104.
Juga diriwayatkan oleh Abu Nuaim dalam kitab Ad-Dalail dari jalur As-Suddi kecil dari Al-Kalbi dari Abi Shalih dari Ibnu Abbas ra, berkata bahwasanya ucapan Yahudi "raaina" adalah ejekan yang sangat jelek, maka ketika orang-orang Yahudi mendengar para sahabat nabi saw mengatakan kalimat tersebut kepada nabi saw, mereka memberitahu kepada semua orang kalimat tersebut. Dan orang-orang Yahudi mengatakan kalimat tersebut lalu tertawa satu sama lain diantara mereka, kemudian ayat ini turun. Setelah Saad bin Muadz mendengar kalimat tersebut, maka ia katakan kepada orang-orang Yahudi, "Wahai musuh-musuh Allah! Jika setelah ini aku masih mendengar kalimat tersebut keluar dari mulut salah satu dari kalian, maka akan aku tebas lehernya."
Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Adh-Dhahak berkata bahwasanya seorang dari Yahudi berkata kepada nabi saw, "Ar inii sam aka", maka turunlah ayat ini.
Diriwayatkan juga dari Athiyyah bahwasanya beberapa orang Yahudi berkata: "Ar inaa sam aka!" sehingga orang-orang mukmin mengikuti mengatakan kalimat tersebut, kemudian Allah swt melarang mereka untuk mengucapkan kalimat tersebut dengan turunnya ayat ini.
مَا نَنْسَخْ مِنْ اٰيَةٍ اَوْ نُنْسِهَا نَأْتِ بِخَيْرٍ مِّنْهَآ اَوْ مِثْلِهَاۗ اَلَمْ تَعْلَمْ اَنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
Apa saja ayat yang kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau sebanding dengannya. Tiadakah kamu mengetahui bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Asbabunnuzul

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari jalur Ikrimah dari Ibnu Abbas ra, ia mengatakan bahwasanya kemungkinan turun kepada nabi saw pada waktu malam hari dan lupa akan wahyu tersebut pada siang harinya, maka Allah menurunkan ayat ini.
Disebutkan pula oleh Al-Qurthubi, bahwasanya sebab turunnya ayat ini adalah karena adanya rasa dengki orang-orang Yahudi pada orang-orang mukmin ketika orang-orang mukmin kembali menghadap Kabah, dan orang-orang Yahudi menjelek-jelekkan Islam karena hal tersebut seraya berkata: "Sesungguhnya Muhammad memerintahkan para sahabatnya untuk melakukan sesuatu tetapi kemudian melarangnya, dan tidaklah Quran ini kecuali berasal dari Muhammad sehingga satu ayat dengan ayat lain bertentangan."
اَمْ تُرِيْدُوْنَ اَنْ تَسْـَٔلُوْا رَسُوْلَكُمْ كَمَا سُىِٕلَ مُوْسٰى مِنْ قَبْلُۗ وَمَنْ يَّتَبَدَّلِ الْكُفْرَ بِالْاِيْمَانِ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاۤءَ السَّبِيْلِ
Apakah kamu menghendaki untuk meminta kepada Rasul kamu seperti Bani Israil meminta kepada Musa pada zaman dahulu. Dan barang siapa yang menukar iman dengan kekafiran, maka sungguh orang itu telah sesat dari jalan yang lurus.

Asbabunnuzul

Dari Ibnu Abi Hatim dari jalur Said atau Ikrimah dari Ibnu Abbas ra, bahwasanya Rafi bin Huraimalah dan Wahab bin Zaid pernah berkata kepada Rasulullah saw: "Wahai Muhammad! Datangkanlah kepada kami kitab yang engkau turunkan kepada kami dari langit yang dapat kami baca, atau pancarkanlah untuk kami sungai-sungai, maka kami akan mengikutimu dan mempercayaimu," sehingga turunlah ayat ini yaitu surah Al-Baqarah ayat 108.
Ada dua orang yaitu Huyay bin Akhtab dan Abu Yasir bin Akhtab sangat benci dan dengki kepada orang-orang Arab. Hal ini Karena Allah telah mengutus rasul-Nya dari kalangan orang-orang Arab. Dan mereka berdua sangat gigih dan teguh dalam usaha menjauhkan setiap orang dari Islam, maka Allah menurunkan firman-Nya mengenai hal ini. Yaitu surah Al-Baqarah ayat 109.
Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Mujahid berkata bahwasanya orang-orang Quraisy meminta kepada nabi saw untuk mengubah bukit Shafa menjadi emas, maka rasulullah saw menjawab: "Ya, dan itu bagi kalian seperti hidangan Bani Israil jika kalian kafir." Maka mereka menolak dan kembali. Lalu turunlah firman Allah swt sebagaimana yang tertuang dalam surah Al-Baqarah ayat 108.
Diriwayatkan dari As-Suddi, ia berkata bahwasanya orang-orang Arab meminta kepada nabi saw supaya dapat mendatangkan Allah, agar mereka dapat melihat-Nya secara langsung, maka turunlah ayat ini.
وَقَالَتِ الْيَهُوْدُ لَيْسَتِ النَّصٰرٰى عَلٰى شَيْءٍۖ وَّقَالَتِ النَّصٰرٰى لَيْسَتِ الْيَهُوْدُ عَلٰى شَيْءٍۙ وَّهُمْ يَتْلُوْنَ الْكِتٰبَۗ كَذٰلِكَ قَالَ الَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ مِثْلَ قَوْلِهِمْۚ فَاللّٰهُ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ فِيْمَا كَانُوْا فِيْهِ يَخْتَلِفُوْنَ
Dan orang-orang Yahudi berkata:"Orang-orang Nasrani itu tidak punya suatu pegangan", dan orang-orang Nasrani berkata:"Orang-orang Yahudi tidak mempunyai sesuatu pegangan", padahal mereka (sama-sama) membaca Al-Kitab. Demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui, mengucapkan seperti ucapan mereka itu. Maka Allah akan mengadili diantara mereka pada hari kiamat, tentang apa-apa yang mereka berselisih padanya.

Asbabunnuzul

Diriwayatkan dari Ibnu Abi Hatim dari jalur Said atau Ikrimah dari Ibnu Abbas ra, berkata bahwasa ketika orang-orang Nashrani dari Najran datang menemui Rasulullah saw, datang pula rahib-rahib dari golongan orang-orang Yahudi, kemudian kedua kelompok ini bertikai, maka Rafi bin Huraimalah dari golongan Yahudi berkata kepada orang-orang Nashrani: "Sesungguhnya kalian tidak mempunyai suatu pegangan." lalu ia mengingkari nabi Isa dan Injil. Maka seorang dari Nashrani berkata pula kepada orang-orang Yahudi: "Sesungguhnya kalian yang tidak mempunyai suatu pegangan," lalu ia juga mengingkari kenabian Musa dan juga mengingkari Taurat. Sehingga dalam perkara ini Allah swt menurunkan ayat ini. Yaitu surah Al-Baqarah ayat 113.
وَمَنْ اَظْلَمُ مِمَّنْ مَّنَعَ مَسٰجِدَ اللّٰهِ اَنْ يُّذْكَرَ فِيْهَا اسْمُهٗ وَسَعٰى فِيْ خَرَابِهَاۗ اُولٰۤىِٕكَ مَا كَانَ لَهُمْ اَنْ يَّدْخُلُوْهَآ اِلَّا خَاۤىِٕفِيْنَەۗ لَهُمْ فِى الدُّنْيَا خِزْيٌ وَّلَهُمْ فِى الْاٰخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيْمٌ
Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalang-halangi menyebut nama Allah dalam masjid-masjid-Nya, dan berusaha untuk merobohkannya? Mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya (masjid Allah), kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). Mereka di dunia mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat siksa yang berat.

Asbabunnuzul

Diriwayatkan dari Ibnu Abi Hatim dari jalur yang sama pada ayat sebelumnya, bahwasanya orang-orang Quraisy melarang nabi saw melaksanakan salat di Kabah Masjidil Haram, maka Allah swt menurunkan firman-Nya dalam ayat ini, yaitu surah Al-Baqarah ayat 114.
Dan juga diriwayatkan dari Ibnu Jarir, dari Ibnu Zaid, ia berkata bahwasanya ayat ini turun pada orang-orang musyrik ketika mereka melarang dan menghadang nabi saw untuk masuk ke kota Makkah pada saat hari Al-Hudaibiyah.
Dalam Ibnu Katsir diakatakan bahwasanya kami diberitahukan oleh Mamar, dari Qatadah dalam firman Allah: "Dan berusaha untuk merobohkannya." Dikatakan bahwasanya orang itu adalah Bakhtanshir dan sahabatnya yang ingin merobohkan Baitul Maqdis dan mereka dibantu oleh orang-orang Nashrani.
وَلِلّٰهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ فَاَيْنَمَا تُوَلُّوْا فَثَمَّ وَجْهُ اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ
Dan kepunyaan Allah-lah Timur dan Barat, maka ke manapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.

Asbabunnuzul

Diriwayatkan oleh Imam Muslim, Tirmidzi dan Nasai, dari Ibnu Umar berkata bahwasanya nabi saw salat sunnah (tathawwu) di atas tunggangannya menghadap kemanapun tunggangannya tersebut menuju, dan ia dari Makkah menuju Madinah, kemudian Umar membaca firman Allah swt, "Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat." kemudian berkata bahwa dalam perkara inilah ayat ini turun.
Diriwayatkan dari Al-Hakim dari Ibnu Umar berkata bahwasaya diturunkannya ayat, "maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah." Hal ini supaya engkau shalat tathawwu kemana pun tungganganmu menuju."
Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim dari jalur Ali bin Abi Thalhah, dari Ibnu Abbas ra, bahwasanya rasulullah saw ketika berhijrah menuju Madinah, Allah swt memerintahkan nabi saw untuk menghadap kiblat ke arah Baitul Maqdis, maka orang-orang Yahudi merasa senang, dan nabi menghadap ke Baitul Maqdis selama sepuluh bulan lebih, dan rasulullah saw sangat mencintai kiblatnya nabi Ibrahim as yaitu Kabah. Dan nabi saw selalu berdoa dan menengadahkan pandangannya ke langit maka Allah menurunkan ayat: "Maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram." Lalu orang-orang Yahudi terheran-heran dan berkata, "apakah yang memalingkan orang-orang muslim dari kiblatnya Baitul Maqdis yang dahulu mereka berkiblat kepadanya?" Maka Allah menurunkan ayat-Nya : "Katakanlah, kepunyaan Allah-lah Timur dan Barat." Dan Allah swt berfirman: "Maka Kemanapun kamu menghdapat di situlah wajah Allah." Sanad hadis ini kuat, dan makna hadis ini menguatkannya juga. Maka dari itu, hadis inilah yang dijadikan sandaran.
وَقَالَ الَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ لَوْلَا يُكَلِّمُنَا اللّٰهُ اَوْ تَأْتِيْنَآ اٰيَةٌۗ كَذٰلِكَ قَالَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ مِّثْلَ قَوْلِهِمْۗ تَشَابَهَتْ قُلُوْبُهُمْۗ قَدْ بَيَّنَّا الْاٰيٰتِ لِقَوْمٍ يُّوْقِنُوْنَ
Dan orang-orang yang tidak mengetahui berkata:"Mengapa Allah tidak (langsung) berbicara dengan kami atau datang tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada kami". Demikian pula orang-orang yang sebelum mereka telah mengatakan seperti ucapan itu; hati mereka serupa. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kekuasaan Kami kepada kaum yang yakin.

Asbabunnuzul

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim dari jalur Said atau Ikrimah dari Ibnu Abbas berkata bahwasanya Rafi bin Huraimalah berkata kepada rasulullah saw: "Jika engkau adalah utusan Allah seperti apa yang engkau katakan, maka katakanlah kepada Allah agar berbicara langsung kepada kami hingga kami dapat mendengar suara-Nya." Maka Allah menurunkan ayat ini, yaitu surah Al-Baqarah ayat 118.
اِنَّآ اَرْسَلْنٰكَ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَّنَذِيْرًاۙ وَّلَا تُسْـَٔلُ عَنْ اَصْحٰبِ الْجَحِيْمِ
Sesungguhnya Kami telah mengutus (Muhammad) dengan kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan kamu tidak akan diminta (pertanggungjawaban) tentang penghuni-penghuni neraka.

