× Beranda Toko Online Artikel ↷ Baca Quran Asbabunnuzul Tafsir ↷ Mencari Artikel Mencari Ayat Advertisement
×
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
اَلرَّحْمٰنُۙ
(Rabb) Yang Maha Pemurah,

Tafsir Jalalein

(Yang Maha Pemurah) yakni Allah swt.
عَلَّمَ الْقُرْاٰنَۗ
Yang telah mengajarkan al-Quran.

Tafsir Jalalein

(Telah mengajarkan) kepada siapa yang dikehendaki-Nya (Alquran).
خَلَقَ الْاِنْسَانَۙ
Dia menciptakan manusia,

Tafsir Jalalein

(Dia menciptakan manusia) jenis manusia.
عَلَّمَهُ الْبَيَانَ
Mengajarnya pandai berbicara.

Tafsir Jalalein

(Mengajarinya pandai berbicara) atau dapat berbicara.
اَلشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍۙ
Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan.

Tafsir Jalalein

(Matahari dan bulan menurut perhitungan) maksudnya, keduanya beredar menurut perhitungan.
وَّالنَّجْمُ وَالشَّجَرُ يَسْجُدَانِ
Dan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan kedua-duanya tunduk kepada-Nya.

Tafsir Jalalein

(Dan tumbuh-tumbuhan) jenis tumbuh-tumbuhan yang tidak mempunyai batang (dan pohon-pohonan) jenis tumbuh-tumbuhan yang memiliki batang (kedua-duanya tunduk kepada-Nya) keduanya tunduk kepada apa yang dikehendaki-Nya.
وَالسَّمَاۤءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ الْمِيْزَانَۙ
Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan).

Tafsir Jalalein

(Dan Dia telah meninggikan langit dan meletakkan neraca) yaitu menetapkan keadilan.
اَلَّا تَطْغَوْا فِى الْمِيْزَانِ
Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu.

Tafsir Jalalein

(Supaya kalian jangan melampaui batas) agar kalian jangan berbuat curang (dalam timbangan itu) maksudnya dalam menimbang sesuatu dengan mempergunakan timbangan itu.
وَاَقِيْمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ وَلَا تُخْسِرُوا الْمِيْزَانَ
Dan tegakkanlah timbangan dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.

Tafsir Jalalein

(Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil) artinya tidak curang (dan janganlah kalian mengurangi timbangan itu) maksudnya mengurangi barang yang ditimbang itu.
وَالْاَرْضَ وَضَعَهَا لِلْاَنَامِۙ
Dan Allah telah meratakan bumi untuk makhluk(Nya),

Tafsir Jalalein

(Dan bumi telah diletakkan-Nya) telah dimantapkan-Nya (untuk semua makhluk) untuk manusia, jin, dan lain-lainnya.
فِيْهَا فَاكِهَةٌ وَّالنَّخْلُ ذَاتُ الْاَكْمَامِۖ
di bumi itu ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang.

Tafsir Jalalein

(Di bumi itu ada buah-buahan dan pohon kurma) yang ditanam dan dipelihara (yang mempunyai kelopak mayang) memiliki kelopak-kelopak di bagian atasnya.
وَالْحَبُّ ذُو الْعَصْفِ وَالرَّيْحَانُۚ
Dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang harum baunya.

Tafsir Jalalein

(Dan biji-bijian) seperti gandum dan jawawut (yang berbulir) yang ada merangnya (dan daun-daunan yang harum baunya) wangi baunya.
فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Tafsir Jalalein

