بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
نۤ ۚوَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُوْنَۙ
Nun, demi kalam dan apa yang mereka tulis,
Tafsir Al-Muyassar
Nun. Pembicaraan tentang huruf-huruf yang berdiri sendiri-sendiri ini telah disebutkan di awal surat al-Baqarah. Allah bersumpah dengan pena yang dipakai oleh malaikat dan manusia untuk menulis dan bersumpah dengan kebaikan, kemanfaatan dan ilmu pengetahuan yang mereka tuliskan. Berkat nikmat Allah yang diberikan kepadamu, wahai Rasul, berupa kenabian dan risalah, kamu bukanlah orang yang lemah akal atau berpikiran dungu. Sesungguhnya kamu benar-benar mendapatkan pahala besar yang tidak berkurang dan tidak putus-putusnya atas kesusahan yang menimpamu karena menyampaikan risalah. Sesungguhnya kamu, wahai Rasul, benar-benar berakhlak luhur, yaitu kemuliaan akhlak yang tercakup dalam al-Quran. Sungguh kepatuhan kepada alQuran telah menjadi tabiatnya: melaksanakan perintahnya dan meninggalkan larangannya.مَآ اَنْتَ بِنِعْمَةِ رَبِّكَ بِمَجْنُوْنٍ
berkat nikmat Rabbmu kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila.
Tafsir Al-Muyassar
Nun. Pembicaraan tentang huruf-huruf yang berdiri sendiri-sendiri ini telah disebutkan di awal surat al-Baqarah. Allah bersumpah dengan pena yang dipakai oleh malaikat dan manusia untuk menulis dan bersumpah dengan kebaikan, kemanfaatan dan ilmu pengetahuan yang mereka tuliskan. Berkat nikmat Allah yang diberikan kepadamu, wahai Rasul, berupa kenabian dan risalah, kamu bukanlah orang yang lemah akal atau berpikiran dungu. Sesungguhnya kamu benar-benar mendapatkan pahala besar yang tidak berkurang dan tidak putus-putusnya atas kesusahan yang menimpamu karena menyampaikan risalah. Sesungguhnya kamu, wahai Rasul, benar-benar berakhlak luhur, yaitu kemuliaan akhlak yang tercakup dalam al-Quran. Sungguh kepatuhan kepada alQuran telah menjadi tabiatnya: melaksanakan perintahnya dan meninggalkan larangannya.وَاِنَّ لَكَ لَاَجْرًا غَيْرَ مَمْنُوْنٍۚ
Dan sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya.
Tafsir Al-Muyassar
Nun. Pembicaraan tentang huruf-huruf yang berdiri sendiri-sendiri ini telah disebutkan di awal surat al-Baqarah. Allah bersumpah dengan pena yang dipakai oleh malaikat dan manusia untuk menulis dan bersumpah dengan kebaikan, kemanfaatan dan ilmu pengetahuan yang mereka tuliskan. Berkat nikmat Allah yang diberikan kepadamu, wahai Rasul, berupa kenabian dan risalah, kamu bukanlah orang yang lemah akal atau berpikiran dungu. Sesungguhnya kamu benar-benar mendapatkan pahala besar yang tidak berkurang dan tidak putus-putusnya atas kesusahan yang menimpamu karena menyampaikan risalah. Sesungguhnya kamu, wahai Rasul, benar-benar berakhlak luhur, yaitu kemuliaan akhlak yang tercakup dalam al-Quran. Sungguh kepatuhan kepada alQuran telah menjadi tabiatnya: melaksanakan perintahnya dan meninggalkan larangannya.وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ
Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.
Tafsir Al-Muyassar
Nun. Pembicaraan tentang huruf-huruf yang berdiri sendiri-sendiri ini telah disebutkan di awal surat al-Baqarah. Allah bersumpah dengan pena yang dipakai oleh malaikat dan manusia untuk menulis dan bersumpah dengan kebaikan, kemanfaatan dan ilmu pengetahuan yang mereka tuliskan. Berkat nikmat Allah yang diberikan kepadamu, wahai Rasul, berupa kenabian dan risalah, kamu bukanlah orang yang lemah akal atau berpikiran dungu. Sesungguhnya kamu benar-benar mendapatkan pahala besar yang tidak berkurang dan tidak putus-putusnya atas kesusahan yang menimpamu karena menyampaikan risalah. Sesungguhnya kamu, wahai Rasul, benar-benar berakhlak luhur, yaitu kemuliaan akhlak yang tercakup dalam al-Quran. Sungguh kepatuhan kepada alQuran telah menjadi tabiatnya: melaksanakan perintahnya dan meninggalkan larangannya.فَسَتُبْصِرُ وَيُبْصِرُوْنَۙ
Maka kelak kamu kamu akan melihat dan mereka (orang-orang kafir)pun akan melihat,
Tafsir Al-Muyassar
Sebentar lagi kamu akan melihat, wahai Rasul, dan orang-orang kafir akan melihat siapa di antara kalian yang sesat dan gila?بِاَيِّىكُمُ الْمَفْتُوْنُ
siapa di antara kamu yang gila?
Tafsir Al-Muyassar
Sebentar lagi kamu akan melihat, wahai Rasul, dan orang-orang kafir akan melihat siapa di antara kalian yang sesat dan gila?اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖۖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ
Sesungguhnya Rabbmu, Dialah Yang Paling Mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya; dan Dia-lah Yang Paling Mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.
Tafsir Al-Muyassar
Sesungguhnya Rabbmulah yang paling tahu tentang orang yang menyimpang dari agama Allah dan jalan yang lurus, serta Dialah yang paling tahu orang yang bertakwa lagi mendapat petunjuk kepada agama yang hak. فَلاَ تُطِعِ الْمُكَذِّبِينَ
Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah).
Tafsir Al-Muyassar
Karena itu, tetaplah pada pendirianmu, wahai Rasul, yaitu menyelisihi orang-orang yang mendustakan dan tidak mematuhi mereka.وَدُّوْا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُوْنَۚ
Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu).
Tafsir Al-Muyassar
Mereka berharap dan menginginkan supaya kamu bersikap lunak kepada mereka, dan berpura-pura kepada mereka atas sebagian yang mereka lakukan, sehingga mereka akan bersikap lunak kepadamu. وَلاَتُطِعْ كُلَّ حَلاَّفٍ مَّهِينٍ
Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina.