Asbabunnuzul

Berkata Abdullah bin Razaq, At-Tsauri memberitahu kepada kami, dari Musa bin Ubaidah, dari Muhammad bin Kaab al-Qurazhi berkata, Rasulullah saw bersabda: "Seandainya aku dapat merasakan apa yang dilakukan oleh kedua orangtuaku." Maka turunlah ayat ini, yaitu surah Al-Baqarah ayat 119. Maka Rasulullah saw tidak menyebut keduanya hingga beliau wafat. Hadis mursal.
Dan diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari jalur Ibnu Juraij berkata, aku diberitahu oleh Dawud bin Abi Ashim bahwasanya pada suatu hari nabi saw bersabda: "Dimana kedua orangtuaku?" Maka ayat ini turun, dan riwayat ini pun juga mursal.
وَلَنْ تَرْضٰى عَنْكَ الْيَهُوْدُ وَلَا النَّصٰرٰى حَتّٰى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْۗ قُلْ اِنَّ هُدَى اللّٰهِ هُوَ الْهُدٰىۗ وَلَىِٕنِ اتَّبَعْتَ اَهْوَاۤءَهُمْ بَعْدَ الَّذِيْ جَاۤءَكَ مِنَ الْعِلْمِۙ مَا لَكَ مِنَ اللّٰهِ مِنْ وَّلِيٍّ وَّلَا نَصِيْرٍ
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu sehingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah:"Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.

Asbabunnuzul

Diriwayatkan oleh Ats-Tsalabi dari Ibnu Abbas ra, bahwasanya orang-orang Yahudi di Madinah dan orang-orang Nasrani dari Najran mengharapkan Rasulullah saw shalat menghadap ke kiblat mereka, maka tatkala Allah memindahkan kiblat ke arah Kabah, mereka merasa sakit hati dan mereka putus asa untuk membuat Rasulullah saw sepakat atas agama mereka, maka Allah pun menurunkan ayat ini.
وَاِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِّلنَّاسِ وَاَمْنًاۗ وَاتَّخِذُوْا مِنْ مَّقَامِ اِبْرٰهٖمَ مُصَلًّىۗ وَعَهِدْنَآ اِلٰٓى اِبْرٰهٖمَ وَاِسْمٰعِيْلَ اَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّاۤىِٕفِيْنَ وَالْعٰكِفِيْنَ وَالرُّكَّعِ السُّجُوْدِ
Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail:"Bersihkanlah rumah-ku untuk orang-orang yang thawaf, yang itikaf, yang ruku, dan yang sujud.

Asbabunnuzul

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Anas bin Malik, berkata Umar bin Al-Khathab: "Aku memiliki pemikiran yang aku ingin jika itu dikabulkan oleh Rabbku dalam tiga persoalan. Maka aku sampaikan kepada Rasulullah saw, Wahai Rasulullah, seandainya Maqam Ibrahim kita jadikan sebagai tempat shalat? Lalu turunlah ayat: (Dan jadikalah sebahagian maqam Ibrahim sebagai tempat shalat. Al-Baqarah: 125). Yang kedua tentang hijab. Aku lalu berkata, wahai Rasulullah, seandainya Tuan perintahkan isteri-isteri tuan untuk berhijab karena yang berkomunikasi dengan mereka ada orang yang salih dan juga ada yang fajir (suka bermaksiat). Maka turunlah ayat hijab. Dan yang ketiga, saat istri-istri beliau cemburu kepada beliau (sehingga banyak yang membangkang), aku katakan kepada mereka, Semoga bila Beliau menceraikan kalian Rabbnya akan menggantinya dengan isteri-isteri yang lebih baik dari kalian. Maka turulah ayat tentang masalah ini. (Hadis Bukhari No. 387. Dan No. 402 Versi Fathul Bari)
Juga diriwayatkan oleh Muslim, bahwasanya Umar bin Khaththab pernah berkata: "Sesungguhnya pendapatku pernah disetujui oleh Allah swt dalam tiga hal, yaitu tentang maqam Ibrahim, tentang peristiwa hijab dan tentang tawanan prang Badar." (Hadis Muslim No. 4412)
وَمَنْ يَّرْغَبُ عَنْ مِّلَّةِ اِبْرٰهٖمَ اِلَّا مَنْ سَفِهَ نَفْسَهٗۗ وَلَقَدِ اصْطَفَيْنٰهُ فِى الدُّنْيَاۚ وَاِنَّهٗ فِى الْاٰخِرَةِ لَمِنَ الصّٰلِحِيْنَ
Dan orang yang membenci agama Ibrahim, hanyalah orang yang memperbodoh dirinya sendiri. Dan sungguh, Kami telah memilihnya (Ibrahim) di dunia ini. Dan sesungguhnya di akhirat dia termasuk orang-orang yang salih.

Asbabunnuzul

Ibnu Uyainah berkata, diriwayatkan bahwasanya Abdullah bin Salam mengajak dua anak saudaranya yaitu Salamah dan Muhajir untuk masuk Islam, ia berkata kepada kedua anak tersebut, "Sesungguhnya kalian berdua telah mengetahui bahwasanya Allah swt berfirman dalam Taurat," "Sesungguhnya Aku mengutus dari anak Ismail seorang nabi yang bernama Ahmad, maka barangsiapa yang beriman kepadanya, maka ia telah diberi hidayat dan petunjuk, dan barang siapa yang tidak beriman kepadanya, maka ia adalah terlaknat," maka Salamah masuk Islam dan Muhajir menolak, maka turunlah ayat ini.
Ibnu Katsir, Abul Aliyah dan Qatadah berkata, bahwasanya ayat ini turun pada orang-orang Yahudi yang memunculkan jalan baru yang bukan dari sisi Allah, dan mereka menyelisihi agama Ibrahim dalam apa yang mereka munculkan.
وَقَالُوْا كُوْنُوْا هُوْدًا اَوْ نَصٰرٰى تَهْتَدُوْاۗ قُلْ بَلْ مِلَّةَ اِبْرٰهٖمَ حَنِيْفًاۗ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ
Dan mereka berkata:"Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk". katakanlah:"Tidak, melainkan (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus. Dan bukanlah dia (Ibrahim) dari golongan orang musyrik".

Asbabunnuzul

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari jalur Said atau Ikrimah, dari Ibnu Abbas ra, berkatanya bahwasanya Ibnu Shurya berkata kepada nabi saw, "Tidak ada satu pun petunjuk kecuali kami ada di atas petunjuk tersebut, maka ikutilah kami wahai Muhammad, kamu akan mendapatkan petunjuk." Dan orang-orang Nashrani juga berkata seperti itu, maka Allah menurunkan ayat ini.
سَيَقُوْلُ السُّفَهَاۤءُ مِنَ النَّاسِ مَا وَلّٰىهُمْ عَنْ قِبْلَتِهِمُ الَّتِيْ كَانُوْا عَلَيْهَاۗ قُلْ لِّلّٰهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُۗ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ
Orang-orang yang kurang akalnya di antara manusia akan berkata :"Apakah yang memalingkan mereka (ummat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?". Katakanlah :"Kepunyaan Allah-lah Timur dan Barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus".

Asbabunnuzul

Ibnu Ishaq berkata, Isamail bin Khalid bercerita kepadaku, dari Abi Ishaq dari Al-Barra berkata, adalah Rasulullah saw melaksanakan salat dengan menghadap ke Baitul Maqdis, dan ia sering menengadahkan pandangannya ke langit menunggu perintah Allah, maka Allah menurunkan ayat yang berbunyi: "Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit," maka seorang pria dari kaum muslim berkata, "keinginan kami adalah jika saja kami dapat mengetahui siapa saja akan meninggal dari kami sebelum kami menghadap kiblat (Kabah), dan bagaimana dengan salat kami ketika menghadap ke arah Baitul Maqdis." Maka Allah menurunkan ayat: "Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu."
Orang-orang bodoh berkata, "apa yang membuat mereka membelot dari kiblat mereka yang sebelumnya mereka berkiblat kepadanya?" maka Allah menurunkan ayat : "Orang-orang yang kurang akalnya diantara manusia akan berkata: Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?" sampai akhir ayat 142 surah Al-Baqarah. Disebutkan oleh Ibnu Katsir dan Al-Qurthubi, berkata bahwasanya orang-orang sufaha (bodoh) adalah mereka orang-orang Yahudi. Sufaha adalah bentuk jamak dari safih yang berarti orang-orang yang mempunyai akal rendah.

وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِۗ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ شَطْرَهٗۙ لِئَلَّا يَكُوْنَ لِلنَّاسِ عَلَيْكُمْ حُجَّةٌ اِلَّا الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مِنْهُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِيْ وَلِاُتِمَّ نِعْمَتِيْ عَلَيْكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَۙ
Dan dari mana saja kamu berangkat, maka palingkanlah wajahmu ke Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak hujjah manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang zalim di antara mereka. Maka janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Dan agar Kusempurnakan nikmat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk.

Asbabunnuzul

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari jalur As-Suddi dengan sanad-sanadnya, mengatakan bahwasanya ketika nabi saw diperintahkan untuk menghadap ke arah Kabah setelah ia melaksanakan salat menghadap ke Baitul Maqdis, orang-orang Musyrik Makkah berkata, "Muhammad dalam keadaan bingung dengan agamanya, maka ia menghadap kiblat ke arah kalian, dan ia mengetahui bahwa kalian lebih diberi petunjuk daripada dirinya, dan hampir saja ia masuk ke dalam agama kalian." Maka Allah menurunkan ayat yang berbunyi: "Agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu."

وَلَا تَقُوْلُوْا لِمَنْ يُّقْتَلُ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ اَمْوَاتٌۗ بَلْ اَحْيَاۤءٌ وَّلٰكِنْ لَّا تَشْعُرُوْنَ
Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.

Asbabunnuzul

Diriwayatkan oleh Ibnu Mandah di dalam kitab Marifah Ash-Shahabah dari jalur As-Suddi kecil, dari Al-Kalbi, dari Abu Shalih, dari Ibnu Abbas ra, berkata, bahwasanya Tamim bin Al-Humam terbunuh ketika perang Badr, maka padanya dan selainnya turunlah ayat ini.
Dan disebutkan oleh Al-Wahidi, bahwasanya mereka adalah orang-orang dari kaum muslimin yang terbunuh dalam perang Badar.
اِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَاۤىِٕرِ اللّٰهِۚ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ اَوِ اعْتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ اَنْ يَّطَّوَّفَ بِهِمَاۗ وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًاۙ فَاِنَّ اللّٰهَ شَاكِرٌ عَلِيْمٌ
Sesungguhnya Shafa dan Marwa adalah sebagian dari syiar Allah. Maka barang siapa yang beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sai di antara keduanya. Dan barang siapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui.

Asbabunnuzul

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari, berkata, Urwah: Aku bertanya kepada Aisyah ra, kataku kepadanya: "Bagaimana pendapatmu tentang firman Allah Taala (QS Al Baqarah 158) yang artinya: ("Sesungguhnya Ash-Shafaa dan Al Marwah adalah sebahagian dari syiar-syiar Allah, maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan saiy antara keduanya"), dan demi Allah tidak ada dosa bagi seseorang untuk tidak ber thawaf (saiy) antara bukit Ash-Shafaa dan Al Marwah". Aisyah radliallahu anha berkata: "Buruk sekali apa yang kamu katakan itu wahai putra saudariku. Sesungguhnya ayat ini bila tafsirannya menurut pendapatmu tadi berarti tidak berdosa bila ada orang yang tidak melaksanakan saiy antara keduanya. Akan tetapi ayat ini turun berkenaan dengan Kaum Anshar, yang ketika mereka belum masuk Islam, mereka berniat hajji untuk patung Manat Sang Thoghut yang mereka sembah di daerah Al Musyallal. Waktu itu, barangsiapa yang berniat hajji, dia merasa berdosa bila harus saiy antara bukit Ash-Shafaa dan Al Marwah (karena demi menghormatii patung mereka itu). Setelah mereka masuk Islam, mereka bertanya kepada Rasulullah Shallallahualaihiwasallam tentang masalah itu, mereka berkata: "Wahai Rasulullah, kami merasa berdosa bila melaksanakan saiy antara bukit Ash-Shafaa dan Al Marwah". Maka kemudian Allah Taala menurunkan ayat ("Sesungguhnya Ash-Shafaa dan Al Marwah adalah sebahagian dari syiar-syiar Allah"). Aisyah radliallahu anha berkata: "Sungguh Rasulullah Shallallahualaihiwasallam telah mencontohkan saiy antara kedua bukit tersebut dan tidak boleh seorangpun untuk meninggalkannya". Kemudian aku kabarkan hal ini kepada Abu Bakar bin Abdurrahman, maka katanya: "Sungguh ini suatu ilmu yang aku belum pernah mendengar sebelumnya, padahal aku sudah mendengar dari orang-orang ahli ilmu yang menyebutkan bahwa diantara manusia, selain orang-orang yang diterangkan oleh Aisyah radliallahu anha itu, ada yang dahulu melaksanakan ihram untuk Manat, mereka juga melaksanakan saiy antara bukit Ash-Shafaa dan Al Marwah. Ketika Allah menyebutkan thawaf di Kabah Baitullah tapi tidak menyebut saiy antara bukit Ash-Shafaa dan Al Marwah dalam Al Quran, mereka bertanya kepada: "Wahai Rasulullah, dahulu kami melaksanakan thawaf (saiy) antara bukit Ash-Shafaa dan Al Marwah dan Allah telah menurunkan ayat tentang thawaf di Kabah Baitullah tanpa menyebut Ash-Shafaa, apakah berdosa bagi kami bila kami saiy antara bukit Ash-Shafaa dan Al Marwah?". Maka Allah Taala menurunkan ayat ("Sesungguhnya Ash-Shafaa dan Al Marwah adalah sebahagian dari syiar Allah"). Abu Bakar bin Abdurrahman berkata: "Maka aku mendengar bahwa ayat ini turun untuk dua golongan orang yaitu golongan orang-orang yang merasa berdosa karena pernah melaksanakan sai antara bukit Ash-Shafaa dan Al Marwah saat mereka masih jahiliyyah (karena pernah melaksanakan untuk patung Manat), dan golongan orang-orang yang pernah melaksanakannya namun merasa berdosa bila melaksanakannya kembali setelah masuk Islam karena Allah pada mulanya hanya menyebutkan thawaf di Kabah Baitullah dan tidak menyebut Ash-Shafaa hingga kemudian Dia menyebutkannya setelah memerintahkan thawaf di Kabah Baitullah".
اِنَّ الَّذِيْنَ يَكْتُمُوْنَ مَآ اَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنٰتِ وَالْهُدٰى مِنْۢ بَعْدِ مَا بَيَّنّٰهُ لِلنَّاسِ فِى الْكِتٰبِۙ اُولٰۤىِٕكَ يَلْعَنُهُمُ اللّٰهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللّٰعِنُوْنَۙ
Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati,