(Maka manakah nikmat-nikmat) atau karunia-karunia (Rabb kamu berdua) hai manusia dan jin (yang kamu dustakan?) ayat ini disebutkan di dalam surah ini sebanyak tiga puluh satu kali. Istifham atau kata tanya yang terdapat dalam ayat ini mengandung makna taqrir atau menetapkan, demikian itu karena ada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Hakim melalui Jabir r.a. yang telah menceritakan, bahwa Rasulullah saw. membacakan kepada kami surah Ar Rahman hingga selesai. Kemudian beliau bersabda, "Mengapa kalian ini diam saja?" Sungguh jin lebih baik jawabannya daripada kalian. Karena sesungguhnya tiada sekali-kali aku bacakan kepada mereka ayat ini, "Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?" (Q.S. Ar Rahman, 13) melainkan mereka menjawabnya, "Wahai Rabb kami, tiada satu pun nikmat-Mu yang kami dustakan, bagi-Mu segala puji."
خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ كَالْفَخَّارِ
Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar,

Tafsir Jalalein

(Dia menciptakan manusia) yakni Nabi Adam (dari tanah kering) tanah kering yang apabila diketuk akan mengeluarkan suara berdenting (seperti tembikar) seperti tanah liat yang dibakar.
وَخَلَقَ الْجَاۤنَّ مِنْ مَّارِجٍ مِّنْ نَّارٍۚ
Dia menciptakan jin dari nyala api.

Tafsir Jalalein

(Dan Dia menciptakan jin) yakni bapak moyang jin, yaitu iblis (dari nyala api) yaitu nyala api yang tidak berasap
فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Tafsir Jalalein

(Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?)
رَبُّ الْمَشْرِقَيْنِ وَرَبُّ الْمَغْرِبَيْنِۚ
Rabb yang memelihara kedua tempat terbit matahari dan Rabb yang memelihara kedua tempat terbenamnya.

Tafsir Jalalein

(Rabb yang memelihara kedua tempat terbit matahari) yaitu tempat terbitnya di waktu musim dingin dan tempat terbitnya di waktu musim panas (dan Rabb yang memelihara kedua tempat terbenamnya) penafsirannya seperti pada yang pertama tadi.
فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Tafsir Jalalein

(Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?)
مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيٰنِۙ
Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu,

Tafsir Jalalein

(Dia membiarkan) atau melepaskan (dua laut) yang airnya tawar dan yang asin (saling bertemu) menurut pandangan mata.
بَيْنَهُمَا بَرْزَخٌ لَّا يَبْغِيٰنِۚ
antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing.

Tafsir Jalalein

(Antara keduanya ada batas) ada penghalang yang membatasi keduanya dari kekuasaan Allah swt. (yang tidak dilampaui oleh masing-masing) yang satu melampaui yang lainnya sehingga bercampur.
فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Tafsir Jalalein

(Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?)
يَخْرُجُ مِنْهُمَا اللُّؤْلُؤُ وَالْمَرْجَانُۚ
Dari keduanya keluar mutiara dan marjan.

Tafsir Jalalein

(Keluarlah) dapat dibaca Yakhruju. dan Yukhraju (daripada keduanya) dari pertemuan di antara keduanya, yakni dari bagian yang airnya asin (mutiara dan marjan) marjan artinya batu yang berwarna merah atau yang dimaksud adalah mutiara yang kecil.
فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Tafsir Jalalein

(Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?)
وَلَهُ الْجَوَارِ الْمُنْشَاٰتُ فِى الْبَحْرِ كَالْاَعْلَامِۚ
Dan kepunyaan-Nyalah bahtera-bahtera yang tinggi layarnya di lautan laksana gunung-gunung.

Tafsir Jalalein

(Dan kepunyaan-Nyalah bahtera-bahtera) perahu-perahu (yang dibangun) yang dibuat (di lautan laksana gunung-gunung) lautan besar yang tingginya bagaikan gunung-gunung.
فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Tafsir Jalalein

(Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?)
كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍۖ
Semua yang ada di bumi itu akan binasa.