Tafsir Al-Muyassar
Janganlah kamu, wahai Rasul, mengikuti setiap orang yang banyak bersumpah, pendusta lagi hina, banyak menggunjing orang lain, berjalan ke sana ke mari untuk mengadu domba, menukil pembicaraan satu sama lain untuk merusak hubungan di antara mereka, bakhil dengan harta, kikir dari menunaikan hak, sangat enggan berbuat baik, melampaui batas dalam menzhalimi orang lain dan makan suatu yang diharamkan, banyak berbuat dosa, sangat keras dalam kekafirannya, sangat keji, dinisbatkan kepada selain ayahnya. Karena ia mempunyai banyak harta dan anak, ia melampui batas dan menolak kebenaran. Apabila seseorang membacakan padanya ayat-ayat al-Quran, maka ia mendustakannya seraya berkata, "Ini adalah dongeng dan khurafat orang-orang dahulu." Ayat-ayat ini, meskipun turun berkenaan dengan sebagian kaum musyrik, seperti al-Walid bin al-Mughirah, hanya saja ayat ini menjadi peringatan bagi orang muslim untuk tidak meniru orang-orang yang mempunyai sifat-sifat tercela ini.هَمَّازٍ مَّشَّاۤءٍۢ بِنَمِيْمٍۙ
yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah,
Tafsir Al-Muyassar
Janganlah kamu, wahai Rasul, mengikuti setiap orang yang banyak bersumpah, pendusta lagi hina, banyak menggunjing orang lain, berjalan ke sana ke mari untuk mengadu domba, menukil pembicaraan satu sama lain untuk merusak hubungan di antara mereka, bakhil dengan harta, kikir dari menunaikan hak, sangat enggan berbuat baik, melampaui batas dalam menzhalimi orang lain dan makan suatu yang diharamkan, banyak berbuat dosa, sangat keras dalam kekafirannya, sangat keji, dinisbatkan kepada selain ayahnya. Karena ia mempunyai banyak harta dan anak, ia melampui batas dan menolak kebenaran. Apabila seseorang membacakan padanya ayat-ayat al-Quran, maka ia mendustakannya seraya berkata, "Ini adalah dongeng dan khurafat orang-orang dahulu." Ayat-ayat ini, meskipun turun berkenaan dengan sebagian kaum musyrik, seperti al-Walid bin al-Mughirah, hanya saja ayat ini menjadi peringatan bagi orang muslim untuk tidak meniru orang-orang yang mempunyai sifat-sifat tercela ini.مَّنَّاعٍ لِّلْخَيْرِ مُعْتَدٍ اَثِيْمٍۙ
yang sangat enggan berbuat baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa,
Tafsir Al-Muyassar
Janganlah kamu, wahai Rasul, mengikuti setiap orang yang banyak bersumpah, pendusta lagi hina, banyak menggunjing orang lain, berjalan ke sana ke mari untuk mengadu domba, menukil pembicaraan satu sama lain untuk merusak hubungan di antara mereka, bakhil dengan harta, kikir dari menunaikan hak, sangat enggan berbuat baik, melampaui batas dalam menzhalimi orang lain dan makan suatu yang diharamkan, banyak berbuat dosa, sangat keras dalam kekafirannya, sangat keji, dinisbatkan kepada selain ayahnya. Karena ia mempunyai banyak harta dan anak, ia melampui batas dan menolak kebenaran. Apabila seseorang membacakan padanya ayat-ayat al-Quran, maka ia mendustakannya seraya berkata, "Ini adalah dongeng dan khurafat orang-orang dahulu." Ayat-ayat ini, meskipun turun berkenaan dengan sebagian kaum musyrik, seperti al-Walid bin al-Mughirah, hanya saja ayat ini menjadi peringatan bagi orang muslim untuk tidak meniru orang-orang yang mempunyai sifat-sifat tercela ini.عُتُلٍّۢ بَعْدَ ذٰلِكَ زَنِيْمٍۙ
yang kaku kasar, selain dari itu, yang terkenal kejahatannya,
Tafsir Al-Muyassar
Janganlah kamu, wahai Rasul, mengikuti setiap orang yang banyak bersumpah, pendusta lagi hina, banyak menggunjing orang lain, berjalan ke sana ke mari untuk mengadu domba, menukil pembicaraan satu sama lain untuk merusak hubungan di antara mereka, bakhil dengan harta, kikir dari menunaikan hak, sangat enggan berbuat baik, melampaui batas dalam menzhalimi orang lain dan makan suatu yang diharamkan, banyak berbuat dosa, sangat keras dalam kekafirannya, sangat keji, dinisbatkan kepada selain ayahnya. Karena ia mempunyai banyak harta dan anak, ia melampui batas dan menolak kebenaran. Apabila seseorang membacakan padanya ayat-ayat al-Quran, maka ia mendustakannya seraya berkata, "Ini adalah dongeng dan khurafat orang-orang dahulu." Ayat-ayat ini, meskipun turun berkenaan dengan sebagian kaum musyrik, seperti al-Walid bin al-Mughirah, hanya saja ayat ini menjadi peringatan bagi orang muslim untuk tidak meniru orang-orang yang mempunyai sifat-sifat tercela ini.اَنْ كَانَ ذَا مَالٍ وَّبَنِيْنَۗ
karena dia mempunyai (banyak) harta dan anak.
Tafsir Al-Muyassar
Janganlah kamu, wahai Rasul, mengikuti setiap orang yang banyak bersumpah, pendusta lagi hina, banyak menggunjing orang lain, berjalan ke sana ke mari untuk mengadu domba, menukil pembicaraan satu sama lain untuk merusak hubungan di antara mereka, bakhil dengan harta, kikir dari menunaikan hak, sangat enggan berbuat baik, melampaui batas dalam menzhalimi orang lain dan makan suatu yang diharamkan, banyak berbuat dosa, sangat keras dalam kekafirannya, sangat keji, dinisbatkan kepada selain ayahnya. Karena ia mempunyai banyak harta dan anak, ia melampui batas dan menolak kebenaran. Apabila seseorang membacakan padanya ayat-ayat al-Quran, maka ia mendustakannya seraya berkata, "Ini adalah dongeng dan khurafat orang-orang dahulu." Ayat-ayat ini, meskipun turun berkenaan dengan sebagian kaum musyrik, seperti al-Walid bin al-Mughirah, hanya saja ayat ini menjadi peringatan bagi orang muslim untuk tidak meniru orang-orang yang mempunyai sifat-sifat tercela ini.اِذَا تُتْلٰى عَلَيْهِ اٰيٰتُنَا قَالَ اَسَاطِيْرُ الْاَوَّلِيْنَۗ
Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: "(Ini adalah) dongeng-dongengan orang-orang dahulu kala."
