بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
عَبَسَ وَتَوَلّٰىٓۙ
Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling,
Tafsir Jalalein
(Dia telah bermuka masam) yakni Nabi Muhammad telah bermuka masam (dan berpaling) yaitu memalingkan mukanya karena,اَنْ جَاۤءَهُ الْاَعْمٰىۗ
karena telah datang seorang buta kepadanya.
Tafsir Jalalein
(telah datang seorang buta kepadanya) yaitu Abdullah bin Umi Maktum. Nabi saw. tidak melayaninya karena pada saat itu ia sedang sibuk menghadapi orang-orang yang diharapkan untuk dapat masuk Islam, mereka terdiri dari orang-orang terhormat kabilah Quraisy, dan ia sangat menginginkan mereka masuk Islam. Sedangkan orang yang buta itu atau Abdullah bin Umi Maktum tidak mengetahui kesibukan Nabi saw. pada waktu itu, karena ia buta. Maka Abdullah bin Umi Maktum langsung menghadap dan berseru, "Ajarkanlah kepadaku apa-apa yang telah Allah ajarkan kepadamu." Akan tetapi Nabi saw. pergi berpaling darinya menuju ke rumah, maka turunlah wahyu yang menegur sikapnya itu, yaitu sebagaimana yang disebutkan dalam surat ini. Nabi saw. setelah itu, apabila datang Abdullah bin Umi Maktum berkunjung kepadanya, beliau selalu mengatakan, "Selamat datang orang yang menyebabkan Rabbku menegurku karenanya," lalu beliau menghamparkan kain serbannya sebagai tempat duduk Abdullah bin Umi Maktum.وَمَا يُدْرِيْكَ لَعَلَّهٗ يَزَّكّٰىٓۙ
Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa).
Tafsir Jalalein
(Tahukah kamu) artinya, mengertikah kamu (barangkali ia ingin membersihkan dirinya) dari dosa-dosa setelah mendengar dari kamu; lafal Yazzakkaa bentuk asalnya adalah Yatazakkaa, kemudian huruf Ta diidgamkan kepada huruf Za sehingga jadilah Yazzakkaa.اَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرٰىۗ
atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?
Tafsir Jalalein
(Atau dia ingin mendapatkan pelajaran) lafal Yadzdzakkaru bentuk asalnya adalah Yatadzakkaru, kemudian huruf Ta diidgamkan kepada huruf Dzal sehingga jadilah Yadzdzakkaru, artinya mengambil pelajaran dan nasihat (lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya) atau nasihat yang telah didengarnya dari kamu bermanfaat bagi dirinya. Menurut suatu qiraat lafal Fatanfa'ahu dibaca Fatanfa'uhu, yaitu dibaca Nashab karena menjadi Jawab dari Tarajji atau lafal La'allahuu tadi.اَمَّا مَنِ اسْتَغْنٰىۙ
Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup,
Tafsir Jalalein
(Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup) karena memiliki harta.فَاَنْتَ لَهٗ تَصَدّٰىۗ
maka kamu melayaninya.
Tafsir Jalalein
(Maka kamu melayaninya) atau menerima dan mengajukan tawaranmu; menurut suatu qiraat lafal Tashaddaa dibaca Tashshaddaa yang bentuk asalnya adalah Tatashaddaa, kemudian huruf Ta kedua diidgamkan kepada huruf Shad, sehingga jadilah Tashshaddaa.وَمَا عَلَيْكَ اَلَّا يَزَّكّٰىۗ
Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman).
Tafsir Jalalein
(Padahal tidak ada celaan atasmu kalau dia tidak membersihkan diri) yakni orang yang serba berkecukupan itu tidak beriman.وَاَمَّا مَنْ جَاۤءَكَ يَسْعٰىۙ
Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran),
Tafsir Jalalein
(Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera) lafal Yas'aa berkedudukan sebagai Haal atau kata keterangan keadaan bagi Fa'il atau subjek yang terkandung di dalam lafal Jaa-a.وَهُوَ يَخْشٰىۙ
sedang ia takut kepada (Allah),
Tafsir Jalalein
(Sedangkan ia takut) kepada Allah swt.; lafal Yakhsyaa menjadi Haal dari fa'il yang terdapat di dalam lafal Yas'aa, yang dimaksud adalah si orang buta itu atau Abdullah bin Umi Maktum.فَاَنْتَ عَنْهُ تَلَهّٰىۚ
maka kamu mengabaikannya.