Asbabunnuzul

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim dari jalur Said atau Ikrimah dari Ibnu Abbas ra, berkata, bahwasanya Muadz bin Jabal, Saad bin Muadz, dan Kharijah bin Zaid bertanya kepada beberapa orang dari rahib Yahudi tentang beberapa hal yag ada di dalam Taurat, tetapi mereka merahasiakannya dan tidak ingin menjawab pertanyaan tersebut. Maka Allah menurunkan ayat ini dalam perkara rahib tersebut.
اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِيْ تَجْرِيْ فِى الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ مِنَ السَّمَاۤءِ مِنْ مَّاۤءٍ فَاَحْيَا بِهِ الْاَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيْهَا مِنْ كُلِّ دَاۤبَّةٍۖ وَّتَصْرِيْفِ الرِّيٰحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّعْقِلُوْنَ
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.

Asbabunnuzul

Diriwayatkan oleh Said bin Mansur dalam kitab Sunan-nya, dan Al-Firyabi dalam Tafsir-Nya, dan Al-Baihaqi dalam Syuab Al-Iman, dari Abu Dhuha, bahwasanya ketika ketika turun ayat "Dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Esa, tidak ada Tuhan melainkan Dia, yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang," Al-Baqarah ayat 163. Maka orang-orang musyrik terheran-heran dan berkata, "Tuhan yang satu, jika ia memang benar, maka datangkanlah kepada kami tandanya!" Maka Allah menurunkan ayat berikutnya Al-Baqarah ayat 164.
Diriwayatkan pula oleh Ibnu Abi Hatim dan Abu Asy-Syaikh dalam kitab Al-Adzamah dari Atha berkata bahwasanya ketika turun kepada nabi saw ayat "Dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Esa, tidak ada Tuhan melainkan Dia, yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang," Al-Baqarah ayat 163. Maka orang-orang kafir Quraisy di kota Makkah berkata, "Bagaimana satu Tuhan dapat mencakup seluruh manusia?" Maka Allah menurunkan ayat berikutnya, yaitu Al-Baqarah ayat 164.
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Mardawaih dari jalur yang jayyid dan maushul dari Ibnu Abbas ra, berkata bahwasanya orang-orang Quraisy berkata kepada nabi saw, "Mintalah kepada Allah agar Dia memberikan emas seluas Shafa agar kita bisa memperkuat diri dari musuh kita!" Maka Allah swt mewahyukan kepada nabi bahwa Allah akan memberikannya, akan tetapi jika mereka setelah itu kafir kepada Allah, maka Allah akan mengadzab dengan adzab yang belum pernah Allah timpakan kepada siapa pun sebelumnya, maka Nabi saw bersabda: "Tuhanku, biarkan aku dengan kaumku agar aku dapat mendakwahi mereka hari demi hari, maka Allah menurunkan ayat 164 dalam surah Al-Baqarah ini.
وَاِذَا قِيْلَ لَهُمُ اتَّبِعُوْا مَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ قَالُوْا بَلْ نَتَّبِعُ مَآ اَلْفَيْنَا عَلَيْهِ اٰبَاۤءَنَاۗ اَوَلَوْ كَانَ اٰبَاۤؤُهُمْ لَا يَعْقِلُوْنَ شَيْـًٔا وَّلَا يَهْتَدُوْنَ
Dan apabila dikatakan kepada mereka:"Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah". Mereka menjawab:"(Tidak) tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami". "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk".

Asbabunnuzul

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari jalur Said atau Ikrimah dari Ibnu Abbas, bahwasanya rasulullah saw mengajak orang-orang Yahudi untuk mengikuti Islam dan mencintai Islam, dan memperingatkan mereka akan azab dan murka Allah. namun Rafi bin Huraimalah dan Malik bin Auf dari kalangan Yahudi berkata, "Kami hanya mengikuti apa yang kami dapatkan dari nenek moyang kami karena mereka lebih tahu dan lebih baik daripada kami. Maka turunlah ayat ini.
Al-Qurthubi menyebukan bahwasanya orang-orang musyrik Arab diperdayakan pikiran mereka yang sangat bodoh leh kejahlan sehingga mereka meyakini Bahirah, Saibah dan Washilah. Dan ini juga disebutkan oleh Ibnu Katsir yang menisbatkannya kepada Ibnu Ishaq.
اِنَّ الَّذِيْنَ يَكْتُمُوْنَ مَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ مِنَ الْكِتٰبِ وَيَشْتَرُوْنَ بِهٖ ثَمَنًا قَلِيْلًاۙ اُولٰۤىِٕكَ مَا يَأْكُلُوْنَ فِيْ بُطُوْنِهِمْ اِلَّا النَّارَ وَلَا يُكَلِّمُهُمُ اللّٰهُ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ وَلَا يُزَكِّيْهِمْۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ
Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa-apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al-Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada Hari Kiamat dan tidak mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih.

Asbabunnuzul

Diriwayatkan oleh Ats-Tsalabi dari jalur al-Kalbi, dari Abi Salih dari Ibnu Abbas ra, berkata bahwasanya ayat ini turun pada petinggi-petinggi dan ulama-ulama Yahudi, adalah mereka mendapatkan hadiah dan keutamaan dari orang-orang bawahan mereka, dan mereka sangat mengharapkan bahwa nabi diutus dari kaum mereka, maka ketika Allah mengutus Muhammad saw yang bukan dari mereka, mereka merasa takut akan kehilangan makanan dan kepemimpinan mereka, maka mereka sengaja untuk merubah ciri-ciri nabi Muhammad (yang terdapat di dalam Taurat), kemudian mengatakan kepada orang-orang dan berkata. "Ini adalah ciri-ciri seorang nabi yang turun pada akhir zaman tidak menyerupai ciri-ciri nabi Muhammad," maka Allah menurunkan ayat ini.
لَيْسَ الْبِرَّ اَنْ تُوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَالْمَلٰۤىِٕكَةِ وَالْكِتٰبِ وَالنَّبِيّٖنَۚ وَاٰتَى الْمَالَ عَلٰى حُبِّهٖ ذَوِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِۙ وَالسَّاۤىِٕلِيْنَ وَفِى الرِّقَابِۚ وَاَقَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّكٰوةَۚ وَالْمُوْفُوْنَ بِعَهْدِهِمْ اِذَا عَاهَدُوْاۚ وَالصّٰبِرِيْنَ فِى الْبَأْسَاۤءِ وَالضَّرَّاۤءِ وَحِيْنَ الْبَأْسِۗ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ صَدَقُوْاۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُتَّقُوْنَ
Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah Timur dan Barat itu suatu kebaktian, akan tetapi sesungguhnya kebaktian itu ialah beriman kepada Allah, Hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa.

Asbabunnuzul

Dari Qatadah, ia berkata bahwasanya orang-orang Yahudi menunaikan ibadah dengan menghadap ke barat, dan orang-orang Nasrani melaksanakannya dengan menghadap timur, maka turunlah ayat ini. Ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Abul Aliyah.
Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnul Mundzir dari Qatadah berkata, diceritakan kepada kami bahwasanya ada seorang sahabat bertanya kepada nabi saw tentang kebajikan, lalu Allah menurunkan ayat ini. Dan nabi pun memanggil orang tersebut dan membacakan ayat ini.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِى الْقَتْلٰىۗ اَلْحُرُّ بِالْحُرِّ وَالْعَبْدُ بِالْعَبْدِ وَالْاُنْثٰى بِالْاُنْثٰىۗ فَمَنْ عُفِيَ لَهٗ مِنْ اَخِيْهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ ۢبِالْمَعْرُوْفِ وَاَدَاۤءٌ اِلَيْهِ بِاِحْسَانٍۗ ذٰلِكَ تَخْفِيْفٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَرَحْمَةٌۗ فَمَنِ اعْتَدٰى بَعْدَ ذٰلِكَ فَلَهٗ عَذَابٌ اَلِيْمٌ
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) mambayar (diat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Rabb kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampui batas sesudah itu maka baginya siksa yang sangat pedih.

Asbabunnuzul

Diriwayatkan dari Ibnu Abi Hatim dari Said bin Jubair, ia berkata bahwa sebelum datangnya Islam, dua kelompok dari orang Arab suka saling berperang, antara mereka banyak yang berguguran dan terluka hingga mereka membunuh hamba sahaya dan wanita, dan mereka tidak mengambil apa pun dari itu hingga mereka masuk ke dalam Islam, dan satu dari dua kelompok tersebut berlomba-lomba memperbanyak harta dan jumlah mereka, dan bersumpah untuk tidak merasa puas hingga orang yang merdeka membunuh budak dan perempuan mereka, maka mengenai hal ini Allah menurunkan ayat ini.
وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۙ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.

Asbabunnuzul

Ibnu Jarir meriwayatkan bahwasanya seorang Arab badui mendatangi nabi saw seraya berkata, "Apakah Tuhan kita dekat hingga kita bermunajat kepadan-Nya ataukah jauh hingga kita mesti memanggil-Nya?" Lalu rasulullah pun terdiam, sampai Allah menurunkan ayat ini.
Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq bahwasanya para sahabat bertanya kepada rasulullah saw, "Dimanakah Tuhan kita berada?" maka Allah menurunkan ayat ini.
Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dari Ali bin Abi Thalib, ia berkata, Rasulullah saw bersabda, "Janganlah lupa untuk selalu berdoa, sesugguhnya Allah telah menurunkan ayat-Nya kepadaku, "memohonlah kepada-Ku, maka Aku kabulkan permohonan kalian." Lalu salah seorang sahabat bertanya, "Ya Rasulallah! Apakah Tuhan kita mendengar permohonan ataukah bagaimana?" Maka Allah menurunkan ayat yang berbunyi, "Dan apabila hamba-hambu-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat."
اُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ اِلٰى نِسَاۤىِٕكُمْۗ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَاَنْتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّۗ عَلِمَ اللّٰهُ اَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُوْنَ اَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْۚ فَالْـٰٔنَ بَاشِرُوْهُنَّ وَابْتَغُوْا مَا كَتَبَ اللّٰهُ لَكُمْۗ وَكُلُوْا وَاشْرَبُوْا حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْاَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْاَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِۖ ثُمَّ اَتِمُّوا الصِّيَامَ اِلَى الَّيْلِۚ وَلَا تُبَاشِرُوْهُنَّ وَاَنْتُمْ عَاكِفُوْنَۙ فِى الْمَسٰجِدِۗ تِلْكَ حُدُوْدُ اللّٰهِ فَلَا تَقْرَبُوْهَاۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ اٰيٰتِهٖ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُوْنَ
Dihalalkan bagi kamu pada malam hari puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu, mereka itu adalah pakaian, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasannya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam,(tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beritikaf dalam mesjid. Itulah larangang Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertaqwa.