Tafsir Al-Muyassar
Janganlah kamu, wahai Rasul, mengikuti setiap orang yang banyak bersumpah, pendusta lagi hina, banyak menggunjing orang lain, berjalan ke sana ke mari untuk mengadu domba, menukil pembicaraan satu sama lain untuk merusak hubungan di antara mereka, bakhil dengan harta, kikir dari menunaikan hak, sangat enggan berbuat baik, melampaui batas dalam menzhalimi orang lain dan makan suatu yang diharamkan, banyak berbuat dosa, sangat keras dalam kekafirannya, sangat keji, dinisbatkan kepada selain ayahnya. Karena ia mempunyai banyak harta dan anak, ia melampui batas dan menolak kebenaran. Apabila seseorang membacakan padanya ayat-ayat al-Quran, maka ia mendustakannya seraya berkata, "Ini adalah dongeng dan khurafat orang-orang dahulu." Ayat-ayat ini, meskipun turun berkenaan dengan sebagian kaum musyrik, seperti al-Walid bin al-Mughirah, hanya saja ayat ini menjadi peringatan bagi orang muslim untuk tidak meniru orang-orang yang mempunyai sifat-sifat tercela ini.سَنَسِمُهٗ عَلَى الْخُرْطُوْمِ
Kelak akan Kami beri tanda dia dibelalai(nya).
Tafsir Al-Muyassar
Kelak Kami akan memberikan pada hidungnya tanda yang melekat yang tidak akan terpisah darinya sebagai hukuman baginya, agar dengan tanda tersebut, aibnya tersiar di hadapan manusia.اِنَّا بَلَوْنٰهُمْ كَمَا بَلَوْنَآ اَصْحٰبَ الْجَنَّةِۚ اِذْ اَقْسَمُوْا لَيَصْرِمُنَّهَا مُصْبِحِيْنَۙ
Sesungguhnya Kami telah mencobai mereka (musyrikin Mekah) sebagaimana Kami telah mencobai pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik (hasil)nya di pagi hari,
Tafsir Al-Muyassar
Sesungguhnya Kami telah menguji penduduk Mekah dengan kelaparan dan kekeringan, sebagaimana Kami telah menguji para pemilik kebun, ketika mereka bersumpah di antara mereka bahwa sungguh mereka akan memetik hasil kebun mereka pada pagi-pagi sekali. Sehingga, orang-orang selain mereka dari kalangan kaum miskin dan semisal tidak dapat makan darinya, dan mereka tidak mengucapkan insya Allah.وَلَا يَسْتَثْنُوْنَ
tetapi mereka tidak menyisihkan (dengan mengucapkan, “Insya Allah”).
Tafsir Al-Muyassar
Sesungguhnya Kami telah menguji penduduk Mekah dengan kelaparan dan kekeringan, sebagaimana Kami telah menguji para pemilik kebun, ketika mereka bersumpah di antara mereka bahwa sungguh mereka akan memetik hasil kebun mereka pada pagi-pagi sekali. Sehingga, orang-orang selain mereka dari kalangan kaum miskin dan semisal tidak dapat makan darinya, dan mereka tidak mengucapkan insya Allah.فَطَافَ عَلَيْهَا طَاۤىِٕفٌ مِّنْ رَّبِّكَ وَهُمْ نَاۤىِٕمُوْنَ
lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Rabbmu ketika mereka sedang tidur,
Tafsir Al-Muyassar
Allah pun menurunkan padanya api yang membakarnya pada malam hari ketika mereka sedang terlelap tidur. Kebun itu pun menjadi hitam karena terbakar seperti malam yang gelap gulita.فَاَصْبَحَتْ كَالصَّرِيْمِۙ
maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita,
Tafsir Al-Muyassar
Allah pun menurunkan padanya api yang membakarnya pada malam hari ketika mereka sedang terlelap tidur. Kebun itu pun menjadi hitam karena terbakar seperti malam yang gelap gulita.فَتَنَادَوْا مُصْبِحِيْنَۙ
lalu mereka panggil memanggil di pagi hari.
Tafsir Al-Muyassar
Lalu mereka memanggil satu sama lain pada waktu pagi, "Pergilah pagi-pagi ke kebun kalian, jika kalian hendak memetik buahnya."اَنِ اغْدُوْا عَلٰى حَرْثِكُمْ اِنْ كُنْتُمْ صَارِمِيْنَ
"Pergilah di waktu pagi (ini) ke kebunmu jika kamu hendak memetik buahnya."
Tafsir Al-Muyassar
Lalu mereka memanggil satu sama lain pada waktu pagi, "Pergilah pagi-pagi ke kebun kalian, jika kalian hendak memetik buahnya."فَانْطَلَقُوْا وَهُمْ يَتَخَافَتُوْنَۙ
Maka pergilah mereka saling berbisik-bisikan.
Tafsir Al-Muyassar
Mereka pun segera pergi sambil berbisikbisik di antara mereka, "Pada hari ini jangan biarkan seorang pun dari orang-orang yang membutuhkan masuk ke kebun kalian."اَنْ لَّا يَدْخُلَنَّهَا الْيَوْمَ عَلَيْكُمْ مِّسْكِيْنٌۙ
"Pada hari ini janganlah ada seorang miskinpun yang masuk ke dalam kebunmu."
Tafsir Al-Muyassar
Mereka pun segera pergi sambil berbisik-bisik di antara mereka, "Pada hari ini jangan biarkan seorang pun dari orang-orang yang membutuhkan masuk ke kebun kalian."وَّغَدَوْا عَلٰى حَرْدٍ قَادِرِيْنَ
Dan berangkatlah mereka di pagi hari dengan niat menghalangi (orang-orang miskin) padahal mereka mampu (menolongnya).