Tafsir Jalalein
(Maka kamu mengabaikannya) artinya, tiada memperhatikannya sama sekali; lafal Talahhaa asalnya Tatalahhaa, kemudian salah satu dari kedua huruf Ta dibuang, sehingga jadilah Talahhaa.كَلَّآ اِنَّهَا تَذْكِرَةٌۚ
Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Rabb itu adalah suatu peringatan,
Tafsir Jalalein
(Sekali-kali jangan) berbuat demikian, yakni janganlah kamu berbuat hal yang serupa lagi. (Sesungguhnya hal ini) maksudnya, surat ini atau ayat-ayat ini (adalah suatu peringatan) suatu pelajaran bagi makhluk semuanya.فَمَنْ شَاۤءَ ذَكَرَهٗۘ
maka barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya,
Tafsir Jalalein
(Maka barang siapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya) atau tentu ia menghafalnya kemudian menjadikannya sebagai nasihat bagi dirinya.فِيْ صُحُفٍ مُّكَرَّمَةٍۙ
di dalam kitab-kitab yang dimuliakan,
Tafsir Jalalein
(Di dalam kitab-kitab) menjadi Khabar yang kedua, karena sesungguhnya ia dan yang sebelumnya berkedudukan sebagai jumlah Mu'taridhah atau kalimat sisipan (yang dimuliakan) di sisi Allah.مَّرْفُوْعَةٍ مُّطَهَّرَةٍۢ
yang ditinggikan lagi disucikan,
Tafsir Jalalein
(Yang ditinggikan) di langit (lagi disucikan) dari sentuhan setan.بِاَيْدِيْ سَفَرَةٍۙ
di tangan para penulis (malaikat),
Tafsir Jalalein
(Di tangan para penulis) yakni malaikat-malaikat yang menukilnya dari Lohmahfuz.كِرَامٍۢ بَرَرَةٍۗ
yang mulia lagi berbakti.
Tafsir Jalalein
(Yang mulia lagi berbakti) artinya, semuanya taat kepada Allah swt.; mereka itu adalah malaikat-malaikat.قُتِلَ الْاِنْسَانُ مَآ اَكْفَرَهٗۗ
Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya
Tafsir Jalalein
(Binasalah manusia) maksudnya, terlaknatlah orang kafir itu (alangkah sangat kekafirannya) Istifham atau kata tanya pada ayat ini mengandung makna celaan; makna yang dimaksud, apakah gerangan yang mendorongnya berlaku kafir?مِنْ اَيِّ شَيْءٍ خَلَقَهٗۗ
Dari apakah Allah menciptakannya
Tafsir Jalalein
(Dari apakah Allah menciptakannya?) Istifham atau kata tanya di sini mengandung makna Taqrir. Kemudian Allah menjelaskannya melalui firman berikutnya:مِنْ نُّطْفَةٍۗ خَلَقَهٗ فَقَدَّرَهٗۗ
Dari setetes mani, Allah menciptakannya lalu menentukannya.
Tafsir Jalalein
(Dari setetes mani, Allah menciptakannya lalu menentukannya) menjadi 'alaqah, kemudian menjadi segumpal daging hingga akhir penciptaannya.ثُمَّ السَّبِيْلَ يَسَّرَهٗۙ
Kemudian Dia memudahkan jalannya,
Tafsir Jalalein
(Dari setetes mani, Allah menciptakannya lalu menentukannya) menjadi 'alaqah, kemudian menjadi segumpal daging hingga akhir penciptaannya.ثُمَّ اَمَاتَهٗ فَاَقْبَرَهٗۙ
kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur,
Tafsir Jalalein
(Dari setetes mani, Allah menciptakannya lalu menentukannya) menjadi 'alaqah, kemudian menjadi segumpal daging hingga akhir penciptaannya.ثُمَّ اِذَا شَاۤءَ اَنْشَرَهٗۗ
kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali.
Tafsir Jalalein
(Kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali) menjadi hidup kembali pada hari berbangkit nanti.كَلَّا لَمَّا يَقْضِ مَآ اَمَرَهٗۗ
sekali-kali jangan; manusia itu belum melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya,
Tafsir Jalalein
(Tidaklah demikian) artinya, benarlah (manusia itu belum melaksanakan) belum mengerjakan (apa yang diperintahkan Allah kepadanya) yakni apa yang telah diperintahkan oleh Rabbnya supaya ia mengerjakannya.فَلْيَنْظُرِ الْاِنْسَانُ اِلٰى طَعَامِهٖٓۙ
maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.