Asbabunnuzul

Diriwayatkan dari Ahmad, Abu Daud dan Al-Hakim, melalui jalur Abdurrahman bin Abi Laila dari Muadz bin Jabal, berkata bahwasanya dulu kaum muslimin makan, minum dan menggauli istrinya apabila tidak tidur. Dan apabila mereka tidur, mereka tidak melakukannya, kemudian ada seorang lelaki Anshar yang bernama Qais bin Shormah setelah melakukan salat Isya, ia tidur dan tidak makan dan juga tidak minum sampai pagi, maka ia pun dalam keadaan lemah. Dan Umar menggauli istrinya setelah ia bangun dari tidurnya, maka diceritakanlah hal itu semua kepada nabi saw, maka turunlah ayat ini.
Diriwayatkan Oleh Imam Bukhari dari Barra berkata bahwasanya para sahabat nabi saw jika seseorang diantara mereka berpuasa kemudian tertidur sebelum waktu berbuka tiba, maka ia tidak makan di malam dan juga siang harinya sampai petang hari. Dan Qais bin Shormah seorang Anshor berpuasa dan ketika waktu berbuka tiba, ia mendatangi isterinya seraya berkata, "apakah kamu punya makanan?" Isterinya menjawab, "Tidak, tapi aku akan mencarinya untukmu." Lalu di siang harinya dia bekerja keras hingga mengantuk lalu tertidur. Ketika isterinya melihat dia sedang tertidur, isterinya berkata, "Rugilah kamu!" Maka pada tengah harinya Qais jatuh pingsan. Lalu persoalan ini diadukan kepada nabi saw, makan turunlah ayat ini.
Diriwayatkan lagi oleh Imam Bukhari dari Barra, bahwasanya ketika diperintahkan puasa Ramadhan, orang-orang tidak mau mendekati isteri-isteri mereka sepanjang bulan Ramadhan tersebut. Dan ada beberapa orang yang mengkhianati dirinya sendiri. Maka Allah menurunkan ayat ini.
Diriwayatkan dari Ahmad dan Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim dari jalur Abdullah bin Kaab bin Malik dari bapaknya berkata, bahwasanya di bulan Ramadhan ketika seseorang berpuasa dan memasuki waktu malam, maka dia mengharamkan dirinya makanan, minuman dan wanita, sampai saat berbuka besoknya. Umar bin Khathab setelah kembali dari sisi nabi saw pada suatu malam, dia mendapati isterinya telah tertidur, namun Umar menginginkanya. Maka isterinya berkata, "Aku telah tertidur." Umar ra berkata, "Kenapa kau tidur?" Lalu dia menggaulinya. Kaab juga melakukan hal yang sama, lalu pada pagi harinya Umar menemui nabi saw dan menceritakan hal ini. Lalu Allah menurukan ayat ini. "Allah mengetahui bahwasannya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu."
Diriwayatkan dari Ahmad, dari Sahal bin Saad berkata, ketika turun ayat "dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam," dan belum diturunkan ayat lanjutannya yaitu "dari fajar", ada diantara orang-orang apabila hendak puasa, seseorang mengikat sutas benang putih dan hitam pada kakinya yang dia senantiasa meneruskan makannya hingga jelas terlihat perbedaan benang-benang itu. Maka Allah kemudian menurunkan ayat lanjutannya "dari fajar". Dari situ mereka mengetahui bahwa yang dimaksud dengan benang hitam dan putih adalah malam dan siang.
وَلَا تَأْكُلُوْٓا اَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوْا بِهَآ اِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوْا فَرِيْقًا مِّنْ اَمْوَالِ النَّاسِ بِالْاِثْمِ وَاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ
Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.

Asbabunnuzul

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim, dari Said bin Jabir, ia berkata bahwasanya Amraul Qais bin Abis dan Abdan bin Asywa al-Hadhromiy berselisih dalam memperkarakan sebidang tanah, lalu Amraul Qais menginginkan Abdan bersumpah, maka turunlah ayat ini.
يَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ الْاَهِلَّةِۗ قُلْ هِيَ مَوَاقِيْتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّۗ وَلَيْسَ الْبِرُّ بِاَنْ تَأْتُوا الْبُيُوْتَ مِنْ ظُهُوْرِهَا وَلٰكِنَّ الْبِرَّ مَنِ اتَّقٰىۚ وَأْتُوا الْبُيُوْتَ مِنْ اَبْوَابِهَاۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah :"Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji; Dan bukanlah kebaktian memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebaktian itu ialah kebaktian orang yang bertaqwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya; dan bertaqwalah kepada Allah agar kamu beruntung.

Asbabunnuzul

Diriwayatkan dari Ibnu Abi Hatim dari jalur Al-Aufi, dari Ibnu Abbas, ia berkata bahwasanya orang-orang bertanya kepada rasulullah saw mengenai bulan sabit, maka turunlah ayat ini.
Diriwayatkan dari Ibnu Abi Hatim dari Abi Aliyah, ia berkata bahwasanya mereka para sahabat bertanya, "Ya rasulallah! Untuk apa diciptakan bulan sabit?" Maka turunlah ayat ini.
Diriwayatkan dari Abu Nuaim dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq dari jalur As-Suddi kecil dari Al-Kalbi dari Abi Shalih dari Ibnu Abbas, bahwasanya Muadz bin Jabal dan Tsalabah bin Gonamah berkata, "Ya rasulallah! Untuk apa bulan sabit itu dimulai dengan bentuk putih sehalus benang kemudian bertambah besar hingga berbentuk bulat kemudian kembali berkurang dan akhirnya kembali seperti semula, bentuknya selalu berubah-rubah?" Maka turunlah ayat ini.
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, dari Al-Barra, bahwasanya pada masa jahiliyah, orang-orang yang berihram mendatangi rumah mereka dari belakang, maka Allah menurunkan ayat yang berbunyi, " Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya,"
وَقَاتِلُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ الَّذِيْنَ يُقَاتِلُوْنَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوْاۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَ
Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.

Asbabunnuzul

Diriwayatkan dari Al-Wahidiy dari jalur Al-Kalbi dari Sholih dari Ibnu Abbas berkata bahwasanya ayat ini diturunkan ketika perjanjian Hudaibiyah, dan tatkala itu rasulullah saw dicegah untuk memasuki Baitullah, lalu orang-orang musyrik menjanjikan kepada rasulullah saw untuk memperbolehkan memasukinya pada tahun berikutnya. Dan tatkala tahun berikutnya sudah tiba, maka rasulullah saw dan para sahabatnya bersiap-siap untuk melakukan umrah yang tertunda pada tahun lalu, namun rasulullah saw khawatir orang-orang kafir Quraisy mengingkari janjinya, tetap mencegah rasulullah saw memasuki Masjidil Haram dan bahkan memerangi rasulullah saw dan para sahabatnya, sedangkan para sahabat nabi saw enggan memerangi mereka pada bulan-bulan haram. Maka turulah ayat ini.
اَلشَّهْرُ الْحَرَامُ بِالشَّهْرِ الْحَرَامِ وَالْحُرُمٰتُ قِصَاصٌۗ فَمَنِ اعْتَدٰى عَلَيْكُمْ فَاعْتَدُوْا عَلَيْهِ بِمِثْلِ مَا اعْتَدٰى عَلَيْكُمْۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ
Bulan haram dengan bulan haram, dan pada sesuatu yang patut dihormati, berlaku hukum qishaash. Oleh sebab itu barang siapa yang menyerang kamu, maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu. Bertaqwalah kepada Allah dan ketauhilah, bahwa Allah beserta orang-orang yang bertaqwa.

Asbabunnuzul

Diriwayatkan dari Ibnu Jarir dari Qatadah, ia berkata bahwasanya ketika nabi saw dan para sahabatnya hendak berumrah pada bulan Dzul Qadah dengan membawa sembelihan, sesampainya di Hudaibiyah mereka di halau oleh orang-orang kafir Quraisy. Lalu mereka mengadakan perjanjian untuk tidak berumrah pada tahun itu namun bisa kembali berumrah pada tahun berikutnya. Maka pada tahun berikutnya nabi saw dan para sahabatnya bisa memasuki kota Makkah untuk berumrah di bulan Dzul Qadah hingga bermuqim tiga malam. Dan orang-orang musyrik merasa bangga karena dapat menghalau nabi saw dan para sahabatnya di tahun sebelumnya. Maka Allah membalas dengan dapatnya nabi saw memasuki kota Makkah pada bulan dimana mereka menghalaunya. Maka Allah pun menurunkan ayat ini.
وَاَنْفِقُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَلَا تُلْقُوْا بِاَيْدِيْكُمْ اِلَى التَّهْلُكَةِۛ وَاَحْسِنُوْاۛ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ
Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.

Asbabunnuzul

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Hudzaifah, ia berkata bahwasanya ayat ini diturunkan berkenaan dengan nafkah.
Diriwayatkan oleh Abu Daud dan Tirmidzi dan di shahihkan oleh Ibnu Hibban dan Hakim dan lainnya dari Abi Ayyub Al-Anshoriy, ia berkata, "ayat ini diturunkan mengenai kita wahai kaum Anshor! Ketika Allah menguatkan Islam, dan memperbanyak penolong Islam, maka berkatalah satu sama lain diantara kita secara sembunyi-sembunyi, "sesungguhnya harta-harta kita telah banyak yang hilang, sedangkan Allah sudah menguatkan Islam, maka tidak mengapa jika sekiranya kita mengurusi harta kita dan mengembalikan yang hilang." Maka Allah menurunkan ayat ini menyangkal perkataan kita."
Diriwayatkan oleh Thobroniy dengan sanad yang shahih, dari Abi Jabirah bin Dhahhak, ia berkata bahwasanya orang-orang Anshor rajin bersedekah dan mengeluarkan harta sesuai perintah Allah, lalu mereka tertimpa sanah (kekurangan harta) hingga mereka enggan bersedekah. Maka Allah menurunkan ayat ini.
Diriwayatkan pula dengan sanad yang shahih dari Numan bin Basyir, ia berkata bahwasanya ketika seorang laki-laki berbuat dosa, ia berkata "Allah tidak akan mengampuniku!"Maka Allah menurunkan ayat ini. Hadis ini dikuatkan dari Al-Barra yang diriwayatkan oleh al-Hakim.
وَاَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلّٰهِۗ فَاِنْ اُحْصِرْتُمْ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِۚ وَلَا تَحْلِقُوْا رُءُوْسَكُمْ حَتّٰى يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّهٗۗ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَّرِيْضًا اَوْ بِهٖٓ اَذًى مِّنْ رَّأْسِهٖ فَفِدْيَةٌ مِّنْ صِيَامٍ اَوْ صَدَقَةٍ اَوْ نُسُكٍۚ فَاِذَآ اَمِنْتُمْۗ فَمَنْ تَمَتَّعَ بِالْعُمْرَةِ اِلَى الْحَجِّ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِۚ فَمَنْ لَّمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلٰثَةِ اَيَّامٍ فِى الْحَجِّ وَسَبْعَةٍ اِذَا رَجَعْتُمْۗ تِلْكَ عَشَرَةٌ كَامِلَةٌۗ ذٰلِكَ لِمَنْ لَّمْ يَكُنْ اَهْلُهٗ حَاضِرِى الْمَسْجِدِ الْحَرَامِۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ
Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah. Jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau karena sakit), maka (sembelihlah) korban yang mudah didapat, dan jangan kamu mencukur kepalamu, sebelum korban sampai ke tempat penyembelihannya. Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajiblah atasnya berfidyah, yaitu: berpuasa atau bersedekah atau berkorban. Apabila kamu telah (merasa) aman, maka bagi siapa yang ingin mengerjakan Umrah sebelum Haji (di dalam bulan Haji), (wajiblah ia menyembelih) korban yang mudah didapat. Tetapi jika ia tidak menemukan (binatang korban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuhhari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna. Demikian itu (kewajiban membayar fidyah) bagi orang-orang yang keluarganya tidak berada (di sekitar) Masjidil Haram (orang-orang yang bukan penduduk kota Mekkah). Dan bertaqwalah kepada Allah dan ketauhilah bahwa Allah sangat keras siksa-Nya.