Tafsir Jalalein

(Semua yang ada di bumi itu) yakni semua makhluk hidup yang ada padanya (akan binasa) akan mati; di sini diungkapkan semua makhluk hidup dengan memakai kata Man, karena memprioritaskan makhluk yang berakal.
وَّيَبْقٰى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلٰلِ وَالْاِكْرَامِۚ
Dan tetap kekal Wajah Rabbmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan

Tafsir Jalalein

(Dan tetap kekal Zat Rabbmu) yakni Zat-Nya (Yang mempunyai kebesaran) atau keagungan (dan kemuliaan) Yang Maha Dermawan kepada orang-orang mukmin dengan melimpahkan nikmat-nikmat-Nya kepada mereka.
فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Tafsir Jalalein

(Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?)
يَسْـَٔلُهٗ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِيْ شَأْنٍۚ
Semua yang ada di langit di bumi selalu minta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan.

Tafsir Jalalein

(Semua yang ada di langit dan di bumi selalu meminta kepada-Nya) baik melalui ucapan mereka atau pun perbuatan mereka, yaitu meminta apa-apa yang mereka perlukan berupa kekuatan untuk menjalankan ibadah, rezeki, ampunan dan lain sebagainya. (Setiap hari) setiap waktu (Dia dalam suatu perkara) yaitu perkara yang hendak dilahirkan-Nya sesuai dengan apa yang telah ditentukan-Nya sejak zaman Azali antara lain, menghidupkan, mematikan, memuliakan, menghinakan, memberikan kecukupan, memiskinkan, mengabulkan doa dan memenuhi yang meminta.
فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Tafsir Jalalein

(Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?)
سَنَفْرُغُ لَكُمْ اَيُّهَ الثَّقَلٰنِۚ
Kami akan memperhatikan sepenuhnya kepadamu hai manusia dan jin.

Tafsir Jalalein

(Kami akan menyelesaikan kamu sekalian) artinya, Kami hendak menghisab kalian semuanya (hai manusia dan jin) hai jenis manusia dan jenis jin.
فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Tafsir Jalalein

(Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?)
يٰمَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِ اِنِ اسْتَطَعْتُمْ اَنْ تَنْفُذُوْا مِنْ اَقْطَارِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ فَانْفُذُوْاۗ لَا تَنْفُذُوْنَ اِلَّا بِسُلْطٰنٍۚ
Hai jamaah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, mak lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan."

Tafsir Jalalein

(Hai semua jin dan manusia, jika kalian sanggup menembus) melintasi (penjuru) atau kawasan-kawasan (langit dan bumi, maka lintasilah) perintah di sini mengandung makna yang menunjukkan ketidakmampuan mereka untuk melakukan hal tersebut (kalian tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan) dan kalian tidak akan mempunyai kekuatan untuk itu.
فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Tafsir Jalalein

(Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?)
يُرْسَلُ عَلَيْكُمَا شُوَاظٌ مِّنْ نَّارٍۙ وَّنُحَاسٌ فَلَا تَنْتَصِرَانِۚ
Kepada kamu, (jin dan manusia) dilepaskan nyala api dan cairan tembaga maka kamu tidak dapat menyelamatkan diri (dari padanya).

Tafsir Jalalein

(Kepada kamu berdua akan dilepaskan nyala api) yakni nyala api yang tidak berasap atau nyala api yang berasap (dan asap) yaitu asap murni yang tidak ada nyala apinya (maka kamu berdua tidak akan dapat menyelamatkan diri) daripadanya, bahkan kalian kelak akan digiring ke padang Mahsyar.
فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Tafsir Jalalein

(Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?)
فَاِذَا انْشَقَّتِ السَّمَاۤءُ فَكَانَتْ وَرْدَةً كَالدِّهَانِۚ
Maka apabila langit telah terbelah dan menjadi merah mawar seperti (kilapan) minyak.

Tafsir Jalalein

(Maka apabila langit telah terbelah) artinya, terbuka pintu-pintunya karena turunnya malaikat-malaikat (dan menjadi merah mawar) memerah seperti warna bunga mawar (seakan-akan kilapan minyak) bagaikan minyak yang berwarna merah berbeda keadaannya dengan yang biasa. Di dalam ungkapan ayat ini terkandung jawabannya, yakni apabila saat itu datang, betapa dahsyatnya kengerian dan ketakutan melihatnya.
فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Tafsir Jalalein

(Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?).
فَيَوْمَئِذٍ لَّا يُسْـئَلُ عَنْ ذَنْۢبِهٖٓ اِنْسٌ وَّلَا جَاۤنٌّۚ
Pada waktu itu manusia dan jin tidak ditanya tentang dosanya.