Tafsir Al-Muyassar
Mereka berangkat di awal hari ke kebun mereka dengan niat buruk, yaitu menghalangi orang-orang miskin dari hasil kebun, sedangkan mereka sangat mampu untuk melaksanakannya dalam dugaan mereka.فَلَمَّا رَاَوْهَا قَالُوْٓا اِنَّا لَضَاۤلُّوْنَۙ
Tatkala mereka melihat kebun itu, mereka berkata: "Sesungguhnya kita benar-benar orang-orang yang sesat (jalan),
Tafsir Al-Muyassar
Tatkala mereka melihat kebun mereka terbakar, mereka mengingkarinya seraya berkata, "Sesungguhnya kita benar-benar orang-orang yang salah jalan menuju kebun itu." Ketika mereka mengetahui bahwa itulah kebun mereka, mereka mengatakan, "Bahkan kita dihalangi dari mendapatkan kebaikannya, disebabkan kita bertekad untuk kikir dan menghalangi orang miskin." Berkatalah orang yang paling adil di antara mereka, "Bukankah aku telah mengatakan kepada kalian, "Mengapakah kalian tidak beristitsna" dengan mengucapkan insya Allah?" Mereka berkata, setelah kembali tersadar, "Mahasuci Rabb kami dari kezhaliman berkenaan dengan musibah yang menimpa kami, tetapi kamilah orang-orang yang menzhalimi diri kami sendiri dengan meninggalkan istitsna (mengucapkan insya Allah) dan niat kami yang buruk." Lalu mereka menatap satu sama lain dan saling mencela karena telah meninggalkan istitsna` dan mempunyai niatan yang buruk. Mereka berkata, "Aduhai celaka kita, kita telah bertindak melampui batas karena menghalangi kaum fakir dan menyelisihi perintah Allah. Mudah-mudahan Rabb kita memberikan kepada kita dengan yang lebih baik daripada kebun kita, disebabkan taubat kita dan pengakuan dosa kita. Sesungguhnya hanya kepada Rabb kita sajalah kita menginginkan, mengharapkan ampunan, mencari kebaikan. Seperti siksa yang telah Kami timpakan pada para pemilik kebun itulah siksa Kami di dunia terhadap siapa saja yang menentang perintah Allah, dan bakhil dengan nikmat-nikmat yang Allah berikan kepadanya, lalu ia tidak menunaikan hak Allah pada nikmat-nikmat tersebut. Sungguh adzab akhirat itu lebih besar dan lebih keras dibandingkan adzab dunia. Seandainya mereka mengetahuinya, niscaya mereka telah meninggalkan segala faktor yang menyebabkan adzab. بَلْ نَحْنُ مَحْرُومُونَ
bahkan kita dihalangi (dari memperoleh hasilnya)."
Tafsir Al-Muyassar
Tatkala mereka melihat kebun mereka terbakar, mereka mengingkarinya seraya berkata, "Sesungguhnya kita benar-benar orang-orang yang salah jalan menuju kebun itu." Ketika mereka mengetahui bahwa itulah kebun mereka, mereka mengatakan, "Bahkan kita dihalangi dari mendapatkan kebaikannya, disebabkan kita bertekad untuk kikir dan menghalangi orang miskin." Berkatalah orang yang paling adil di antara mereka, "Bukankah aku telah mengatakan kepada kalian, "Mengapakah kalian tidak beristitsna" dengan mengucapkan insya Allah?" Mereka berkata, setelah kembali tersadar, "Mahasuci Rabb kami dari kezhaliman berkenaan dengan musibah yang menimpa kami, tetapi kamilah orang-orang yang menzhalimi diri kami sendiri dengan meninggalkan istitsna (mengucapkan insya Allah) dan niat kami yang buruk." Lalu mereka menatap satu sama lain dan saling mencela karena telah meninggalkan istitsna` dan mempunyai niatan yang buruk. Mereka berkata, "Aduhai celaka kita, kita telah bertindak melampui batas karena menghalangi kaum fakir dan menyelisihi perintah Allah. Mudah-mudahan Rabb kita memberikan kepada kita dengan yang lebih baik daripada kebun kita, disebabkan taubat kita dan pengakuan dosa kita. Sesungguhnya hanya kepada Rabb kita sajalah kita menginginkan, mengharapkan ampunan, mencari kebaikan. Seperti siksa yang telah Kami timpakan pada para pemilik kebun itulah siksa Kami di dunia terhadap siapa saja yang menentang perintah Allah, dan bakhil dengan nikmat-nikmat yang Allah berikan kepadanya, lalu ia tidak menunaikan hak Allah pada nikmat-nikmat tersebut. Sungguh adzab akhirat itu lebih besar dan lebih keras dibandingkan adzab dunia. Seandainya mereka mengetahuinya, niscaya mereka telah meninggalkan segala faktor yang menyebabkan adzab.قَالَ اَوْسَطُهُمْ اَلَمْ اَقُلْ لَّكُمْ لَوْلَا تُسَبِّحُوْنَ
Berkatalah seorang yang paling baik pikirannya di antara mereka: "Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, hendaklah kamu bertasbih (kepada Rabbmu)."
Tafsir Al-Muyassar
Tatkala mereka melihat kebun mereka terbakar, mereka mengingkarinya seraya berkata, "Sesungguhnya kita benar-benar orang-orang yang salah jalan menuju kebun itu." Ketika mereka mengetahui bahwa itulah kebun mereka, mereka mengatakan, "Bahkan kita dihalangi dari mendapatkan kebaikannya, disebabkan kita bertekad untuk kikir dan menghalangi orang miskin." Berkatalah orang yang paling adil di antara mereka, "Bukankah aku telah mengatakan kepada kalian, "Mengapakah kalian tidak beristitsna" dengan mengucapkan insya Allah?" Mereka berkata, setelah kembali tersadar, "Mahasuci Rabb kami dari kezhaliman berkenaan dengan musibah yang menimpa kami, tetapi kamilah orang-orang yang menzhalimi diri kami sendiri dengan meninggalkan istitsna (mengucapkan insya Allah) dan niat kami yang buruk." Lalu mereka menatap satu sama lain dan saling mencela karena telah meninggalkan istitsna` dan mempunyai niatan yang buruk. Mereka berkata, "Aduhai celaka kita, kita telah bertindak melampui batas karena menghalangi kaum fakir dan menyelisihi perintah Allah. Mudah-mudahan Rabb kita memberikan kepada kita dengan yang lebih baik daripada kebun kita, disebabkan taubat kita dan pengakuan dosa kita. Sesungguhnya hanya kepada Rabb kita sajalah kita menginginkan, mengharapkan ampunan, mencari kebaikan. Seperti siksa yang telah Kami timpakan pada para pemilik kebun itulah siksa Kami di dunia terhadap siapa saja yang menentang perintah Allah, dan bakhil dengan nikmat-nikmat yang Allah berikan kepadanya, lalu ia tidak menunaikan hak Allah pada nikmat-nikmat tersebut. Sungguh adzab akhirat itu lebih besar dan lebih keras dibandingkan adzab dunia. Seandainya mereka mengetahuinya, niscaya mereka telah meninggalkan segala faktor yang menyebabkan adzab.قَالُوْا سُبْحٰنَ رَبِّنَآ اِنَّا كُنَّا ظٰلِمِيْنَ
Mereka mengucapkan: "Maha Suci Rabb kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim."