Asbabunnuzul

Diriwayatkan dari Ibnu Abi Hatim dari Shofwan bin Umayyah, ia berkata bahwasanya seorang lelaki datang menghadap rasulullah saw dengan memakai parfum dan jubah, lelaki itu bertanya, "Bagaimana engkau menyuruhku dalam melaksanakan umrahku?" Maka Allah menurunkan ayat ini. Lalu rasulullah saw bertanya, "Kemana lelaki yang bertanya tentang umrah itu?" Lelaki itu berkata, "Ini Aku ya rasulallah!" Rasulullah saw bersabda, "Tanggalkanlah pakaianmu, kemudian mandilah, dan beristinsyaq lah semampumu. Kemudian apa yang kamu kerjalan dalam ibadah hajimu kerjakan pulalah dalam ibadah umrahmu!"
Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Kaab bin Ujrah bahwasanya ia bertanya tentang firman Allah, "maka wajiblah atasnya berfidyah, yaitu: berpuasa.." berkata, "aku dibawa menghadap rasulullah saw, sedangkan dirambtku berserakan kutu-kutu hingga ke mukaku," maka rasulullah saw bersabda, "aku lihat penyakitmu sudah sedemikian parah, apakah kamu mempunyai seekor kambing?" aku menjawab, "Tidak." Lalu rasulullah saw bersabda, "berpuasalah tiga hari, atau memberi makan kepada enam orang miskin yakni sebanyak setengah sha untuk setiap orang dan cukurlah rambutmu!" Kaab berkata, maka ayat ini turun berkenaan denganku secara khusus dan secara umum untuk semua.
اَلْحَجُّ اَشْهُرٌ مَّعْلُوْمٰتٌۚ فَمَنْ فَرَضَ فِيْهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوْقَ وَلَا جِدَالَ فِى الْحَجِّۗ وَمَا تَفْعَلُوْا مِنْ خَيْرٍ يَّعْلَمْهُ اللّٰهُۗ وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوْنِ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِ
(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barang siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan Haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa dan bertaqwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.

Asbabunnuzul

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Ibnu Abbas ra, ia berkata bahwasanya dahulu para penduduk Yaman berhaji namun mereka tidak membawa bekal dan mereka berkata, kami adalah orang-orang yang bertawakal. Ketika mereka tiba di Makkah, mereka meminta-minta kepada manusia. Maka Allah menurunkan ayat ini. "Berbekallah! dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa."
لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ اَنْ تَبْتَغُوْا فَضْلًا مِّنْ رَّبِّكُمْۗ فَاِذَآ اَفَضْتُمْ مِّنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُوا اللّٰهَ عِنْدَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِۖ وَاذْكُرُوْهُ كَمَا هَدٰىكُمْۚ وَاِنْ كُنْتُمْ مِّنْ قَبْلِهٖ لَمِنَ الضَّاۤلِّيْنَ
Tidak ada dosa bagimu mencari karunia (rezki hasil perniagaan) dari Rabbmu. Maka apabila kamu telah bertolak dari Arafat, berzikirlah kepada Allah di Masyaril haram. Dan berzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu; dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang -orang yang sesat.

Asbabunnuzul

Diriwayatkan oleh Bukhari, dari Ibnu Abbas ra, ia berkata bahwasanya Ukaz, Majanah, dan Dzul Majaz adalah pasar-pasar di zaman Jahiliyah, dan mereka merasa berdosa apabila berdagang pada musim haji. Lalu mereka bertanya pada rasulullah saw mengenai hal ini. Maka turunlah ayat ini. Pada musim haji.
Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Ibnu Abi Hatim, Ibnu Jarir, Al-Hakim dan yang lainnya dari jalur-jalur yang berasal dari Abi Umamah At-Taimi berkata, aku berkata kepada Ibnu Umar, Sesungguhnya kami menyewakan tanah kami, apakah kami juga bisa sambil melaksanakan ibadah haji? Maka Ibnu Umar berkata, pernah ada seorang lelaki mendatangi nabi saw bertanya mengenai apa yang kamu tanyakan, dan nabi belum bisa menjawabnya sampai Jibril menyampaikan ayat ini. "Tidak ada dosa bagimu mencari karunia (rezki hasil perniagaan) dari Rabbmu." Maka nabi saw memanggil mereka dan bersabda, "Kalian dapat melakukan ibadah haji."
ثُمَّ اَفِيْضُوْا مِنْ حَيْثُ اَفَاضَ النَّاسُ وَاسْتَغْفِرُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak (Arafat) dan mohonlah ampun kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Asbabunnuzul

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Ibnu Abbas ra, berkata bahwasanya orang-orang Arab berhenti di Arafah dan orang-orang Quraisy berhenti di Muzdalifah, maka turunlah ayat ini.
Diriwayatkan dari Ibnu Mundzir dari Asma binti Abi Bakar, berkata bahwasanya dahulu orang-orang Quraisy berhenti di Muzdalifah dan orang-orang berhenti di Arafah kecuali Syaibah bin Rabiah. Maka Allah menurunkan ayat ini.
فَاِذَا قَضَيْتُمْ مَّنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللّٰهَ كَذِكْرِكُمْ اٰبَاۤءَكُمْ اَوْ اَشَدَّ ذِكْرًاۗ فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّقُوْلُ رَبَّنَآ اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا وَمَا لَهٗ فِى الْاٰخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ
Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berzikirlah (denga menyebut) Allah, sebagimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang mendoa:"Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia", dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat.

Asbabunnuzul

Diriwayatkan dari Ibnu Abi Hatim, dari Ibnu Abbas, ia berkata bahwasanya orang-orang Jahiliyah dahulu berhenti dan berdiri pada waktu musim haji seraya berkata salah seorang diantara mereka, ayahku membawa makanan dan membawa bekal dan membawa beban diyat seraya tidak mempunyai dzikir kecuali apa yang mereka dapatkan dari nenek moyang mereka, maka turunlah ayat "Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berzikirlah (denga menyebut) Allah."
Diriwayatkan dari Ibnu Jarir dari Mujahid, ia berkata bahwasanya dahulu pada zaman jahiliyah mereka melakukan manasik dan berdiri di Jumrah, maka mereka menyebut-nyebut (membanggakan) bapak-bapak mereka dan apa yang nenek moyang mereka lakukan, maka turunlah ayat ini.
Dari Ibnu Abi Hatim dari Ibnu abbas, berkata bahwasanya orang-orang Arab ketika datang dan berhenti di tempat pemberhentian, maka mereka berkata, "Ya Allah, jadikanlah tahun ini tahun hujan, tahun kesuburan dan tahun kebaikan!" Mereka tidak berdoa untuk akhirat sama sekali. Maka turunlah ayat: "Maka di antara manusia ada orang yang mendoa:"Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia", dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat."
Kemudian datanglah orang-orang beriman setelah mereka seraya berdoa, "Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka".
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُّعْجِبُكَ قَوْلُهٗ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَيُشْهِدُ اللّٰهَ عَلٰى مَا فِيْ قَلْبِهٖۙ وَهُوَ اَلَدُّ الْخِصَامِ
Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras.

Asbabunnuzul

Diriwayatkan dari Ibnu Abi Hatim dari jalur Said atau Ikrimah, dari Ibnu Abbas ia berkata bahwasanya ketika pasukan tertimpa kekalahan yang mana di dalamnya terdapat Ashim dan Marsad, maka berkatalah kedua orang munafik, "Sungguh celaka orang-orang yang mati dengan cara peperangan seperti ini, mereka tidak tinggal bersama keluarga mereka dan juga tidak melaksanakan kewajiban sahabat mereka!" Maka turunlah ayat ini.
Diriwayatkan dari Ibnu Jarir dari As-Suddi berkata bahwasanya ayat ini turun mengenai Akhnas bin Syariq yang datang menghadap nabi saw dan memperlihatkan keislamannya, lalu nabi terkesan dengannya. Akan tetapi ketika pergi dari nabi dan melewati pertanian dan keledai milik orang-orang muslim, ia malah membakarnya dan menyembelih keledai-keledai milik orang-orang muslim tersebut. maka turunlah ayat ini.
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّشْرِيْ نَفْسَهُ ابْتِغَاۤءَ مَرْضَاتِ اللّٰهِۗ وَاللّٰهُ رَءُوْفٌۢ بِالْعِبَادِ
Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.

Asbabunnuzul

Diriwayatkan dari Harits bin Abi Usamah dalam musnadnya, dan diriwayatkan juga dari Ibnu Abi Hatim dari Said bin Musayib, berkata bahwasanya ketika Shuhaib hendak pergi berhijrah mengikuti nabi saw. Dia diikuti oleh beberapa orang Quraisy, maka dia pun turun dari tunggangannya seraya berkata, "Hai orang-orang Quraisy! Sebagaimana kalian ketahui, aku termasuk salah satu pemanah terbaik. Demi Allah! Kalian tidak dapat mengejarku sampai aku lepaskan semua anak panahku lalu aku tebas kalian dengan apa yang tersisa di tanganku yaitu pedangku lalu kalian dapat melakukan apa yang kalian suka padaku. Atau jika kalian mau, akan aku tunjukkan semua hartaku di kota Makkah dan kalian biarkan aku pergi." Mereka menjawab, "Ya, Pergilah!" Dan tatkala sesampainya di kota Madinah di sisi nabi saw, Nabi bersabda, "Beruntunglah jual beli yang dilakukan Abu Yahya!" Dan turunlah ayat ini.
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَآفَّةً وَلاَ تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينُُ
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya syaithan itu musuh yang nyata bagimu.

Asbabunnuzul

Diriwayatkan dari Ibnu Jarir, dari Ikrimah, ia berkata bahwasanya ayat ini turun mengenai Abdullah bin Salam, Tsalabah, Ibnu Yamin, Asad bin Kaab, Usaid bin Kaab, Said bin Amru, dan Qais bin Zaid. Mereka dari golongan Yahudi, dan tatkala itu mereka berkata pada nabi saw, "Ya Rasulallah! Hari Sabtu adalah hari yang kami agungkan, biarkanlah kami mengagungkannya. Dan juga Taurat adalah kitab Allah, maka biarkan pula kami bangun di malam hari untuk bersama kitab tersebut. Maka turunlah ayat ini.
اَمْ حَسِبْتُمْ اَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَّثَلُ الَّذِيْنَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْۗ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاۤءُ وَالضَّرَّاۤءُ وَزُلْزِلُوْا حَتّٰى يَقُوْلَ الرَّسُوْلُ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَعَهٗ مَتٰى نَصْرُ اللّٰهِۗ اَلَآ اِنَّ نَصْرَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya:"Bilakah datangnya pertolongan Allah". Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.

Asbabunnuzul

Diriwayatkan dari Abdurrazaq, diberitakan oleh Mamar dari Qatadah, ia berkata bahwasanya ayat ini diturunkan ketika perang Ahzab, dimana pada saat itu nabi saw dan para sahabat tertimpa kesulitan dan pengepungan.
يَسْـَٔلُوْنَكَ مَاذَا يُنْفِقُوْنَۗ قُلْ مَآ اَنْفَقْتُمْ مِّنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَالْاَقْرَبِيْنَ وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَابْنِ السَّبِيْلِۗ وَمَا تَفْعَلُوْا مِنْ خَيْرٍ فَاِنَّ اللّٰهَ بِهٖ عَلِيْمٌ
Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah:"Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan". Dan apa saja kebajikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.

Asbabunnuzul

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Juraij, ia berkata bahwasanya orang-orang beriman bertanya pada rasulullah saw, "Dimana semestinya kami simpan harta-harta kami?" Maka turunlah ayat ini.
Diriwayatkan dari Ibnu Mundzir dari Abi Hayyan, sesungguhnya Amru bin Jamuh bertanya pada nabi saw, "Apa yang mesti kami infakkan dari harta-harta kami? Dan Dimana semestinya kami simpan?" Maka turunlah ayat ini.
Al-Qurtubi berkata, bahwasanya Amru bin Jamuh bertanya kepada rasulullah saw, "Ya rasulallah! Aku memiliki harta yang berlimpah, maka harta manakah yang harus aku sedekahkan?" Dan kepada siapa saya harus berinfak?" maka turunlah ayat ini.
يَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيْهِۗ قُلْ قِتَالٌ فِيْهِ كَبِيْرٌۗ وَصَدٌّ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَكُفْرٌۢ بِهٖ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَاِخْرَاجُ اَهْلِهٖ مِنْهُ اَكْبَرُ عِنْدَ اللّٰهِۚ وَالْفِتْنَةُ اَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِۗ وَلَا يَزَالُوْنَ يُقَاتِلُوْنَكُمْ حَتّٰى يَرُدُّوْكُمْ عَنْ دِيْنِكُمْ اِنِ اسْتَطَاعُوْاۗ وَمَنْ يَّرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِيْنِهٖ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَاُولٰۤىِٕكَ حَبِطَتْ اَعْمَالُهُمْ فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِۚ وَاُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ النَّارِۚ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ
Mereka bertanya tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah:"Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidil Haram dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) dari pada membunuh. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.