Tafsir Jalalein

(Pada waktu itu manusia dan jin tidak ditanya tentang dosanya) tetapi mereka akan ditanya mengenai dosanya di lain waktu, karena ini merupakan suatu janji sebagaimana yang diungkapkan di dalam firman lainnya, yaitu, "Maka demi Rabbmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua." (Q.S. Al Hijr, 92) Lafal Al Jaan di sini sebagaimana yang akan dijelaskan nanti adalah bermakna jin, dan lafal Al Insu artinya manusia.
فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Tafsir Jalalein

(Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?)
يُعْرَفُ الْمُجْرِمُوْنَ بِسِيْمٰهُمْ فَيُؤْخَذُ بِالنَّوَاصِيْ وَالْاَقْدَامِۚ
Orang-orang yang berdosa dikenal dengan tanda-tandanya, lalu dipegang ubun-ubun dan kaki mereka.

Tafsir Jalalein

(Orang-orang yang berdosa dikenal dengan tanda-tandanya) yakni, mukanya berwarna hitam dan matanya berwarna biru (lalu dipegang ubun-ubun dan kaki mereka).
فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Tafsir Jalalein

(Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?) Keadaan orang-orang yang berdosa pada saat itu, kedua telapak kaki mereka disatukan dengan ubun-ubunnya dari arah belakang, yaitu dilipat lalu mereka dilemparkan ke dalam neraka dan dikatakan kepada mereka,
هٰذِهٖ جَهَنَّمُ الَّتِيْ يُكَذِّبُ بِهَا الْمُجْرِمُوْنَۘ
Inilah neraka jahannam yang didustakan oleh orang-orang berdosa.

Tafsir Jalalein

("Inilah neraka Jahanam yang didustakan oleh orang-orang yang berdosa").
يَطُوْفُوْنَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ حَمِيْمٍ اٰنٍۚ
Mereka berkeliling diantaranya dan diantara air yang mendidih yang memuncak panasnya.

Tafsir Jalalein

(Mereka berkeliling) yakni berjalan dengan cepat (di antaranya dan di antara air yang mendidih yaitu air panas (yang memuncak panasnya) panasnya tak terperikan, lalu mereka diberi minum air panas tersebut apabila mereka meminta tolong karena panasnya api neraka; lafal Anin termasuk Isim Manqush, sama halnya dengan lafal Qaadhin.
فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Tafsir Jalalein

(Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?)
وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهٖ جَنَّتٰنِۚ
Dan bagi orang yang takut saat menghadap Rabbnya ada dua surga.

Tafsir Jalalein

(Dan bagi orang yang takut) bagi masing-masing dari mereka atau bagi mereka semuanya (akan saat menghadap Rabbnya) yaitu takut manakala ia berdiri di hadapan Rabbnya untuk menjalani hisab. Oleh karena itu, maka ia tidak mau berbuat durhaka kepada-Nya (ada dua taman).
فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِۙ
Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Tafsir Jalalein

(Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?)
ذَوَاتَآ اَفْنَانٍۚ
kedua surga itu mempunyai pohon-pohonan dan buah-buahan.

Tafsir Jalalein

(Kedua taman itu mempunyai) lafal Dzawaata adalah bentuk Tatsniyah dari lafal Dzawaat sesuai dengan bentuk asalnya; dan Lam fi'ilnya pada asalnya adalah huruf Ya (pohon-pohon yang rindang) banyak tangkainya; merupakan bentuk jamak dari lafal Fananun yang wazannya sama dengan lafal Thalalun.
فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Tafsir Jalalein

(Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?)
فِيْهِمَا عَيْنٰنِ تَجْرِيٰنِۚ
Di dalam kedua surga itu ada dua buah mata air yang mengalir.

Tafsir Jalalein

(Di dalam kedua taman surga itu ada dua buah mata air yang mengalir).
فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Tafsir Jalalein

(Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?)
فِيْهِمَا مِنْ كُلِّ فَاكِهَةٍ زَوْجٰنِۚ
Di dalam kedua surga itu terdapat segala macam buah-buahan yang berpasang-pasangan.

Tafsir Jalalein

(Di dalam kedua taman surga itu terdapat segala macam buah-buahan) di dunia atau semua yang dianggap sebagai buah-buahan (yang berpasang-pasangan) yakni dua jenis-dua jenis, ada yang basah dan ada yang kering. Buah Hanzhal yang di dunia terasa amat pahit, tetapi di surga akan terasa manis.
فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِۚ
Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Tafsir Jalalein

(Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?)
مُتَّكِـِٕيْنَ عَلٰى فُرُشٍۢ بَطَاۤىِٕنُهَا مِنْ اِسْتَبْرَقٍۗ وَجَنَا الْجَنَّتَيْنِ دَانٍۚ
Mereka bertelekan di atas permadani yang sebelah dalamnya dari sutera. Dan buah-buahan di kedua syurga itu dapat (dipetik) dari dekat.

Tafsir Jalalein

(Mereka bersandarkan) menjadi Hal atau kata keterangan keadaan dari 'Amilnya yang tidak disebutkan, yakni mereka bersenang-senang seraya bersandarkan (di atas permadani yang bagian dalamnya terbuat dari sutera) yaitu sutera yang tebal lagi kasar, sedangkan bagian luarnya yang diduduki terbuat dari sutera yang halus sekali. (Dan buah-buahan kedua surga itu) semua buah-buahannya (dapat dipetik dari dekat) artinya, dekat sekali letaknya sehingga mudah dipetik, baik oleh orang yang sedang berdiri maupun yang duduk dan yang sedang berbaring.
فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Tafsir Jalalein

(Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?)
فِيْهِنَّ قٰصِرٰتُ الطَّرْفِۙ لَمْ يَطْمِثْهُنَّ اِنْسٌ قَبْلَهُمْ وَلَا جَاۤنٌّۚ
Di dalam syurga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni syurga yang menjadi suami mereka), dan tidak pula oleh jin.

Tafsir Jalalein

(Di dalam surga itu) maksudnya, dalam kedua surga itu dan pada gedung-gedung dan istana-istana yang ada di dalamnya (ada bidadari-bidadari yang selalu menundukkan pandangan matanya) artinya, pandangan mereka terbatas hanya kepada suami-suami mereka saja yang terdiri dari manusia dan jin (tidak pernah disentuh) mereka belum pernah digauli; mereka terdiri dari bidadari-bidadari atau wanita-wanita dunia yang masuk surga (oleh manusia sebelum mereka -penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka dan tidak pula oleh jin).
فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِۚ
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Tafsir Jalalein

(Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?)
كَاَنَّهُنَّ الْيَاقُوْتُ وَالْمَرْجَانُۚ
Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan.

Tafsir Jalalein

(Seakan-akan bidadari-bidadari itu permata yaqut) dalam hal beningnya (dan marjan) maksudnya, putihnya bagaikan permata.
فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Tafsir Jalalein

(Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?)
هَلْ جَزَاۤءُ الْاِحْسَانِ اِلَّا الْاِحْسَانُۚ
Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).

Tafsir Jalalein

(Tidak ada) tiada (balasan kebaikan) atau ketaatan (kecuali kebaikan pula) atau kenikmatan.
فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Tafsir Jalalein

(Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?)
وَمِنْ دُوْنِهِمَا جَنَّتٰنِۚ
Dan selain dari surga itu ada dua surga lagi.

Tafsir Jalalein

(Dan selain dari kedua surga itu) yakni kedua surga yang telah disebutkan tadi (ada dua surga lagi) yaitu bagi orang yang takut akan saat menghadap kepada Rabbnya.
فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِۙ
Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Tafsir Jalalein

(Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?)
مُدْهَاۤمَّتٰنِۚ
kedua surga itu (kelihatan) hijau tua warnanya.

Tafsir Jalalein

(Kedua surga itu hijau tua warnanya) kelihatan hijau pekat karena sangat hijaunya.
فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ
Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Tafsir Jalalein

(Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?)
فِيْهِمَا عَيْنٰنِ نَضَّاخَتٰنِۚ
Di dalam kedua surga itu ada dua mata air yang memancar.

Tafsir Jalalein

(Di dalam kedua surga itu ada dua mata air yang memancar) bagaikan air mancur.
فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِۚ
Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Tafsir Jalalein

(Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?)
فِيْهِمَا فَاكِهَةٌ وَّنَخْلٌ وَّرُمَّانٌۚ
Di dalam keduanya ada (macam-macam) buah-buahan dan kurma serta delima.

Tafsir Jalalein

(Di dalam keduanya ada buah-buahan dan kurma serta delima) buah kurma dan delima itu menurut suatu pendapat adalah sebagaimana aslinya, tetapi menurut pendapat yang lain tidak seperti bentuk aslinya.
فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِۚ
Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Tafsir Jalalein

(Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?)
فِيْهِنَّ خَيْرٰتٌ حِسَانٌۚ
Di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik.

Tafsir Jalalein

(Di dalam surga-surga itu) di kedua surga dan apa-apa yang ada di dalamnya itu (ada bidadari-bidadari yang baik-baik) akhlaknya (lagi cantik-cantik) rupanya.
فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِۚ
Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Tafsir Jalalein

(Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?)
حُوْرٌ مَّقْصُوْرٰتٌ فِى الْخِيَامِۚ
Bidadari-bidadari yang jelita, putih bersih dipingit dalam rumah.

Tafsir Jalalein

(Bidadari-bidadari itu-sangat jelita) mata mereka sangat jelita (mereka dipingit) tertutup (di dalam kemah-kemah) yang terbuat dari permata yang dilubangi, keadaan mereka diserupakan dengan gadis-gadis yang dipingit di dalam kemahnya.
فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِۚ
Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Tafsir Jalalein

(Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?)
لَمْ يَطْمِثْهُنَّ اِنْسٌ قَبْلَهُمْ وَلَا جَاۤنٌّۚ
Mereka tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin.

Tafsir Jalalein

(Mereka tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka) sebelum oleh suami-suami mereka (dan tidak pula oleh jin).
فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِۚ
Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Tafsir Jalalein

(Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?)
مُتَّكِـِٕيْنَ عَلٰى رَفْرَفٍ خُضْرٍ وَّعَبْقَرِيٍّ حِسَانٍۚ
Mereka bertelekan pada bantal-bantal yang hijau dan permadani yang indah.

Tafsir Jalalein

(Mereka bersandarkan) suami-suami mereka bertelekan; I'rab lafal ayat ini sama dengan sebelumnya (pada bantal-bantal yang hijau) merupakan bentuk jamak dari lafal Rafrafatun, artinya permadani atau bantal (dan bergelarkan pada permadani-permadani yang indah) merupakan bentuk jamak dari lafal 'Abqariyyah, artinya permadani.
فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِۚ
Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Tafsir Jalalein

(Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?)
تَبٰرَكَ اسْمُ رَبِّكَ ذِى الْجَلٰلِ وَالْاِكْرَامِ
Maha Agung nama Rabbmu Yang Mempunyai Kebesaran dan Karunia.

Tafsir Jalalein

(Maha Agung nama Rabbmu Yang mempunyai kebesaran dan Karunia) penafsirannya sebagaimana sebelumnya, dan lafal Ismi pada ayat ini merupakan Isim Zaaid atau Isim yang ditambahkan.