Tafsir Jalalein
(Maka hendaklah manusia itu memperhatikan) dengan memasang akalnya (kepada makanannya) bagaimanakah makanan itu diciptakan dan diatur untuknya?اَنَّا صَبَبْنَا الْمَاۤءَ صَبًّاۙ
Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit),
Tafsir Jalalein
(Sesungguhnya Kami telah mencurahkan air) dari awan (dengan sebenar-benarnya.)ثُمَّ شَقَقْنَا الْاَرْضَ شَقًّاۙ
kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya,
Tafsir Jalalein
(Kemudian Kami belah bumi) dengan tumbuh-tumbuhan yang tumbuh dari dalamnya (dengan sebaik-baiknya.)فَاَنْۢبَتْنَا فِيْهَا حَبًّاۙ
lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu,
Tafsir Jalalein
(Lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu) seperti biji gandum dan biji jawawut.وَّعِنَبًا وَّقَضْبًاۙ
anggur dan sayur-sayuran,
Tafsir Jalalein
(Anggur dan sayur-sayuran) atau sayur-mayur.وَّزَيْتُوْنًا وَّنَخْلًاۙ
Zaitun dan pohon kurma,
Tafsir Jalalein
(Zaitun dan pohon kurma),وَّحَدَاۤئِقَ غُلْبًا
kebun-kebun (yang) lebat,
Tafsir Jalalein
(dan kebun-kebun yang lebat) yakni kebun-kebun yang banyak pepohonannya.وَفَاكِهَةً وَّاَبًّا
dan buah-buahan serta rumput-rumputan,
Tafsir Jalalein
(Dan buah-buahan serta rumput-rumputan) yaitu tumbuh-tumbuhan yang menjadi makanan binatang ternak; tetapi menurut suatu pendapat "Abban" artinya makanan ternak yang berasal dari tangkai atau bulir gandum atau padi dan lain sebagainya yang sejenis.مَتَاعًا لَّكُمْ وَلِاَنْعَامِكُمْۗ
untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu.
Tafsir Jalalein
(Untuk kesenangan) sebagai kesenangan atau untuk menyenangkan, penafsirannya sebagaimana yang telah disebutkan tadi pada surat sebelumnya (bagi kalian dan bagi binatang-binatang ternak kalian) penafsirannya sama dengan yang terdahulu pada surat sebelumnya.فَاِذَا جَاۤءَتِ الصَّاۤخَّةُۙ
Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkalala yang kedua),
Tafsir Jalalein
(Dan apabila datang suara yang memekakkan) yakni tiupan sangkakala yang kedua.يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ اَخِيْهِۙ
pada hari ketika manusia lari dari saudaranya,
Tafsir Jalalein
(Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya.)وَاُمِّهٖ وَاَبِيْهِۙ
dari ibu dan bapaknya,
Tafsir Jalalein
(Dari ibu dan bapaknya.)وَصَاحِبَتِهٖ وَبَنِيْهِۗ
dari isteri dan anak-anaknya,
Tafsir Jalalein
(Dari teman hidupnya) yakni istrinya (dan anak-anaknya) lafal Yauma merupakan Badal dari lafal Idzaa, sebagai Jawabnya disimpulkan dari berikut ini.لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ يَوْمَىِٕذٍ شَأْنٌ يُّغْنِيْهِۗ
Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.
Tafsir Jalalein
(Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya) yakni keadaan yang membuatnya tidak mengindahkan hal-hal lainnya, atau dengan kata lain setiap orang pada hari itu sibuk dengan urusannya masing-masing.وُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍ مُّسْفِرَةٌۙ
Banyak muka pada hari itu berseri-seri,
Tafsir Jalalein
(Banyak muka pada hari itu berseri-seri) yakni tampak cerah ceria.ضَاحِكَةٌ مُّسْتَبْشِرَةٌۚ
tertawa dan gembira ria,
Tafsir Jalalein
(Tertawa dan gembira) atau bergembira, mereka itu adalah orang-orang yang beriman.وَوُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍ عَلَيْهَا غَبَرَةٌۙ
dan banyak (pula) muka pada hari itu tertutup debu,
Tafsir Jalalein
(Dan banyak pula muka pada hari itu tertutup debu) artinya, penuh dengan debu.تَرْهَقُهَا قَتَرَةٌۗ
dan ditutup lagi oleh kegelapan.
Tafsir Jalalein
(Dan ditutup pula) diselimuti pula (oleh kegelapan) dan kepekatan yang menghitam.اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْكَفَرَةُ الْفَجَرَةُ
Mereka itulah orang-orang kafir lagi durhaka.