Asbabunnuzul

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim, Thabrani dalam Al-Kabir dan Baihaqi dalam kitab sunan-nya, dari Jundub bin Abdullah bahwasanya rasulullah saw mengutus beberapa orang yang termasuk di dalamnya Abdullah bin Jahsy. Mereka diutus untuk mencari Ibnu Hadhramiy. Setelah bertemu Ibnu Hadhramiy mereka membunuhnya tanpa mengetahui bahwa hari itu adalah bulan Rajab atau bulan Jumadil. Lalu berkatalah orang-orang musyrik kepada orang-orang muslim, "Kalian sudah membunuh pada bulan haram!" Maka turunlan ayat, "Mereka bertanya tentang berperang pada bulan Haram." Maka berkatalah sebagian dari mereka, "apabila mereka tidak mendapatkan dosa maka mereka tidak medapatkan pahala." Maka turunlah ayat, "Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
يَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِۗ قُلْ فِيْهِمَآ اِثْمٌ كَبِيْرٌ وَّمَنَافِعُ لِلنَّاسِۖ وَاِثْمُهُمَآ اَكْبَرُ مِنْ نَّفْعِهِمَاۗ وَيَسْـَٔلُوْنَكَ مَاذَا يُنْفِقُوْنَ ەۗ قُلِ الْعَفْوَۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمُ الْاٰيٰتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُوْنَۙ
Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah:"Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya". Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah:"Yang lebih dari keperluan". Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNya kepadamu supaya kamu berfikir,

Asbabunnuzul

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari jalur Said dan Ikrimah, dari Ibnu Abbas bahwasanya ketika ada perintah nafakah di jalan Allah, beberapa orang sahabat mendatangi abi saw seraya bertanya, "Sesungguhnya kami tidak mengetahui nafakah mana yang harus kami keluarkan dari harta-harta kami?" Maka turunlah ayat, "Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah:"Yang lebih dari keperluan"."
Diriwayatkan pula dari Yahya disampaikan padanya bahwasanya Muadz dan Tsalabah mendatangi rasulullah saw seraya bertanya, "Ya rasulallah! sesungguhnya kami mempunyai budak-budak dan keluarga, maka nafakah apa yang harus kami keluarkan dari harta-harta kami?" Maka turunlah ayat ini.
فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِ ۗ وَيَسْـئَلُوْنَكَ عَنِ الْيَتٰمٰىۗ قُلْ اِصْلَاحٌ لَّهُمْ خَيْرٌ ۗ وَاِنْ تُخَالِطُوْهُمْ فَاِخْوَانُكُمْ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ الْمُفْسِدَ مِنَ الْمُصْلِحِ ۗ وَلَوْ شَاۤءَ اللّٰهُ لَاَعْنَتَكُمْ اِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ
tentang dunia dan akhirat. Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim, katakanlah:"Mengurus urusan merreka secara patut adalah baik, dan jika kamu menggauli mereka, maka mereka adalah saudaramu, dan Allah mengetahui siapa yang membuat kerusakan dari yang mengadan perbaikan. Dan jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia dapat mendatangkan kesulitan kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Asbabunnuzul

Diriwayatkan oleh Abu Daud, Nasai, Al-Hakim dan lainnya dari Ibnu Abbas, ia berkata bahwasanya ketika turun ayat, "Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat." dan juga ketika turun ayat, "Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim." Maka bergegaslah orang-orang yang mengurus atau mengasuh anak yatim memisahkan makanan mereka dengan makanan anak yatim, minuman mereka dengan minuman anak yatim, lalu melebihkan makanan anak yatim, serta mengurung makanan anak yatim sampai dimakan anak yatim atau dibiarkan rusak, sehingga hal ini menjadi suatu hal yang berlebihan. Lalu mengadulah mereka pada rasulullah saw, maka turunlah ayat ini.
وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكٰتِ حَتّٰى يُؤْمِنَّۗ وَلَاَمَةٌ مُّؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِّنْ مُّشْرِكَةٍ وَّلَوْ اَعْجَبَتْكُمْۚ وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِيْنَ حَتّٰى يُؤْمِنُوْاۗ وَلَعَبْدٌ مُّؤْمِنٌ خَيْرٌ مِّنْ مُّشْرِكٍ وَّلَوْ اَعْجَبَكُمْۗ اُولٰۤىِٕكَ يَدْعُوْنَ اِلَى النَّارِۖ وَاللّٰهُ يَدْعُوْٓا اِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِاِذْنِهٖۚ وَيُبَيِّنُ اٰيٰتِهٖ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُوْنَ
Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mumin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mumin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mumin lebih baik dari orang-orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintahnya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.

Asbabunnuzul

Diriwayatkan dari Ibnu Mundzir dan Ibnu Abi Hatim dan Al-Wahidiy dari Muqatil, ia berkata bahwasanya ayat ini diturunkan setelah Ibnu Abi Murtsid Al-Ghanawiy meminta izin kepada nabi saw untuk menikahi Anaq, seorang perempuan cantik dan kaya namun musyrik/kafir, maka turunlah ayat ini.
Diriwayatkan oleh Al-Wahidiy dari jalur As-Sudiy dari Abu Malik dari Ibnu Abbas, ia berkata bahwasanya ayat ini diturunkan untuk Abdullah bin Rawahah yang mempunyai budak perempuan hitam, lalu ia marah dan menempeleng budak perempuannya tersebut. Kemudian ia merasa bersalah dan menyesal lalu mengadu kepada nabi saw. Lalu ia berkata, "Aku akan memerdekakannya dan menikahinya." Lalu ia benar-benar melakukan ucapannya tersebut. Kemudian orang-orang mengejeknya dan berkata, "Dia menikahi seorang budak!" Maka Allah menurunkan ayat ini.
وَيَسْئَلُوْنَكَ عَنِ الْمَحِيْضِ ۗ قُلْ هُوَ اَذًىۙ فَاعْتَزِلُوا النِّسَاۤءَ فِى الْمَحِيْضِۙ وَلَا تَقْرَبُوْهُنَّ حَتّٰى يَطْهُرْنَ ۚ فَاِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوْهُنَّ مِنْ حَيْثُ اَمَرَكُمُ اللّٰهُ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ التَّوَّابِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ
Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah:"Haidh itu adalah suatu kotoran". Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintakan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.

Asbabunnuzul

Diriwayatkan oleh Muslim dan Tirmidzi, dari Anas, bahwasanya orang-orang Yahudi apabila istri-istri mereka haidh, mereka tidak memberi makan dan tidak menggaulinya di rumah mereka. Maka bertanyalah para sahabat kepada nabi saw, lalu turunlah ayat ini. Maka nabi saw bersabda, "Lakukanlah segala sesuatu pada istrimu kecuali bersetubuh (berhubungan badan)!"
نِسَاۤؤُكُمْ حَرْثٌ لَّكُمْۖ فَأْتُوْا حَرْثَكُمْ اَنّٰى شِئْتُمْۖ وَقَدِّمُوْا لِاَنْفُسِكُمْۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّكُمْ مُّلٰقُوْهُۗ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِيْنَ
Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertaqwalah kepada Allah dan ketahuilah ahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman.

Asbabunnuzul

Diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, Abu Daud dan Tirmidzi dari Jabir bahwasanya orang-orang Yahudi berkata, "Apabila menggauli istri dari belakang, maka mata anaknya akan juling." Maka turunlah ayat ini.
Diriwayatkan dari Ahmad dan Tirmidzi, dari Ibnu Abbas bahwasanya telah datang Umar kepada rasulullah saw seraya berkata, "Celaka aku wahai rasulullah!" Rasul bertanya, "Apa yang membuatmu celaka!" Umar berkata, "Semalam aku menggauli istriku dari arah belakang." Maka rasulullah belum menjawabnya hingga turun ayat ini. Lalu rasulullah saw bersabda, "Datangilah istrimu dari arah depan ataupun belakang, namun jauhilah olehmu dubur dan haidh!"
Diriwayatkan oleh Abu Daud, Al-Hakim dari Ibnu Abbas, ia berkata sesungguhnya Ibnu Umar semoga Allah mengampuninya, ia telah melakukan kesalahan (mengenai sebab turunnya ayat ini). Sebenarnya dahulu ada sebuah kampung Anshar yang mana mereka penyembah berhala dan di dalamnya terdapat orang-orang Yahudi. Orang-orang Yahudi tersebut adalah ahlu kitab dan mereka melihat orang-orang Yahudi lebih baik keilmuannya daripada mereka. Maka mereka pun banyak mengikuti apa yang dilakukan orang-orang Yahudi tersebut. Lalu ada perilaku ahli kitab yaitu mereka tidak mendatangi istri mereka kecuali dari satu arah saja. Dan hal itu membuat istri mereka lebih terjaga rasa malunya. Dan orang-orang kampung Anshar pun telah mengikuti perilaku ini. Sedangkan orang-orang Quraisy mendatangi wanita semau mereka baik itu dari depan, dari belakang ataupun sambil terlentang. Dan tatkala orang-orang Muhajirin mendatangi Madinah sementara salah satu dari mereka menikahi perempuan dari Anshar. Maka ketika menggauli istri dari Anshar itu pun menolak seraya berkata, "Sesungguhnya kami biasa digauli dari satu arah." Maka tersebarlah perkara mereka berdua. Dan sampailah berita ini pada rasulullah saw, lalu turunlah ayat ini. Yaitu bisa dari depan, dari belakang ataupun sambil terlentang, asalkan selama sasaran utamanya adalah kemaluan.
وَلَا تَجْعَلُوا اللّٰهَ عُرْضَةً لِّاَيْمَانِكُمْ اَنْ تَبَرُّوْا وَتَتَّقُوْا وَتُصْلِحُوْا بَيْنَ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ
Janganlah kamu jadikan (nama) Allah dalam sumpahmu sebagai penghalang untuk berbuat kebajikan, bertaqwa dan mengadakan ishlah di antara manusia. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengerahui.

Asbabunnuzul

Diriwayatkan dari Ibnu Jarir dari jalur Ibnu Juraij berkata bahwasanya ayat ini diturunkan mengenai Abu Bakar yang bersumpah tentang Mistoh. Menurut Al-Qurtubi ayat ini turun pada Abu Bakar yang bersumpah tidak akan menafkahi Mistoh bin Utsasah ketika ia berkata tentang Aisyah dengan hal yang tidak benar seperti dalam peristiwa Ifki. Dan ada pula yang berkata bahwasanya ayat ini turun pada Abu Bakar yang bersumpah untuk tidak makan dengan para tamu.
وَالْمُطَلَّقٰتُ يَتَرَبَّصْنَ بِاَنْفُسِهِنَّ ثَلٰثَةَ قُرُوْۤءٍۗ وَلَا يَحِلُّ لَهُنَّ اَنْ يَّكْتُمْنَ مَا خَلَقَ اللّٰهُ فِيْٓ اَرْحَامِهِنَّ اِنْ كُنَّ يُؤْمِنَّ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ وَبُعُوْلَتُهُنَّ اَحَقُّ بِرَدِّهِنَّ فِيْ ذٰلِكَ اِنْ اَرَادُوْٓا اِصْلَاحًاۗ وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِيْ عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوْفِۖ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌۗ وَاللّٰهُ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ
Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru. Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat. Dan suami-suaminya berhak merujuknya dalam masa menanti itu jika mereka (para suami) itu menghendaki ishlah. Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang maruf. Akan tetapi para suami, mempunyai saru tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Asbabunnuzul

Diriwayatkan oleh Abu Daud dari Asma binti Yazid bin As-Sakan Al-Anshariyyah bahwasanya ia telah diceraikan pada jaman rasulullah saw, dan wanita yang dicerai tidak memiliki iddah pada saat itu, kemudian Allah menurunkan ayat mengenai iddah karena perceraian ketika Asma dicerai. Ia adalah wanita pertama yang karenanya diturunkan ayat tentang iddah wanita yang dicerai.
Diriwayatkan dari Tsalabi dan Hibatullah bin Salamah dalam kitab Nasikh dari Al-Kalbi dari Muqatil bahwasanya Ismail bin Abdullah Al-Gifariy mentalak istrinya yang bernama Qatilah pada jaman rasulullah saw, dan belum mengetahui bahwa istrinya itu ternyata hamil. Lalu diketahuilah bahwa istrinya tersebut hamil, maka dirujuklah ia sampai melahirkan. Namun setelah melahirkan istrinya meninggal dan kemudian anaknya pun meninggal. Maka turunlah ayat ini.
اَلطَّلَاقُ مَرَّتٰنِۖ فَاِمْسَاكٌۢ بِمَعْرُوْفٍ اَوْ تَسْرِيْحٌۢ بِاِحْسَانٍۗ وَلَا يَحِلُّ لَكُمْ اَنْ تَأْخُذُوْا مِمَّآ اٰتَيْتُمُوْهُنَّ شَيْـًٔا اِلَّآ اَنْ يَّخَافَآ اَلَّا يُقِيْمَا حُدُوْدَ اللّٰهِۗ فَاِنْ خِفْتُمْ اَلَّا يُقِيْمَا حُدُوْدَ اللّٰهِۙ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيْمَا افْتَدَتْ بِهٖۗ تِلْكَ حُدُوْدُ اللّٰهِ فَلَا تَعْتَدُوْهَاۚ وَمَنْ يَّتَعَدَّ حُدُوْدَ اللّٰهِ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ
Talak (yang dapat dirujuk) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang maruf atau menceraikan dengan cara yang baik. Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu dari yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami-isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri utuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang zalim.