Tafsir Al-Muyassar
Tatkala mereka melihat kebun mereka terbakar, mereka mengingkarinya seraya berkata, "Sesungguhnya kita benar-benar orang-orang yang salah jalan menuju kebun itu." Ketika mereka mengetahui bahwa itulah kebun mereka, mereka mengatakan, "Bahkan kita dihalangi dari mendapatkan kebaikannya, disebabkan kita bertekad untuk kikir dan menghalangi orang miskin." Berkatalah orang yang paling adil di antara mereka, "Bukankah aku telah mengatakan kepada kalian, "Mengapakah kalian tidak beristitsna" dengan mengucapkan insya Allah?" Mereka berkata, setelah kembali tersadar, "Mahasuci Rabb kami dari kezhaliman berkenaan dengan musibah yang menimpa kami, tetapi kamilah orang-orang yang menzhalimi diri kami sendiri dengan meninggalkan istitsna (mengucapkan insya Allah) dan niat kami yang buruk." Lalu mereka menatap satu sama lain dan saling mencela karena telah meninggalkan istitsna` dan mempunyai niatan yang buruk. Mereka berkata, "Aduhai celaka kita, kita telah bertindak melampui batas karena menghalangi kaum fakir dan menyelisihi perintah Allah. Mudah-mudahan Rabb kita memberikan kepada kita dengan yang lebih baik daripada kebun kita, disebabkan taubat kita dan pengakuan dosa kita. Sesungguhnya hanya kepada Rabb kita sajalah kita menginginkan, mengharapkan ampunan, mencari kebaikan." Seperti siksa yang telah Kami timpakan pada para pemilik kebun itulah siksa Kami di dunia terhadap siapa saja yang menentang perintah Allah, dan bakhil dengan nikmat-nikmat yang Allah berikan kepadanya, lalu ia tidak menunaikan hak Allah pada nikmat-nikmat tersebut. Sungguh adzab akhirat itu lebih besar dan lebih keras dibandingkan adzab dunia. Seandainya mereka mengetahuinya, niscaya mereka telah meninggalkan segala faktor yang menyebabkan adzab.فَاَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلٰى بَعْضٍ يَّتَلَاوَمُوْنَ
Lalu sebagian mereka menghadapi sebagian yang lain seraya cela-mencela.
Tafsir Al-Muyassar
Tatkala mereka melihat kebun mereka terbakar, mereka mengingkarinya seraya berkata, "Sesungguhnya kita benar-benar orang-orang yang salah jalan menuju kebun itu." Ketika mereka mengetahui bahwa itulah kebun mereka, mereka mengatakan, "Bahkan kita dihalangi dari mendapatkan kebaikannya, disebabkan kita bertekad untuk kikir dan menghalangi orang miskin." Berkatalah orang yang paling adil di antara mereka, "Bukankah aku telah mengatakan kepada kalian, "Mengapakah kalian tidak beristitsna" dengan mengucapkan insya Allah?" Mereka berkata, setelah kembali tersadar, "Mahasuci Rabb kami dari kezhaliman berkenaan dengan musibah yang menimpa kami, tetapi kamilah orang-orang yang menzhalimi diri kami sendiri dengan meninggalkan istitsna (mengucapkan insya Allah) dan niat kami yang buruk." Lalu mereka menatap satu sama lain dan saling mencela karena telah meninggalkan istitsna` dan mempunyai niatan yang buruk. Mereka berkata, "Aduhai celaka kita, kita telah bertindak melampui batas karena menghalangi kaum fakir dan menyelisihi perintah Allah. Mudah-mudahan Rabb kita memberikan kepada kita dengan yang lebih baik daripada kebun kita, disebabkan taubat kita dan pengakuan dosa kita. Sesungguhnya hanya kepada Rabb kita sajalah kita menginginkan, mengharapkan ampunan, mencari kebaikan." Seperti siksa yang telah Kami timpakan pada para pemilik kebun itulah siksa Kami di dunia terhadap siapa saja yang menentang perintah Allah, dan bakhil dengan nikmat-nikmat yang Allah berikan kepadanya, lalu ia tidak menunaikan hak Allah pada nikmat-nikmat tersebut. Sungguh adzab akhirat itu lebih besar dan lebih keras dibandingkan adzab dunia. Seandainya mereka mengetahuinya, niscaya mereka telah meninggalkan segala faktor yang menyebabkan adzab.قَالُوْا يٰوَيْلَنَآ اِنَّا كُنَّا طٰغِيْنَ
Mereka berkata:"Aduhai celakalah kita; sesungguhnya kita ini adalah orang-orang yang melampui batas."
Tafsir Al-Muyassar
Tatkala mereka melihat kebun mereka terbakar, mereka mengingkarinya seraya berkata, "Sesungguhnya kita benar-benar orang-orang yang salah jalan menuju kebun itu." Ketika mereka mengetahui bahwa itulah kebun mereka, mereka mengatakan, "Bahkan kita dihalangi dari mendapatkan kebaikannya, disebabkan kita bertekad untuk kikir dan menghalangi orang miskin." Berkatalah orang yang paling adil di antara mereka, "Bukankah aku telah mengatakan kepada kalian, "Mengapakah kalian tidak beristitsna" dengan mengucapkan insya Allah?" Mereka berkata, setelah kembali tersadar, "Mahasuci Rabb kami dari kezhaliman berkenaan dengan musibah yang menimpa kami, tetapi kamilah orang-orang yang menzhalimi diri kami sendiri dengan meninggalkan istitsna (mengucapkan insya Allah) dan niat kami yang buruk." Lalu mereka menatap satu sama lain dan saling mencela karena telah meninggalkan istitsna` dan mempunyai niatan yang buruk. Mereka berkata, "Aduhai celaka kita, kita telah bertindak melampui batas karena menghalangi kaum fakir dan menyelisihi perintah Allah. Mudah-mudahan Rabb kita memberikan kepada kita dengan yang lebih baik daripada kebun kita, disebabkan taubat kita dan pengakuan dosa kita. Sesungguhnya hanya kepada Rabb kita sajalah kita menginginkan, mengharapkan ampunan, mencari kebaikan." Seperti siksa yang telah Kami timpakan pada para pemilik kebun itulah siksa Kami di dunia terhadap siapa saja yang menentang perintah Allah, dan bakhil dengan nikmat-nikmat yang Allah berikan kepadanya, lalu ia tidak menunaikan hak Allah pada nikmat-nikmat tersebut. Sungguh adzab akhirat itu lebih besar dan lebih keras dibandingkan adzab dunia. Seandainya mereka mengetahuinya, niscaya mereka telah meninggalkan segala faktor yang menyebabkan adzab.عَسٰى رَبُّنَآ اَنْ يُّبْدِلَنَا خَيْرًا مِّنْهَآ اِنَّآ اِلٰى رَبِّنَا رَاغِبُوْنَ
Mudah-mudahan Rabb kita memberi ganti kepada kita dengan (kebun) yang lebih baik daripada itu; sesungguhnya kita mengharapkan ampunan dari Rabb kita.
