× Beranda Toko Online Artikel ↷ Baca Quran Asbabunnuzul Tafsir ↷ Mencari Artikel Mencari Ayat Advertisement

Termasuk surah Makkiyyah, 45 ayat, kecuali ayat 38 Madaniyyah Turun sesudah Surat Al-Mursalat. Surat ini merupakan mula-mula kelompok surat Mufassal (surat yang pendek-pendek) menurut pendapat yang sahih, dan menurut pendapat yang lain dimulai dari surat Al-Hujurat. Sedangkan mengenai pendapat kalangan awam yang mengatakan bahwa surat-surat yang pendek itu dimulai dari Amma (surat An-Naba), maka tiada dasar dalilnya dan tiada seorang ulama pun yang mengatakannya dari kalangan mereka yang dapat dipegang pendapatnya sepanjang pengetahuan kami. Dalil yang menunjukkan bahwa surat Qaf ini adalah permulaan surat-surat Mufassal ialah apa yang telah diriwayatkan oleh Imam Abu Daud di dalam kitab sunannya, Bab "Tahzibul Quran" (Pengelompokkan Al-Quran). Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Musaddad, telah menceritakan kepada kami Qirab ibnu Tamam, dan telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Said Abu Said Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Abu Khalid, telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Hibban, yang hadis berikut berdasarkan teks yang ada padanya, dari Abdullah ibnu Abdur Rahman ibnu Yala, dari Usman ibnu Abdullah ibnu Aus, dari kakeknya. Abdullah ibnu Said mengatakan bahwa hadis berikut diceritakan kepadaku oleh Aus ibnu Huzaifah, kemudian keduanya sama-sama menceritakan hadis berikut. Disebutkan bahwa kami datang menghadap kepada Rasulullah Saw. sebagai delegasi dari Bani Saqif. Kemudian sekutu-sekutu kaum muslim bertempat tinggal di perumahan Al-Mugirah ibnu Syubah r.a. Dan Rasulullah Saw. sendiri menempatkan Bani Malik di suatu kemah miliknya. Musaddad mengatakan bahwa di antara delegasi yang datang kepada Rasulullah Saw. terdapat orang-orang dari Bani Saqif. Tersebutlah bahwa Rasulullah Saw. setiap malam selalu mendatangi kami sesudah salat Isya dan berbincang-bincang dengan kami. Abu Said hanya berdiri saja hingga kedua kakinya saling bergantian menopang tubuhnya karena lamanya berdiri. Kebanyakan pembicaraan beliau Saw. kepada kami ialah menceritakan perlakuan yang menyakitkan dari kaumnya terhadap dirinya, kemudian beliau Saw. bersabda, "Aku tidak dapat berbuat apa-apa karena kami saat itu (di Mekah) dalam keadaan lemah dan terhina. Dan ketika kami hijrah ke Madinah, terjadilah peperangan di antara kami secara bergantian; kadang kala kami beroleh kemenangan atas mereka, dan kadang kala mereka beroleh kemenangan atas kami." Dan di suatu malam Rasulullah Saw. terlambat datang kepada kami tidak seperti biasanya saat beliau mendatangi kami. Maka kami berkata bahwa beliau datang terlambat kepada kami malam ini. Ketika beliau Saw. datang, maka bersabdalah beliau: "إِنَّهُ طَرَأَ عَلَيَّ حِزْبِي مِنَ الْقُرْآنِ، فَكَرِهْتُ أَنْ أَجِيءَ حَتَّى أُتِمَّهُ" Sesungguhnya baru saja diturunkan kepadaku sekelompok ayat-ayat Al-Quran, maka aku tidak mau datang (menemui kalian) sebelum merampungkannya. Aus berkata, bahwa lalu ia bertanya kepada sahabat-sahabat Rasulullah Saw., "Bagaimanakah caranya kalian mengelompokkan Al-Quran menjadi beberapa hizib? Maka mereka menjawab, bahwa itu terdiri dari tiga kelompok, lima kelompok, tujuh kelompok, sembilan kelompok, sebelas kelompok, dan tiga belas kelompok, sedangkan hizib (kelompok) Mufassal tersendiri. Ibnu Majah meriwayatkannya dari Abu Bakar ibnu Abu Syaibah, dari Abu Khalid Al-Ahmar dengan sanad yang sama. Imam Ahmad meriwayatkannya pula dari Abdur Rahman ibnu Mahdi, dari Abdullah ibnu Abdur Rahman alias Ibnu Yala At-Ta-ifi dengan sanad yang sama. Apabila telah diketahui, maka jumlah keseluruhannya ada empat puluh delapan surat, dan surat yang sesudahnya adalah surat Qaf. Untuk lebih jelasnya dapat disebutkan seperti berikut, bahwa yang tiga pertama ialah surat Al-Baqarah, surat Ali-Imran, dan surat An-Nisa. Dan yang lima surat itu ialah Al-Maidah, Al-Anam, Al-Araf, Al-Anfal, dan At-Taubah. Berikutnya yang tujuh surat ialah Yunus, Hud, Yusuf, Ar-Rad, Ibrahim, Al-Hijr, dan An-Nahl. Yang sembilan ialah Al-Isra, Al-Kahfi, Maryam, Taha, Al-Anbiya, Al-Hajj, Al-Mu’minun, An-Nur, Al-Furqan. Yang sebelas surat ialah Asy-Syuara, An-Naml, Al-Qashshas, Al-Ankabut, Ar-Rum, Luqman, As-Sajdah, Al-Ahzab, Saba, Fatir, dan Yasin. Dan yang tiga belas surat ialah Ash-Shaffat, Shad, Az-Zumar, Al-Mu’min, Asy-Syura, Fushshilat, Az-Zukhruf, Ad-Dukhan Al-Jatsiyah, Al-Ahqaf, Muhammad, Al-Fath, dan Al-Hujurat. Sesudah itu adalah hizib Mufassal atau kelompok surat-surat yang pendek-pendek, demikianlah menurut apa yang dikatakan oleh para sahabat. Dengan demikian, maka dapat ditentukan bahwa surat Qaf ini adalah permulaan dari surat Mufassal, seperti yang telah kami katakan di atas. Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Mahdi, telah menceritakan kepada kami Malik, dari Damrah ibnu Said, dari Abdullah ibnu Ubaidillah, bahwa Umar ibnul Khattab pernah bertanya kepada Abu Waqid Al-Laisi mengenai surat yang dibaca oleh Rasulullah Saw. dalam salat hari rayanya. Maka Abu Waqid menjawab, "Qaf dan Al-Qamar." Imam Muslim dan Ahlus Sunan yang empat orang telah meriwayatkannya melalui hadis Malik dengan sanad yang sama. Di dalam riwayat Imam Muslim, dari Malik, dari Damrah, dari Abdullah, dari Abu Waqid disebutkan bahwa Umar r.a. pernah bertanya kepadanya tentang hal tersebut, lalu ia menjawabnya dengan jawaban yang tersebut di atas. Hadis lain. Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yaqub, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ishaq, telah menceritakan kepadaku Abdullah ibnu Muhammad ibnu Abu Bakar ibnu Amr ibnu Hazm, dari Yahya ibnu Abdullah ibnu Abdur Rahman ibnu Asad ibnu Zurarah, dari Ummu Hisyam binti Harisah yang mengatakan bahwa dahulu dapur kami dan dapur Nabi Saw. menjadi satu selama satu atau dua tahun atau satu setengah tahun, dan tidaklah aku menerima surat Qaf melainkan langsung dari lisan Rasulullah Saw. Beliau Saw. selalu membacanya setiap hari Jumat di atas mimbarnya apabila berkhotbah. Imam Muslim meriwayatkan hadis ini melalui hadis Ibnu Ishaq dengan sanad yang sama. Abu Daud mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Basysyar, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Jafar, telah menceritakan kepada kami Syubah, dari Habib ibnu Abdullah ibnu Muhammad Ibnu Maan, dari Bintil Haris ibnun Numan yang menceritakan bahwa tidaklah aku hafal surat Qaf melainkan langsung dari lisan Rasulullah Saw. yang beliau bacakan di setiap hari Jumat dalam khotbahnya. Bintil Haris mengatakan bahwa dahulu dapur kami dan dapur Rasulullah Saw. pernah bersatu. Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Imam Muslim, Imam Nasai, dan Imam Ibnu Majah melalui hadis Syubah dengan sanad yang sama. Tujuan utama dari pengetengahan semua riwayat di atas ialah untuk membuktikan bahwa Rasulullah Saw. sering membaca surat Qaf ini di hari-hari besar, seperti hari raya dan salat-salat Jumat. Karena di dalam surat ini terkandung permulaan kejadian, kebangkitan, hisab, surga, neraka, pahala, azab, dan targib serta tarhib. Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Qaf. Demi Al-Quran yang sangat mulia. (Mereka tidak menerimanya) bahkan mereka tercengang karena telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari (kalangan) mereka sendiri, maka berkatalah orang-orang kafir, "Ini adalah suatu yang amat ajaib.” Apakah kami setelah mati dan setelah menjadi tanah (kami akan kembali lagi)? Itu adalah suatu pengembalian yang tidak mungkin. Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang dihancurkan oleh bumi dari (tubuh-tubuh) mereka, dan pada sisi Kami pun ada kitab yang memelihara (mencatat). Sebenarnya mereka telah mendustakan kebenaran tatkala kebenaran itu datang kepada mereka, maka mereka berada dalam keadaan kacau balau. Qaf adalah salah satu dari huruf Hijaiah yang telah disebutkan pada permulaan surat-surat Al-Quran, sama halnya dengan Shad, Nun, Alif Lam Mim, Ha Mim, Ta Sin, dan lain sebagainya, menurut Qatadah dan lain-lainnya yang keterangannya telah kami kemukakan dalam permulaan tafsir surat Al-Baqarah sehingga tidak perlu diulangi lagi. Menurut apa yang diriwayatkan dari sebagian ulama Salaf, Qaf adalah nama sebuah gunung. Seakan-akan —hanya Allah Yang Maha Mengetahui— riwayat ini bersumber dari dongengan-dongengan kaum Bani Israil, lalu diambil oleh sebagian orang karena adanya pembolehan mengambil riwayat dari mereka menyangkut hal-hal yang tidak dapat dibenarkan dan tidak dapat pula didustakan. Menurut hemat saya, hal ini dan yang semisal dengannya termasuk salah satu dari buatan kaum zindiq mereka (Bani Israil) yang sengaja mereka sisipkan dalam agama mereka untuk mengelabul urusan agama mereka. Sebagaimana telah dilakukan buatan-buatan seperti ini di kalangan umat ini, padahal banyak memiliki ulama yang agung, para ahli hafal hadis, dan para Imam mujtahidin, yaitu hadis-hadis buatan yang disandarkan kepada Nabi Saw. Padahal masa umat ini dengan nabinya masih belum begitu jauh. Maka terlebih lagi dengan umat Bani Israil yang masanya begitu jauh, sedangkan para ahli hafal kitab yang kritis sangat minim di kalangan mereka. Dan lagi kebiasaan mereka dalam meminum Khamr dan para ulamanya yang berani mengubah kalimat­-kalimat Al-Kitab dari tempat-tempat yang sebenarnya serta berani pula mengganti kitab Allah dan ayat-ayat-Nya. Sesungguhnya syariat kita memperbolehkan pengambilan riwayat dari mereka (Ahli Kitab) hanyalah sebatas apa yang telah digariskan oleh Nabi Saw. melalui sabdanya: "وَحَدِّثُوا عَنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ، وَلَا حَرَجَ" Berceritalah dari Bani Israil tidak ada dosa. Yaitu sebatas apa yang diperbolehkan oleh kaidah rasio. Adapun mengenai hal-hal yang irasional dan jelas batil serta dicurigai dusta, maka hal tersebut bukanlah termasuk ke dalam apa yang diperbolehkan oleh hadis di atas. Hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui. Banyak dari kalangan ahli tafsir ulama Salaf dan juga sejumlah besar ulama Khalaf yang meriwayatkan kisah-kisah dari kitab-kitab Ahli Kitab dalam jumlah yang boleh dikata cukup banyak sehubungan dengan tafsir Al-Quranul Karim, padahal yang sebenarnya mereka tidak memerlukan berita-berita dari mereka. Dan ironisnya Imam Abu Muhammad Abdur Rahman ibnu Abu Hatim Ar-Razi sendiri rahimahullah sehubungan dengan tafsir ayat ini telah mengetengahkan sebuah atsar yang garib. yang sanadnya tidak sahih sampai pada Ibnu Abbas r.a. Dia mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku yang mengatakan bahwa ia pernah mendapat cerita dari Muhammad ibnu Ismail Al-Makhzumi, bahwa telah menceritakan kepada kami Lais ibnu Abu Salim, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas r.a. yang mengatakan bahwa Allah Swt. telah menciptakan lautan di balik bumi ini yang mengelilinginya, kemudian di balik lautan itu Allah menciptakan sebuah gunung yang diberi nama Gunung Qaf; langit yang terdekat mengatapinya. Kemudian di balik gunung itu Allah Swt. menciptakan pula bumi sebesar tujuh kali lipat bumi ini. Kemudian Allah Swt. di balik itu menciptakan lautan yang mengelilinginya, lalu Dia di balik itu menciptakan sebuah gunung yang dinamakan Gunung Qaf, langit yang kedua mengatapinya, hingga hal yang sama diciptakan pada tujuh bumi dan tujuh laut, dan tujuh gunung, serta tujuh langit. Kemudian Ibnu Abbas r.a. mengatakan bahwa itulah yang dimaksud oleh firman Allah Swt. yang mengatakan: dan laut itu ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudahnya. (Luqman: 27) Sanad atsar ini munqati (ada mata rantai yang terputus). Yang jelas menurut apa yang diriwayatkan oleh Ali ibnu Abu Talhah dan Ibnu Abbas ra sehubungan dengan Qaf ini, ia adalah salah satu dan Asma Allah Swt. Dan menurut riwayat dari Mujahid, Qaf adalah salah satu dan huruf Hijaiah sama halnya dengan firman Allah Swt. lainnya yang mengawal, banyak surat, seperti Shad, Nun, Ha Mim, Ta Sin, Alif Lam Mim dan lain sebagainya. Ini Jelas berbeda jauh sekali dari apa yang dikatakan bersumber dari Ibnu Abbas r.a. di atas. Menurut pendapat lain, yang dimaksud dengan Qaf ialah Qudiyal Amru Wallahi, yakni Demi Allah, urusan itu telah diputuskan . Dan bahwa firman Allah Swt. ini menunjukkan adanya kalimat yang terbuang yang berkaitan dengannya, semisal dengan apa yang dikatakan oleh seorang penyair: قلت لها: قفي فقلت: قَافْ ... Kukatakan kepadanya.”Berhentilah!" Maka dia berkata.”Stop!" Tetapi tafsir seperti ini masih diragukan, karena adanya kalimat yang terbuang hanya dapat ditunjukkan melalui konteks yang menunjuk ke arahnya. Lalu darimanakah pengertian seperti itu dalam huruf Qaf ini? Firman Allah Swt.: {وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِ} Demi Al-Quran yang sangat mulia. (Qaf: 1) Yakni Al-Quran yang sangat mulia lagi sangat agung. لَا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ تَنْزِيلٌ مِنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ yang tidak datang kepadanya kebatilan, baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Mahabijaksana lagi Maha Terpuji. (Fushshilat: 42) Para ulama berbeda pendapat sehubungan dengan jawaban dari sumpah yang disebutkan dalam ayat ini. Menurut Ibnu Jarir dan sebagian ulama Nahwu, jawab qasam-nya adalah firman Allah Swt.: {قَدْ عَلِمْنَا مَا تَنْقُصُ الأرْضُ مِنْهُمْ وَعِنْدَنَا كِتَابٌ حَفِيظٌ} Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang dihancurkan oleh bumi dari (tubuh-tubuh) mereka, dan pada sisi Kami pun ada kitab yang memelihara (mencatat). (Qaf: 4) Tetapi pendapat ini masih diragukan, bahkan sebenarnya jawab qasam-nya telah terkandung di dalam kalimat sesudahnya, yaitu menetapkan kenabian dan hari kemudian, yakni mengukuhkan dan meyakinkan keberadaannya, sekalipun hal tersebut tidak disebutkan secara teks; hal seperti ini banyak didapati dalam qasam-qasam yang ada dalam Al-Quran, seperti pada pembahasan yang terdahulu dalam firman-Nya: {ص وَالْقُرْآنِ ذِي الذِّكْرِ بَلِ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي عِزَّةٍ وَشِقَاقٍ} Shad, demi Al-Qur’an yang mempunyai keagungan. Sebenarnya orang-orang kafir itu (berada) dalam kesombongan dan permusuhan yang sengit. (Shad: 1-2) Hal yang sama disebutkan di dalam surat ini melalui firman-Nya: {ق وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِ بَلْ عَجِبُوا أَنْ جَاءَهُمْ مُنْذِرٌ مِنْهُمْ فَقَالَ الْكَافِرُونَ هَذَا شَيْءٌ عَجِيبٌ} Qaf. Demi Al-Quran yang sangat mulia. (Mereka tidak menerimanya) bahkan mereka tercengang karena telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari (kalangan) mereka sendiri, maka berkatalah orang-orang kafir, "Ini adalah suatu yang amat ajaib.” (Qaf: 1-2) Yakni mereka merasa heran dengan adanya seorang rasul dari kalangan manusia yang diutus kepada mereka. Semakna dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya: {أَكَانَ لِلنَّاسِ عَجَبًا أَنْ أَوْحَيْنَا إِلَى رَجُلٍ مِنْهُمْ أَنْ أَنْذِرِ النَّاسَ} Patutkah menjadi keheranan bagi manusia bahwa Kami mewahyukan kepada seorang laki-laki di antara mereka, "Berilah peringatan kepada manusia.” (Yunus: 2) Yaitu hal ini bukanlah merupakan peristiwa yang mengherankan, karena sesungguhnya Allah memilih dari kalangan malaikat dan manusia menjadi utusan-Nya. Kemudian Allah Swt. berfirman, menceritakan keheranan mereka tentang adanya hari kembali yang mereka anggap sebagai hal yang mustahil: {أَئِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا ذَلِكَ رَجْعٌ بَعِيدٌ} Apakah kami setelah mati dan setelah menjadi tanah (kami akan kembali lagi)? Itu adalah suatu pengembalian yang tidak mungkin. (Qaf: 3) Mereka mengatakan, "Apakah bila kita telah mati dan menjadi tulang belulang serta semua sendi tulang-tulang kita bercerai-berai, dan kita menjadi tanah, apakah mungkin sesudah itu kita akan dihidupkan kembali seperti semua alam bentuk dan susunan yang sekarang ini seutuhnya?" {ذَلِكَ رَجْعٌ بَعِيدٌ} Itu adalah suatu pengembalian yang tidak mungkin. (Qaf: 3) Yakni mustahil bisa terjadi. Makna yang dimaksud ialah mereka tidak meyakini adanya hari berbangkit dan beranggapan bahwa itu mustahil. Maka dalam firman selanjutnya Allah Swt. menjawab mereka: {قَدْ عَلِمْنَا مَا تَنْقُصُ الأرْضُ مِنْهُمْ} Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang dihancurkan oleh bumi dari (tubuh-tubuh) mereka. (Qaf: 4) Artinya, Kami mengetahui apa yang dimakan oleh bumi dari tubuh-tubuh mereka yang telah hancur, tiada sesuatu pun yang tersembunyi bagi Kami dimanakah tubuh mereka dan menjadi apakah tubuh mereka. {وَعِنْدَنَا كِتَابٌ حَفِيظٌ} dan pada sisi Kami pun ada kitab yang memelihara (mencatat) (Qaf: 4) Yakni yang mencatat semuanya itu; ilmu Allah meliputi semuanya dan segala sesuatu telah dicatat di dalam Kitab di sisi-Nya. Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. sehubungan dengan makna firman-Nya: Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang dihancurkan oleh bumi dari (tubuh-tubuh) mereka. (Qaf: 4) Yaitu bumi yang memakan daging, kulit dan tulang serta rambut mereka. Hal yang sama telah dikatakan oleh Mujahid, Qatadah, Ad-Dahhak, dan lain-lainnya. Kemudian Allah Swt. menjelaskan penyebab kekafiran mereka, keingkaran dan anggapan mustahil mereka terhadap hal yang tidak mustahil. Untuk itu Allah Swt. berfirman: {بَلْ كَذَّبُوا بِالْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُمْ فَهُمْ فِي أَمْرٍ مَرِيجٍ} Sebenarnya mereka telah mendustakan kebenaran tatkala kebenaran itu datang kepada mereka, maka mereka berada dalam keadaan kacau balau. (Qaf: 5) Demikianlah keadaan setiap orang yang menyimpang dari kebenaran, apa pun alasan yang dikatakannya adalah batil belaka sesudah ia menyimpang dari kebenaran. Al-marij artinya pertentangan, kekacauan, kepalsuan, dan kemungkaran, seperti pengertian yang terdapat di dalam firman-Nya: {إِنَّكُمْ لَفِي قَوْلٍ مُخْتَلِفٍ يُؤْفَكُ عَنْهُ مَنْ أُفِكَ} sesungguhnya kamu benar-benar dalam keadaan berbeda-beda pendapat, dipalingkan darinya (Rasul dan Al-Quran) orang yang dipalingkan. (Adz-Dzariyat: 8-9).

Back

Snow
Snow
Snow