Asbabunnuzul

Diriwayatkan dari Tirmidzi dan Al-Hakim dan lainnya dari Aisyah berkata bahwasanya dahulu seorang lelaki menceraikan istrinya sesuka hati dalam menceraikannya namun tetap menjadi istrinya, jika ruju kepadanya maka ia lakukan pada masa iddah walaupun ia menceraikannya seratus kali bahkan lebih hingga seorang lelaki mengatakan pada istrinya, "Demi Allah! aku tidak akan menceraikanmu hingga kamu lepas dariku dan aku juga tidak akan memberimu tempat tinggal selamanya." Isterinya bertanya: Bagaimana itu bisa terjadi? Ia menjawab, aku akan menceraikanmu, maka setiap kali masa iddahmu hampir selesai aku akan ruju kepadamu. Maka pergilah istri ini mengadu pada nabi saw, maka nabi pun terdiam hingga turunlah ayat ini.
فَاِنْ طَلَّقَهَا فَلَا تَحِلُّ لَهٗ مِنْۢ بَعْدُ حَتّٰى تَنْكِحَ زَوْجًا غَيْرَهٗۗ فَاِنْ طَلَّقَهَا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَآ اَنْ يَّتَرَاجَعَآ اِنْ ظَنَّآ اَنْ يُّقِيْمَا حُدُوْدَ اللّٰهِۗ وَتِلْكَ حُدُوْدُ اللّٰهِ يُبَيِّنُهَا لِقَوْمٍ يَّعْلَمُوْنَ
Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah talak yang kedua), maka perempuan itu tidak halal lagi baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikanya, maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan isteri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukum-hukum Allah, ditengkan-Nya kepada kaum yang (mau) mengetahui.

Asbabunnuzul

Diriwayatkan dari Ibnu Mundzir dari Muqatil bin Hayyan berkata bahwasanya ayat ini diturunkan setelah Aisyah binti Abdurrahman bin Atik diceraikan oleh anak pamannya (Rifaah) dengan talak bain. Kemudian Aisyah dinikahi oleh Abdurrahman bin Zubair Al-Qurazhi, namun setelah itu dicerai juga oleh Abdurrahman. Maka Aisyah menemui nabi saw seraya berkata, "Abdurrahman telah menceraikan aku namun belum menyentuhku, apakah aku boleh kembali pada suami pertamaku (Rifaah)?" Rasulullah saw menjawab, "Tidak, sampai ia menggaulimu." Maka turunlah ayat ini.
وَاِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاۤءَ فَبَلَغْنَ اَجَلَهُنَّ فَاَمْسِكُوْهُنَّ بِمَعْرُوْفٍ اَوْ سَرِّحُوْهُنَّ بِمَعْرُوْفٍۗ وَلَا تُمْسِكُوْهُنَّ ضِرَارًا لِّتَعْتَدُوْاۚ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ فَقَدْ ظَلَمَ نَفْسَهٗۗ وَلَا تَتَّخِذُوْٓا اٰيٰتِ اللّٰهِ هُزُوًا وَّاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ وَمَآ اَنْزَلَ عَلَيْكُمْ مِّنَ الْكِتٰبِ وَالْحِكْمَةِ يَعِظُكُمْ بِهٖۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ
Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu mereka mendekati akhir idahnya, maka rujukilah mereka dengan cara yang maruf, atau ceraikanlah mereka dengan cara yang maruf (pula). Janganlah kamu rujuki mereka untuk memberi kemudharatan, karena dengan demikian kamu menganiaya mereka. Barangsiapa berbuat demikian, maka sungguh ia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. Janganlah kamu jadikan hukum-hukum Allah permainan, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu yaitu Al-Kitab dan Al-Hikmah. Allah memberi pengajaran kepadamu dengan apa yang diturunkan-Nya itu. Dan bertaqwalah kepada Allah serta ketahuilah bahwasannya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Asbabunnuzul

Diriwayatkan dari Ibnu Jarir dari jalur Al-Aufa dari Ibnu Abbas, ia berkata bahwasanya dahulu seorang lelaki suka menceraikan isterinya lalu merujuknya kembali sebelum habis masa iddahnya. Lalu menceraikannya lagi dengan maksud untuk memberikan madharat dan menghalangi menikah dengan lelaki lain. Maka Allah menurunkan ayat ini.
Diriwayatkan dari As-Sudi, ia berkata bahwasanya ayat ini turun mengenai seorang lelaki dari kaum Anshor yang bernama Tsabit bin Yasar yang menceraikan isterinya sampai hampir mendekati masa iddahnya satu hari atau tiga hari lagi ia kembali merujuknya lalu menceraikannya lagi untuk memberikan madharat pada isterinya. Maka Allah menurunkan ayat, "Janganlah kamu rujuki mereka untuk memberi kemudharatan, karena dengan demikian kamu menganiaya mereka."
Diriwayatkan dari Ibnu Abi Umar dalam Musnadnya dan Ibnu Mardawaih dari Abi Darda berkata bahwasanya dahulu seorang lelaki mentalak isterinya seraya berkata, "Aku hanya main-main." Dan juga memerdekakan budak, lalu berkata, "Aku hanya main-main." Maka Allah menurunkan ayat, "Janganlah kamu jadikan hukum-hukum Allah permainan."
وَاِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاۤءَ فَبَلَغْنَ اَجَلَهُنَّ فَلَا تَعْضُلُوْهُنَّ اَنْ يَّنْكِحْنَ اَزْوَاجَهُنَّ اِذَا تَرَاضَوْا بَيْنَهُمْ بِالْمَعْرُوْفِۗ ذٰلِكَ يُوْعَظُ بِهٖ مَنْ كَانَ مِنْكُمْ يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ ذٰلِكُمْ اَزْكٰى لَكُمْ وَاَطْهَرُۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ
Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu habis iddahnya, maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya, apabila telah terdapat kerelaaan di antara mereka dengan cara yang maruf. Itulah yang dinasehatkan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu kepada Allah dan hari kemudian. Itu lebih baik bagimu dan lebih suci. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.

Asbabunnuzul

Diriwayatkan oleh Bukhari, Abu Daud, Tirmidzi dan lainnya, dari Maqil bin Yassar bahwasanya ia pernah menikahkan adik perempuanya kepada seorang lelaki muslim, lalu hidup bersama sebagaimana suami istri. Kemudian si lelaki tersebut menceraikan adik perempunnya itu, dan belum merujuknya sampai masa iddahnya habis. Lalu timbul kembali rasa keinginan rujuk dari sang lelaki dan juga dari sang perempuan. Maka si lelaki melamar kembali sang perempuan. Namun Maqil berkata pada lelaki tersebut, "Hai bodoh! Aku mulyakan kamu lalu aku nikahkan dengan adik perempuanku, namun kau malah menceraikannya. Demi Allah! adikku tidak akan rujuk kembali padamu." Akan tetapi Allah Maha Mengetahui kebutuhan lelaki tersebut pada perempuannya dan kebutuhan perempuan tersebut pada lelakinya, maka turunlah ayat ini. Dan tatkala Maqil mendengar ayat ini, Maqil berkata, "Aku mendengar wahai Tuhanku, dan aku akan mematuhinya." Lalu Maqil memanggil lelaki tersebut seraya berkata, "Akan aku nikahkan kamu dan akan aku mulyakan." Hadis ini diriwayatkan pula oleh Mardawaih dari berbagai jalur.
حَافِظُوْا عَلَى الصَّلَوٰتِ وَالصَّلٰوةِ الْوُسْطٰى وَقُوْمُوْا لِلّٰهِ قٰنِتِيْنَ
Peliharalah segala shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu.

Asbabunnuzul

Diriwayatkan dari Ahmad dan Bukhari dalam Tarikhnya dan Abu Daud, juga Baihaqi, dari Ibnu Jarir dari Zaid bin Tsabit, bahwa sesungguhnya nabi saw biasa shalat dzuhur di siang hari, dan dzuhur ini merupakan shalat yang paling berat bagi para sahabat. Maka turunlah ayat ini. "Peliharalah segala shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa."
Diriwayatkan dari Ahmad dan Nasai dan Ibnu Jarir dari Zaid bin Tsabit bahwa sesungguhnya nabi saw biasa shalat dzuhur di siang hari dan di belakang beliau tidak ada kecuali satu shaf atau dua shaf saja, sedangkan orang-orang pada saat itu sedang tidur siang ataupun sedang dalam perniagaan mereka. Maka turunlah ayat ini, "Peliharalah segala shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa."
Diriwayatkan oleh enam imam yaitu Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Nasai dan Ibnu Majah dan juga lainnya, dari Zaid bin Arqam, ia berkata bahwasanya dahulu di zaman rasulullah, kami berbicara dalam shalat kami, yaitu seseorang berbincang dengan teman sebelahnya ketika shalat berlangsung hingga turunlah ayat ini, "Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu." Maka kita disuruh untuk diam dan tidak berbicara ketika shalat.
Diriwayatkan dari Ibnu Jarir, dari Mujahid, ia berkata bahwasanya dahulu para sahabat berbincang-bincang ketika shalat berlangsung bahkan seseorang menyuruh saudaranya untuk suatu keperluan. Maka turunlah ayat ini, "Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu."
وَالَّذِيْنَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُوْنَ اَزْوَاجًاۖ وَّصِيَّةً لِّاَزْوَاجِهِمْ مَّتَاعًا اِلَى الْحَوْلِ غَيْرَ اِخْرَاجٍۚ فَاِنْ خَرَجْنَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيْ مَا فَعَلْنَ فِيْٓ اَنْفُسِهِنَّ مِنْ مَّعْرُوْفٍۗ وَاللّٰهُ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ
Dan orang-orang yang akan meninggal dunia diantaramu dan meninggalkan isteri, hendaklah berwasiat untuk isteri-isterinya, (yaitu) diberi nafkah hingga setahun lamanya dengan tidak disuruh pindah (dari rumahnya). Akan tetapi jika mereka pindah (sendiri), maka tidak ada dosa bagimu (wali atau waris dari yang meninggal) membiarkan mereka berbuat maruf terhadap diri mereka. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Asbabunnuzul

Diriwayatkan oleh Ishaq bin Rahawaih dalam kitab Tafsir-nya, dari Muqatil bin Hayyan, bahwasanya ada seorang lelaki dari Thaif pindah ke kota Madinah beserta anak-anaknya, laki-laki dan perempuan. Juga ia membawa serta kedua orang tuanya dan juga isterinya. Kemudian meninggallah lelaki ini di kota Madinah, dan terdengarlah oleh nabi saw, lalu nabi memberikan warisan kepada kedua orang tuanya dan memberikan juga pada anak-anaknya, namun tidak memberikan apa-apa kepada isterinya. Dan mereka disuruh untuk memberi nafkah sang isteri ini berupa peninggalan dari suaminya selama setahun. Dan turunlah ayat ini.
وَلِلْمُطَلَّقٰتِ مَتَاعٌ ۢبِالْمَعْرُوْفِۗ حَقًّا عَلَى الْمُتَّقِيْنَ
Kepada wanita-wanita yang diceraikan (hendaklah diberikan oleh suaminya) mutah menurut yang maruf, sebagai suatu kewajiban bagi orang yang taqwa.

Asbabunnuzul

Diriwayatkan dari Ibnu Jarir dari Ibnu Zaid, berkata bahwasanya setelah turun ayat ke 236 dalam surah Al-Baqarah, berkatalah seorang lelaki, "Jika aku ingin berbuat baik, maka akan aku lakukan, namun jika aku tidak mau, maka tidak akan aku lakukan." Lalu turunlah ayat ini, yaitu, "Kepada wanita-wanita yang diceraikan (hendaklah diberikan oleh suaminya) mutah menurut yang maruf, sebagai suatu kewajiban bagi orang yang taqwa."
مَنْ ذَا الَّذِيْ يُقْرِضُ اللّٰهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضٰعِفَهٗ لَهٗٓ اَضْعَافًا كَثِيْرَةًۗ وَاللّٰهُ يَقْبِضُ وَيَبْصُۣطُۖ وَاِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ
Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan memperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rizki) dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.