Tafsir Al-Muyassar
Tatkala mereka melihat kebun mereka terbakar, mereka mengingkarinya seraya berkata, "Sesungguhnya kita benar-benar orang-orang yang salah jalan menuju kebun itu." Ketika mereka mengetahui bahwa itulah kebun mereka, mereka mengatakan, "Bahkan kita dihalangi dari mendapatkan kebaikannya, disebabkan kita bertekad untuk kikir dan menghalangi orang miskin." Berkatalah orang yang paling adil di antara mereka, "Bukankah aku telah mengatakan kepada kalian, "Mengapakah kalian tidak beristitsna" dengan mengucapkan insya Allah?" Mereka berkata, setelah kembali tersadar, "Mahasuci Rabb kami dari kezhaliman berkenaan dengan musibah yang menimpa kami, tetapi kamilah orang-orang yang menzhalimi diri kami sendiri dengan meninggalkan istitsna (mengucapkan insya Allah) dan niat kami yang buruk." Lalu mereka menatap satu sama lain dan saling mencela karena telah meninggalkan istitsna` dan mempunyai niatan yang buruk. Mereka berkata, "Aduhai celaka kita, kita telah bertindak melampui batas karena menghalangi kaum fakir dan menyelisihi perintah Allah. Mudah-mudahan Rabb kita memberikan kepada kita dengan yang lebih baik daripada kebun kita, disebabkan taubat kita dan pengakuan dosa kita. Sesungguhnya hanya kepada Rabb kita sajalah kita menginginkan, mengharapkan ampunan, mencari kebaikan." Seperti siksa yang telah Kami timpakan pada para pemilik kebun itulah siksa Kami di dunia terhadap siapa saja yang menentang perintah Allah, dan bakhil dengan nikmat-nikmat yang Allah berikan kepadanya, lalu ia tidak menunaikan hak Allah pada nikmat-nikmat tersebut. Sungguh adzab akhirat itu lebih besar dan lebih keras dibandingkan adzab dunia. Seandainya mereka mengetahuinya, niscaya mereka telah meninggalkan segala faktor yang menyebabkan adzab.كَذٰلِكَ الْعَذَابُۗ وَلَعَذَابُ الْاٰخِرَةِ اَكْبَرُۘ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ
Seperti itulah azab (dunia). Dan sesungguhnya azab akhirat lebih besar jika mereka mengetahui.
Tafsir Al-Muyassar
Tatkala mereka melihat kebun mereka terbakar, mereka mengingkarinya seraya berkata, "Sesungguhnya kita benar-benar orang-orang yang salah jalan menuju kebun itu." Ketika mereka mengetahui bahwa itulah kebun mereka, mereka mengatakan, "Bahkan kita dihalangi dari mendapatkan kebaikannya, disebabkan kita bertekad untuk kikir dan menghalangi orang miskin." Berkatalah orang yang paling adil di antara mereka, "Bukankah aku telah mengatakan kepada kalian, "Mengapakah kalian tidak beristitsna" dengan mengucapkan insya Allah?" Mereka berkata, setelah kembali tersadar, "Mahasuci Rabb kami dari kezhaliman berkenaan dengan musibah yang menimpa kami, tetapi kamilah orang-orang yang menzhalimi diri kami sendiri dengan meninggalkan istitsna (mengucapkan insya Allah) dan niat kami yang buruk." Lalu mereka menatap satu sama lain dan saling mencela karena telah meninggalkan istitsna` dan mempunyai niatan yang buruk. Mereka berkata, "Aduhai celaka kita, kita telah bertindak melampui batas karena menghalangi kaum fakir dan menyelisihi perintah Allah. Mudah-mudahan Rabb kita memberikan kepada kita dengan yang lebih baik daripada kebun kita, disebabkan taubat kita dan pengakuan dosa kita. Sesungguhnya hanya kepada Rabb kita sajalah kita menginginkan, mengharapkan ampunan, mencari kebaikan." Seperti siksa yang telah Kami timpakan pada para pemilik kebun itulah siksa Kami di dunia terhadap siapa saja yang menentang perintah Allah, dan bakhil dengan nikmat-nikmat yang Allah berikan kepadanya, lalu ia tidak menunaikan hak Allah pada nikmat-nikmat tersebut. Sungguh adzab akhirat itu lebih besar dan lebih keras dibandingkan adzab dunia. Seandainya mereka mengetahuinya, niscaya mereka telah meninggalkan segala faktor yang menyebabkan adzab.اِنَّ لِلْمُتَّقِيْنَ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنّٰتِ النَّعِيْمِ
Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertaqwa (disediakan) surga-surga yang penuh kenikmatan di sisi Rabbnya.
Tafsir Al-Muyassar
Sesungguhnya orang-orang yang takut terhadap adzab Allah dengan melaksanakan perintahkan-Nya dan meninggalkan, niscaya mereka mendapatkan di sisi Rabb mereka di akhirat surga-surga yang berisikan kenikmatan yang abadi.اَفَنَجْعَلُ الْمُسْلِمِيْنَ كَالْمُجْرِمِيْنَۗ
Maka apakah patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir).
Tafsir Al-Muyassar
Maka apakah Kami menjadikan orang-orang yang tunduk kepada Allah dengan melakukan ketaatan itu sama dengan orang-orang kafir? Mengapa kalian memutuskan hukum yang zhalim ini, dengan menyamakan mereka dalam hal pahala?مَا لَكُمْۗ كَيْفَ تَحْكُمُوْنَۚ
Mengapa kamu (berbuat demikian); bagaimanakah kamu mengambil keputusan?
Tafsir Al-Muyassar
Maka apakah Kami menjadikan orang-orang yang tunduk kepada Allah dengan melakukan ketaatan itu sama dengan orang-orang kafir? Mengapa kalian memutuskan hukum yang zhalim ini, dengan menyamakan mereka dalam hal pahala?اَمْ لَكُمْ كِتٰبٌ فِيْهِ تَدْرُسُوْنَۙ
Atau adakah kamu mempunyai sebuah kitab (yang diturunkan Allah) yang kamu membacanya,
Tafsir Al-Muyassar
Ataukah kalian mempunyai kitab yang diturunkan dari langit yang kalian dapati di dalamnya bahwa orang yang taat itu sama dengan orang yang bermaksiat, lalu kalian mempelajari di dalamnya apa yang kalian katakan? Kalau begitu, dalam kitab ini kalian memiliki apa saja yang kalian sukai. Sementara kalian tidak memiliki hal itu.اِنَّ لَكُمْ فِيْهِ لَمَا تَخَيَّرُوْنَۚ
bahwa didalamnya kamu benar-benar boleh memilih apa yang kamu sukai untukmu.
Tafsir Al-Muyassar
Ataukah kalian mempunyai kitab yang diturunkan dari langit yang kalian dapati di dalamnya bahwa orang yang taat itu sama dengan orang yang bermaksiat, lalu kalian mempelajari di dalamnya apa yang kalian katakan? Kalau begitu, dalam kitab ini kalian memiliki apa saja yang kalian sukai. Sementara kalian tidak memiliki hal itu.اَمْ لَكُمْ اَيْمَانٌ عَلَيْنَا بَالِغَةٌ اِلٰى يَوْمِ الْقِيٰمَةِۙ اِنَّ لَكُمْ لَمَا تَحْكُمُوْنَۚ
Atau apakah kamu memperoleh janji-janji yang diperkuat dengan sumpah dari Kami, yang tetap berlaku sampai hari kiamat; sesungguhnya kamu benar-benar dapat mengambil keputusan (sekehendakmu)
Tafsir Al-Muyassar
Apakah kalian memperoleh janji-janji pada Kami yang menyebutkan bahwa kalian akan mendapatkan segala yang kalian inginkan?سَلْهُمْ اَيُّهُمْ بِذٰلِكَ زَعِيْمٌۚ
Tanyakanlah kepada mereka: "Siapakah di antara mereka yang bertanggung jawab terhadap keputusan yang diambil itu?"
Tafsir Al-Muyassar
Tanyakan kepada orang-orang musyrik, wahai Rasul, siapakah di antara mereka yang menjamin dan bertanggung jawab terhadap keputusan itu bahwa ia akan mendapatkan hal itu. Ataukah mereka mempunyai sembahan-sembahan yang menjamin mereka atas apa yang mereka katakan, dan membantu mereka untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan? Silahkan mereka mendatangkan sembahan-sembahan itu, jika mereka adalah orang-orang yang benar dalam pengklaiman mereka.اَمْ لَهُمْ شُرَكَاۤءُۚ فَلْيَأْتُوْا بِشُرَكَاۤىِٕهِمْ اِنْ كَانُوْا صٰدِقِيْنَ
Atau apakah mereka mempunyai sekutu-sekutu? Maka hendaklah mereka mendatangkan sekutu-sekutunya jika mereka adalah orang-orang yang benar.
Tafsir Al-Muyassar
Tanyakan kepada orang-orang musyrik, wahai Rasul, siapakah di antara mereka yang menjamin dan bertanggung jawab terhadap keputusan itu bahwa ia akan mendapatkan hal itu. Ataukah mereka mempunyai sembahan-sembahan yang menjamin mereka atas apa yang mereka katakan, dan membantu mereka untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan? Silahkan mereka mendatangkan sembahan-sembahan itu, jika mereka adalah orang-orang yang benar dalam pengklaiman mereka.يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَاقٍ وَّيُدْعَوْنَ اِلَى السُّجُوْدِ فَلَا يَسْتَطِيْعُوْنَۙ
Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud; maka mereka tidak kuasa,
Tafsir Al-Muyassar
Hari Kiamat itu sangat keras perkaranya dan kedahsyatannya menyulitkan. Allah datang untuk memutuskan perkara di antara makhluk-Nya, lalu Dia menyingkap betis-Nya yang tidak diserupai oleh suatu apa pun. Nabi bersabda, "Rabb kita menyingkap betis-Nya, maka bersujudlah semua orang mukmin, baik Iaki-Iaki maupun perempuan, dan tinggal orang-orang yang dulu bersujud di dunia karena riya` dan sum`ah. Ia mencoba bersujud, tapi punggungnya kembali kaku." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)خَاشِعَةً اَبْصَارُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ ۗوَقَدْ كَانُوْا يُدْعَوْنَ اِلَى السُّجُوْدِ وَهُمْ سَالِمُوْنَ
(dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan. Dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud, dan mereka dalam keadaan sejahtera.
Tafsir Al-Muyassar
Pandangan mereka tertunduk, tidak bisa mengangkatnya, mereka diliputi kehinaan yang parah karena adzab Allah. Dahulu mereka di dunia diseru untuk shalat dan beribadah kepada Allah, saat mereka sehat dan mampu melakukannya, tapi mereka tidak mau bersujud; karena kesombongan.فَذَرْنِيْ وَمَنْ يُّكَذِّبُ بِهٰذَا الْحَدِيْثِۗ سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِّنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُوْنَۙ
Maka serahkanlah (ya Muhammad) kepada-Ku (urusan) orang-orang yang mendustakan perkataan ini (al-Quran). Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui.
Tafsir Al-Muyassar
Maka serahkanlah kepada-Ku, wahai Rasul, urusan orang-orang yang mendustakan al-Quran ini, karena Akulah yang akan membalas dan menghukum mereka. Kami akan memberikan kepada mereka harta, anak-anak dan kenikmatan, sebagai tipuan bagi mereka dari arah yang tidak merasa sadari bahwa itu adalah sebab kebinasaan mereka. Karni tunda mereka dan Kami panjangkan umur mereka, agar semakin bertambah dosa mereka. Sesungguhnya tipu daya-Ku terhadap orang-orang kafir sangat kuat lagi keras.وَاُمْلِيْ لَهُمْۗ اِنَّ كَيْدِيْ مَتِيْنٌ
dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku amat teguh.
Tafsir Al-Muyassar
Maka serahkanlah kepada-Ku, wahai Rasul, urusan orang-orang yang mendustakan al-Quran ini, karena Akulah yang akan membalas dan menghukum mereka. Kami akan memberikan kepada mereka harta, anak-anak dan kenikmatan, sebagai tipuan bagi mereka dari arah yang tidak merasa sadari bahwa itu adalah sebab kebinasaan mereka. Karni tunda mereka dan Kami panjangkan umur mereka, agar semakin bertambah dosa mereka. Sesungguhnya tipu daya-Ku terhadap orang-orang kafir sangat kuat lagi keras.اَمْ تَسْئَلُهُمْ اَجْرًا فَهُمْ مِّنْ مَّغْرَمٍ مُّثْقَلُوْنَۚ
Ataukan kamu meminta upah kepada mereka, lalu mereka diberati dengan hutang?
Tafsir Al-Muyassar
Ataukah kamu, wahai Rasul, meminta upah duniawi kepada orang-orang musyrik itu atas penyampaian risalah, sehingga mereka dibebani dengan beban yang berat karena hutang itu? Bahkan, apakah mereka memiliki ilmu tentang perkara ghaib, lalu mereka menulis darinya apa yang mereka tetapkan bagi diri mereka bahwa mereka memiliki kedudukan yang lebih utama di sisi Allah daripada orang-orang yang beriman kepada-Nya?اَمْ عِنْدَهُمُ الْغَيْبُ فَهُمْ يَكْتُبُوْنَ
Ataukah ada pada mereka ilmu tentang yang ghaib lalu mereka menulis (padanya apa yang mereka tetapkan)?
Tafsir Al-Muyassar
Ataukah kamu, wahai Rasul, meminta upah duniawi kepada orang-orang musyrik itu atas penyampaian risalah, sehingga mereka dibebani dengan beban yang berat karena hutang itu? Bahkan, apakah mereka memiliki ilmu tentang perkara ghaib, lalu mereka menulis darinya apa yang mereka tetapkan bagi diri mereka bahwa mereka memiliki kedudukan yang lebih utama di sisi Allah daripada orang-orang yang beriman kepada-Nya?فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلَا تَكُنْ كَصَاحِبِ الْحُوْتِۘ اِذْ نَادٰى وَهُوَ مَكْظُوْمٌۗ
Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Rabbmu, dan janganlah kamu seperti orang (Yunus) yang berada dalam (perut) ikan ketika ia berdoa sedang ia dalam keadaan marah (kepada kaumnya).
Tafsir Al-Muyassar
Karena itu, bersabarlah, wahai Rasul, terhadap ketetapan dan keputusan Rabbmu. Di antaranya, menunda mereka dan menunda memberi pertolongan kepadamu atas mereka. Janganlah kamu seperti orang yang berada dalam perut ikan, yaitu Yunus, saat ia marah dan tidak bersabar menghadapi kaumnya, ketika ia berdoa kepada Rabbnya dalam keadaan penuh duka lagi meminta disegerakan adzab untuk mereka. Sekiranya ia tidak mendapat nikmat dari Rabbnya, dengan memberikan taufik kepadanya untuk bertaubat dan menerima taubatnya, niscaya ia benar-benar dicampakkan ke tanah tandus yang membinasakan dalam keadaan tercela. Lalu Rabbnya memilihnya untuk membawa risalah-Nya, dan menjadikannya termasuk orang-orang shalih yang baik niat, kata-kata dan perbuatan mereka.لَوْلَآ اَنْ تَدَارَكَهٗ نِعْمَةٌ مِّنْ رَّبِّهٖ لَنُبِذَ بِالْعَرَاۤءِ وَهُوَ مَذْمُوْمٌ
Kalau sekiranya ia tidak segera mendapat nikmat dari Rabbnya, benar-benar ia dicampakkan ke tanah tandus dalam keadaan tercela.
Tafsir Al-Muyassar
Karena itu, bersabarlah, wahai Rasul, terhadap ketetapan dan keputusan Rabbmu. Di antaranya, menunda mereka dan menunda memberi pertolongan kepadamu atas mereka. Janganlah kamu seperti orang yang berada dalam perut ikan, yaitu Yunus, saat ia marah dan tidak bersabar menghadapi kaumnya, ketika ia berdoa kepada Rabbnya dalam keadaan penuh duka lagi meminta disegerakan adzab untuk mereka. Sekiranya ia tidak mendapat nikmat dari Rabbnya, dengan memberikan taufik kepadanya untuk bertaubat dan menerima taubatnya, niscaya ia benar-benar dicampakkan ke tanah tandus yang membinasakan dalam keadaan tercela. Lalu Rabbnya memilihnya untuk membawa risalah-Nya, dan menjadikannya termasuk orang-orang shalih yang baik niat, kata-kata dan perbuatan mereka.فَاجْتَبٰىهُ رَبُّهٗ فَجَعَلَهٗ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ
Lalu Rabbnya memilihnya dan menjadikannya termasuk orang-orang yang saleh.
Tafsir Al-Muyassar
Karena itu, bersabarlah, wahai Rasul, terhadap ketetapan dan keputusan Rabbmu. Di antaranya, menunda mereka dan menunda memberi pertolongan kepadamu atas mereka. Janganlah kamu seperti orang yang berada dalam perut ikan, yaitu Yunus, saat ia marah dan tidak bersabar menghadapi kaumnya, ketika ia berdoa kepada Rabbnya dalam keadaan penuh duka lagi meminta disegerakan adzab untuk mereka. Sekiranya ia tidak mendapat nikmat dari Rabbnya, dengan memberikan taufik kepadanya untuk bertaubat dan menerima taubatnya, niscaya ia benar-benar dicampakkan ke tanah tandus yang membinasakan dalam keadaan tercela. Lalu Rabbnya memilihnya untuk membawa risalah-Nya, dan menjadikannya termasuk orang-orang shalih yang baik niat, kata-kata dan perbuatan mereka.وَاِنْ يَّكَادُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَيُزْلِقُوْنَكَ بِاَبْصَارِهِمْ لَمَّا سَمِعُوا الذِّكْرَ وَيَقُوْلُوْنَ اِنَّهٗ لَمَجْنُوْنٌۘ
Dan sesungguhnya orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kamu dengan pandangan mereka, tatkala mereka mendengar al-Quran dan mereka berkata: "Sesungguhnya ia (Muhammad) benar-benar orang yang gila."
Tafsir Al-Muyassar
Sesungguhnya orang-orang kafir itu, ketika mereka mendengar al-Quran, nyaris mereka menimpakan ‘Ain (penyakit akibat mata dengki) kepadamu, wahai Rasul; karena kebencian mereka kepadamu, seandainya bukan karena perlindungan Allah untukmu. Dan, mereka berkata, menurut hawa nafsu mereka, "Sesungguhnya ia benar-benar gila."وَمَا هُوَ اِلَّا ذِكْرٌ لِّلْعٰلَمِيْنَ
Dan al-Quran itu tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh umat.