Asbabunnuzul

Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam kitab Shahih-Nya, dan dari Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Mardawaih, dari Ibnu Umar, berkata bahwasanya setelah turun ayat 261 surah Al-Baqarah, maka Rasulullah saw berdoa, "Wahai Tuhanku, tambahkanlah untuk umatku!" Maka turunlah ayat ini.
لَآ اِكْرَاهَ فِى الدِّيْنِۗ قَدْ تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّۚ فَمَنْ يَّكْفُرْ بِالطَّاغُوْتِ وَيُؤْمِنْۢ بِاللّٰهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقٰى لَا انْفِصَامَ لَهَاۗ وَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ
Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang salah. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Taghut dan beriman kepada Allah, maka sesunguhnya ia tela berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Asbabunnuzul

Diriwayatkan dari Abu Daud, dan Ibnu Hibban, dari Ibnu Abbas berkata, bahwasanya ada seorang wanita yang tidak memiliki anak karena terus meninggal, kemudian ia bersumpah atas dirinya bahwa apabila ia memiliki anak yang hidup, maka ia akan menjadikannya seorang Yahudi. Lalu ketika Bani Nadhir diusir, diantara mereka terdapat anak-anak orang Anshar, kemudian mereka mengatakan, kami tidak akan meninggalkan anak-anak kami. Maka Allah menurunkan ayat ini.
Diriwayatkan dari Ibnu Jarir dari jalur Said atau Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata bahwasanya ayat ini diturunkan mengenai seorang lelaki dari kaum Anshor dari Bani Salim bin Auf bernama Hushain. Hushain ini memiliki dua orang anak yang memeluk agama Nasrani, sedangkan dirinya sendiri seorang muslim. Maka ia berkata kepada nabi saw, "Apakah aku harus memaksa kedua anak saya untuk memeluk Islam, sedangkan keduanya menolak kecuali agama Nasrani?" Maka turunlah ayat ini.
اَللّٰهُ وَلِيُّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا يُخْرِجُهُمْ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِۗ وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اَوْلِيَاۤؤُهُمُ الطَّاغُوْتُ يُخْرِجُوْنَهُمْ مِّنَ النُّوْرِ اِلَى الظُّلُمٰتِۗ اُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ النَّارِۚ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ
Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni nereka; mereka kekal di dalamnya.

Asbabunnuzul

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, dari Abdah bin Abi Lubabah mengenai ayat 257 dalam surah Al-Baqarah, ia berkata bahwasanya mereka orang-orang yang beriman kepada Isa as, setelah kedatangan nabi Muhammad saw mereka juga beriman dan percaya pada nabi Muhammad saw. Maka turunlah ayat ini pada mereka.
Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Mujahid, ia berkata bahwasanya ayat ini berkenaan dengan adanya orang-orang yang beriman pada nabi Isa as, dan orang-orang yang kafir pada nabi Isa as. Lalu setelah nabi Muhammad saw diangkat menjadi rasul, mereka yang kafir pada Isa as menjadi beriman pada nabi Muhammad saw, dan mereka yang beriman pada Isa as menjadi kafir pada Muhammad saw, maka turunlah ayat ini.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَنْفِقُوْا مِنْ طَيِّبٰتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّآ اَخْرَجْنَا لَكُمْ مِّنَ الْاَرْضِۗ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيْثَ مِنْهُ تُنْفِقُوْنَ وَلَسْتُمْ بِاٰخِذِيْهِ اِلَّآ اَنْ تُغْمِضُوْا فِيْهِۗ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ غَنِيٌّ حَمِيْدٌ
Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan dari padanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.

Asbabunnuzul

Diriwayatkan oleh Al-Hakim, Tirmidzi dan Ibnu Majah, dari Al-Barra, ia berkata bahwasanya ayat ini turun mengenai kita orang-orang Anshar, yang mana dahulu kami mempunyai kebun kurma, dan seseorang bersedekah dengan kurmanya sesuai dengan sedikit banyaknya hasil kebunnya. Dan orang-orang yang tidak menginginkan pahala kebaikan maka ia akan bersedekah dengan tandan yang rusak, yang juga di dalamnya terdapat kurma jelek yang tidak keras bijinya dan kurma basah yang rusak. Maka turunlah ayat ini.
Diriwayatkan oleh Abu Daud dan Nasai dan Al-Hakim dari Sahal bin Hanif, ia berkata bahwasanya orang-orang dahulu nya memilih buah-buahan yang jelek untuk di keluarkan sebagai sedekah. Maka turunlah ayat ini.
Diriwayatkan oleh Al-Hakim, dari Jabir. Ia berkata bahwasanya nabi saw memerintahkan untuk mengeluarkan zakat fitrah satu sha kurma. Maka setelah itu, mengeluarkanlah salah seorang lelaki zakat dengan buah kurma yang jelek, maka turunlah ayat quran ini.
Diriwayatkan dari Ibnu Abi Hatim, dari Ibnu Abbas berkata bahwasanya dahulu para sahabat rasulullah saw suka membeli makanan yang murah untuk disedekahkan. Maka Allah menurunkan ayat ini.
لَيْسَ عَلَيْكَ هُدٰىهُمْ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ خَيْرٍ فَلِاَنْفُسِكُمْۗ وَمَا تُنْفِقُوْنَ اِلَّا ابْتِغَاۤءَ وَجْهِ اللّٰهِۗ وَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ خَيْرٍ يُّوَفَّ اِلَيْكُمْ وَاَنْتُمْ لَا تُظْلَمُوْنَ
Bukanlah kewajibanmu (Muhammad) menjadikan mereka mendapat petunjuk, tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Apa pun harta yang kamu infakkan, maka (kebaikannya) untuk dirimu sendiri. Dan janganlah kamu berinfak melainkan karena mencari rida Allah. Dan apa pun harta yang kamu infakkan, niscaya kamu akan diberi (pahala) secara penuh dan kamu tidak akan dizalimi (dirugikan).

Asbabunnuzul

Diriwayatkan oleh Nasai, Al-Hakim, Al-Bazzar dan Thabrani juga lainnya. Dari Ibnu Abbas ia berkata, bahwasanya dahulu orang-orang muslim tidak suka memberikan nafakah pada keturunan mereka yang musyrik, lalu keturunan yang musyrik itu pun meminta bagiannya. Maka diberikanlah bagiannya tersebut meski sedikit, lalu turunlah ayat ini.
Diriwayatkan oleh Al-Qurthubi dalam kitab Tafsir-nya, dari Ibnu Abbas berkata bahwasanya dahulu orang-orang Anshor enggan memberikan sedekah pada kerabat mereka dari Bani Quraidzah dan Nadhir yang kafir, dengan tujuan agar mereka yang kafir tersebut masuk Islam ketika mereka membutuhkan sedekah tersebut. Maka turunlah ayat ini karena mereka.
Diriwayatkan oleh beberapa ulama tafsir, menceritakan bahwasanya Asma binti Abu Bakar Ash-Shiddiq ingin bersilaturahmi kepada kakeknya Abu Kuhafah, kemudian ia membatalkan niatnya tersebut karena kakenya masih kafir, maka turunlah ayat ini.
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Ibnu Abbas, ia berkata bahwasanya awal mulanya nabi saw menyuruh untuk tidak bersedekah kecuali pada orang-orang Islam saja, lalu turunlah ayat ini. Kemudian beliau menyuruh untuk bersedekah pada siapa saja yang minta meski bukan orang Islam.
اَلَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ بِالَّيْلِ وَالنَّهَارِ سِرًّا وَّعَلَانِيَةً فَلَهُمْ اَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْۚ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ
Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Rabbnya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.

Asbabunnuzul

Diriwayatkan oleh Thabrani dan Ibnu Abi Hatim dari Yazid bin Abdullah bin (Gharib) dari ayahnya dari kakeknya dari nabi saw, beliau bersabda, ayat ini diturunkan mengenai orang-orang para pemilik kuda. Namun dari sanad hadis ini, Yazid dan ayahnya tidak diketahui (majhul).
Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dan Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim dan Thabrani dengan sanad yang lemah, dari Ibnu Abbas berkata bahwasanya ayat ini diturunkan mengenai perihal Ali bin Abi Thalib yang pada saat itu mempunyai empat dirham. Lalu Ali infakkan di malam hari satu dirham, dan ia infakkan di siang hari satu dirham, dan ia infakkan satu dirham secara sembunyi-sembunyi dan ia infakkan satu dirhamnya lagi secara terang-terangan.
Diriwayatkan dari Ibnu Mundzir dari Ibnu Musayyib, ia berkata bahwasanya ayat ini turun mengenai Abdurrahman bin Auf dan Utsman bin Affan yang menafkahkan hartanya untuk prajurit yang sedang kesulitan.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَذَرُوْا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبٰٓوا اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ
Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.

Asbabunnuzul

Diriwayatkan oleh Abu Yala dalam musnad-nya, dan Ibnu Mandah dari jalur Al-Kalbi dari Abu Shalih, dari Ibnu Abbas ra, berkata bahwasanya ayat ini diturunkan berkenaan permasalahan antara Bani Amru bin Auf yang dari Tsaqif dengan Bani Mughirah. Yang mana Bani Mughirah mempunyai hutang yang mengandung riba kepada Bani Amru yang dari Tsaqif tersebut. Maka tatkala Allah menaklukkan kota Makkah untuk Rasulullah, Allah menghapuskan segala macam riba pada saat itu. Kemudian Bani Amru dan Bani Mughirah datang mengadu kepada Attab bin Usaid selaku penguasa kota Makkah pada saat itu. Maka berkatalah Bani Mughirah, "kami adalah orang-orang yang paling sengsara karena riba yang dilakukan Bani Amru, sedangkan rasulullah saw telah menghapuskan segala macam riba dari selain kami." Kemudian Bani Amru berkata, "Kami telah berdamai dengan Muhammad saw dan telah sepakat bahwa riba kami dari orang-orang selain muslim adalah hak kami." Maka Attab pun mengadukan perihal ini pada rasulullah saw, lalu turunlah ayat ini dan ayat setelahnya.
Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Ikrimah, ia berkata bahwasanya ayat ini berkenaan perihal orang-orang Tsaqif, yang mana di dalamnya terdapat Masud, Habib, Rabiah dan Abdu Yalail, mereka semua dari Bani Amru dan Bani Umair.
اٰمَنَ الرَّسُوْلُ بِمَآ اُنْزِلَ اِلَيْهِ مِنْ رَّبِّهٖ وَالْمُؤْمِنُوْنَۗ كُلٌّ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَمَلٰۤىِٕكَتِهٖ وَكُتُبِهٖ وَرُسُلِهٖۗ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ اَحَدٍ مِّنْ رُّسُلِهٖۗ وَقَالُوْا سَمِعْنَا وَاَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَاِلَيْكَ الْمَصِيْرُ
Rasul telah beriman kepada al-Quran yang diturunkan kepadanya dari Rabbnya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan):"Kami tidak membeda-bedakan antara seserangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya", dan mereka mengatakan:"Kami dengar dan kami taat". (Mereka berdoa):"Ampunilah kami ya Rabb kami dan kepada Engkaulah tempat kembali".

Asbabunnuzul

Diriwayatkan oleh Muslim, Ahmad dan lainnya. Dari Abu Hurairah ra, ia berkata bahwasanya setelah turun ayat sebelumnya Al-Baqarah ayat 284 yang bunyinya: "Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu." Maka para sahabat merasa keberatan, sehingga mereka mendatangi rasulullah saw seraya berlutut dan berkata, "telah turun ayat ini kepadamu, dan kami tidak sanggup memikulnya." Maka rasulullah saw bersabda, "Apakah kamu ingin mengatakan seperti apa yang dikatakan orang-orang ahli kitab sebelum kamu, yaitu "kami mendengar namun kami tidak mematuhinya." Akan tetapi katakanlah "kami mendengar dan kami taat serta patuh" Ampunilah kami ya Rabb kami dan kepada Engkaulah tempat kembali." Ketika mereka membacannya dan lisan-lisan mereka dengan mudah mengikutinya, maka turunlah ayat sesudahnya. Al-Baqarah ayat 285 yang bunyinya, "Rasul telah beriman kepada al-Quran yang diturunkan kepadanya dari Rabbnya, demikian pula orang-orang yang beriman." sampai akhir ayat. Ketika mereka melakukan hal tersebut, maka Allah menasakhnya dan menurunkan ayat setelahnya Al-Baqarah ayat 286 yang bunyinya, "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa):"Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir."