× Beranda Toko Online Artikel ↷ Baca Quran Asbabunnuzul Tafsir ↷ Mencari Artikel Mencari Ayat Advertisement

Maka Fir’aun dan bala tentaranya dapat menyusuli mereka di waktu matahari terbit. Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa, "Sesungguhnya kita benar­-benar akan tersusul.” Musa menjawab, "Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” Lalu Kami wahyukan kepada Musa "Pukullah lautan itu dengan tongkatmu.” Maka terbelahlah lautan itu, dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar. Dan di sanalah Kami dekatkan golongan yang lain. Dan Kami selamatkan Musa dan orang-orang yang besertanya semuanya. Dan Kami tenggelamkan golongan yang lain itu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar merupakan suatu tanda yang besar (mukjizat) tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Dialah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang. Sebagian ulama tafsir yang bukan hanya seorang mengatakan bahwa Firaun keluar dengan diiringi oleh iringan yang besar terdiri dari. sejumlah besar orang-orang kerajaannya, yaitu para ahli musyawarahnya, para patih, para hulubalang, para pembesar kerajaan, dan bala tentaranya. Adapun mengenai kisah yang disebutkan oleh kebanyakan kisah Israiliyat yang menyebutkan bahwa Firaun berangkat dengan membawa sejuta enam ratus pasukan berkudanya; yang seratus ribunya antara lain terdiri dari kuda yang hitam, maka kisah ini masih perlu dipertimbangkan kebenaran­nya. Kabul Ahbar mengatakan bahwa di antara pasukan itu terdapat pasukan yang berkuda hitam, jumlah mereka delapan ratus ribu orang; pendapat ini pun masih perlu dipertimbangkan kebenarannya. Yang jelas kisah tersebut hanyalah kisah Israiliyat yang dilebih-lebihkan. Allah Swt. Yang Maha Mengetahui kebenarannya. Apa yang dapat dijadikan pegangan adalah kisah yang diberitakan oleh Al-Quran. Al-Quran tidak menyebutkan bilangan mereka karena tidak ada faedahnya, yang jelas mereka keluar seluruhnya (mengejar Musa dan Bani Israil). Maka Fir’aun dan bala tentaranya dapat menyusuli mereka di waktu matahari terbit. (Asy-Syuara: 60) Yakni Firaun dan pasukannya berhasil mengejar mereka (dan mereka kelihatan) di waktu matahari terbit. Maka setelah kedua golongan itu saling melihat. (Asy-Syuara: 61) Maksudnya, masing-masing dari kedua golongan itu dapat melihat yang lainnya. berkatalah pengikut-pengikut Musa, "Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul.” (Asy-Syuara: 61) Demikian itu karena perjalanan mereka sampai di tepi pantai laut, yaitu Laut Merah. Di hadapan mereka terbentang laut yang luas, sedangkan di belakang mereka kelihatan Firaun dan bala tentaranya mengejar mereka. Karena itulah mereka mengatakan: "Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul.” Musa menjawab, "Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (Asy-Syuara: 61 -62) Yakni tiada sesuatu pun dari hal yang kalian khawatirkan akan menimpa kalian, karena sesungguhnya Allah Swt. Dialah yang telah memerintah­kanku untuk berjalan ke arah ini bersama kalian, sedangkan Dia tidak akan mengingkari janji-(Nya). Saat itu Harun a.s. berada di barisan paling depan bersama Yusya ibnu Nun, dan orang-orang yang beriman dari kalangan keluarga Firaun serta Musa berada di barisan tengah. Sebagian kalangan ulama tafsir yang bukan hanya seorang menyebutkan bahwa saat itu kaum Bani Israil berhenti, mereka tidak mengetahui apa yang harus dilakukannya. Lalu Yusya ibnu Nun atau orang-orang yang beriman dari kalangan keluarga Firaun berkata kepada Musa a.s., "Hai Nabi Allah, apakah Tuhanmu memerintahkanmu berjalan ke tempat ini?" Musa menjawab, "Ya." Maka Firaun dan pasukannya bertambah dekat, dan jaraknya hanya tinggal sedikit sampai kepada mereka. Pada saat itulah Allah memerintahkan kepada nabi-Nya (yaitu Musa a.s.) agar memukul laut dengan tongkatnya. Maka Musa memukul laut itu dengan tongkatnya seraya berkata, "Terbelahlah kamu dengan seizin Allah!" Ibnu Abu Hatim meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami Abu Zarah, telah menceritakan kepada kami Safwan ibnu Saleh, telah menceritakan kepada kamLAl-Walid, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Hamzah ibnu Yusuf, dari Abdullah ibnu Salam, bahwa setelah Musa sampai di tepi laut, berkatalah ia, "Wahai Tuhan yang telah ada sebelum segala sesuatu ada, wahai Tuhan Yang menciptakan segala sesuatu, wahai Tuhan Yang Kekal sesudah segala sesuatu (tiada), jadikanlah jalan keluar bagi kami." Maka Allah memerintahkan kepadanya melalui firman-Nya: Pukullah lautan itu dengan tongkatmu! (Asy-Syuara: 63) Qatadah mengatakan bahwa pada malam itu Allah memerintahkan kepada laut tersebut (seraya berfirman), "Apabila Musa memukulmu dengan tongkatnya, maka dengarkanlah ucapannya dan taatilah perintahnya." Maka pada malam itu laut tersebut bergetar semalaman, tanpa mengetahui dari sisi mana Musa akan memukulnya. Setelah Musa sampai ke tepi pantai, berkatalah kepadanya pelayannya (yaitu Yusya ibnu Nun), "Wahai Nabi Allah, apakah yang telah diperintahkan oleh Tuhanmu?" Musa menjawab, "Tuhan telah memerintahkan kepadaku agar memukul laut dengan tongkatku ini." Yusya ibnu Nun berkata, "Kalau begitu, cepat pukullah." Muhammad ibnu Ishaq mengatakan bahwa Allah memerintahkan kepada laut —menurut riwayat yang sampai kepadaku— bahwasanya apabila Musa memukulmu dengan tongkatnya, maka terbelahlah kamu untuknya. Maka semalaman laut itu bergetar, dan sebagian darinya memukul sebagian yang lain karena takut kepada Allah Swt. serta menunggu apa yang diperintahkan oleh Allah Swt. Allah mewahyukan kepada Musa melalui firman-Nya: Pukullah lautan itu dengan tongkatmu! (Asy-Syuara: 63) Maka Musa memukulnya dengan tongkatnya yang berisikan kekuasaan dari Allahyang telah diberikan kepadanya, dan laut itu terbelah. Menurut kisah yang diceritakan oleh bukan hanya seorang, Musa datang ke laut dan memanggilnya dengan nama kunyah, seraya berkata, "Terbelahlah kamu, hai Abu Khalid, dengan seizin Allah!" Firman Allah Swt.: Maka terbelahlah lautan itu, dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar. (Asy-Syuara: 63) Yakni seperti bukit yang besar-besar. Demikianlah menurut Ibnu Masud, Ibnu Abbas, Muhammad ibnu Kab, Ad-Dahhak, Qatadah, dan lain-lainnya. Menurut Ata Al-Khurrasani, yang dimaksud dengan At-Taud ialah celah yang ada di antara dua bukit. Ibnu Abbas mengatakan bahwa laut itu membentuk dua belas jalan, masing-masing jalan untuk tiap kabilah. As-Saddi menambahkan bahwa pada tiap jalan terdapat lubang-lubang sehingga sebagian dari mereka dapat melihat sebagian yang lainnya, sedangkan air laut berdiri tegak seperti halnya tembok. Allah juga mengirimkan angin ke dasar laut, lalu meniupnya sehingga dasar laut kering seperti permukaan bumi. Allah Swt. berfirman: maka buatlah untuk mereka jalan yang kering di laut itu, kamu tak usah khawatir akan tersusul dan tidak usah takut (akan tenggelam). (Taha:77) Dan dalam surat ini disebutkan oleh firman-Nya: Dan di sanalah Kami dekatkan golongan yang lain. (Asy-Syu ar3: 64) Ibnu Abbas, Ata Al-Khurrasani, Qatadah, dan As-Saddi mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya, "Azlafna, yakni Kami dekatkan Firaun dan bala tentaranya ke laut. Dan Kami selamatkan Musa dan orang-orang yang besertanya semuanya. Dan Kami tenggelamkan golongan yang lain itu. (Asy-Syuara: 65-66) Yaitu Kami selamatkan Musa dan Bani Israil serta orang-orang yang mengikuti mereka, seagama dengan mereka; tiada seorang pun dari mereka yang binasa. Firaun berikut bala tentaranya ditenggelamkan sehingga tidak ada seorang pun dari mereka melainkan binasa (mati tenggelam). Ibnu Abu Hatim meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Husain, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar ibnu Abu Syaibah, telah menceritakan kepada kami Syababah, telah menceritakan kepada kami Yunus ibnu Abu Ishaq, dari Abu Ishaq, dari Amr ibnu Maimun, dari Abdullah ibnu Masud, bahwa ketika Musa membawa serta Bani Israil pergi di malam hari, beritanya sampai kepada Firaun, lalu Firaun memerintahkan agar disembelihkan seekor kambing. Kambing itu disembelih, dan Firaun berkata, Tidak, demi Tuhan, sebelum kambing ini selesai dikuliti harus dikumpulkan kepadaku enam ratus ribu orang Qibti." Musa berangkat hingga sampailah di tepi laut, lalu Musa berkata kepada laut, "Terbelahlah kamu.!" Maka laut berkata kepadanya, "Sesungguhnya engkau, hai Musa, terlalu berlebihan. Apakah aku pernah terbelah untuk seseorang dari anak Adam, lalu aku membelah diriku untukmu?" Ibnu Masud melanjutkan kisahnya, bahwa saat itu Musa ditemani oleh seorang lelaki yang mengendarai kuda, lalu lelaki itu berkata kepada Musa, "Ke manakah engkau diperintahkan, hai Nabi Allah?" Musa menjawab, "Tiada lain aku diperintahkan ke arah ini (laut)." Maka ia memacu kudanya ke laut, lalu kudanya itu berenang dan menepi. Lalu lelaki itu berkata, "Kemanakah engkau diperintahkan, hai Nabi Allah?" Musa menjawab, "Tiada lain aku diperintahkan ke arah ini." Lelaki itu berkata, "Demi Allah, engkau tidak berdusta dan laut pun tidak berdusta." Kemudian lelaki itu memasukkan kudanya ke laut. Kudanya itu berenang, lalu menepi lagi. Lelaki itu kembali bertanya, "Ke arah manakah engkau diperintahkan, hai Nabi Allah?" Musa menjawab, "Aku hanya diperintah­kan menuju ke arah (laut) ini." Lelaki itu berkata, "Demi Allah, Musa tidak dusta dan laut pun tidak dusta." Lalu ia memasukkan keduanya ke laut untuk kedua kalinya. Kudanya itu berenang dan menepi lagi. Lelaki itu bertanya lagi, "Ke arah manakah engkau diperintahkan, hai Nabi Allah?" Musa menjawab, "Aku hanya diperintahkan menuju ke arah (laut) ini." Lelaki itu berkata, "Demi Allah, Musa tidak dusta dan laut pun tidak dusta." Ibnu Masud melanjutkan kisahnya, bahwa saat itu Allah memerintah­kan kepada Musa untuk memukulkan tongkatnya ke laut, lalu Musa memukul laut itu dengan tongkatnya. Maka terbelahlah laut tersebut membentuk dua belas jalan, masing-masing jalan buat tiap kabilah Bani Israil; mereka dapat saling berpandangan di antara sesamanya. Setelah semua pengikut Musa keluar dari laut itu dan Firaun beserta bala tentaranya masuk semuanya ke dalam laut itu, maka laut tersebut menutup kembali dan menenggelamkan mereka. Di dalam riwayat Israil, dari Abu Ishaq, dari Amr ibnu Maimun, dari Abdullah disebutkan bahwa ketika orang yang terakhir dari pengikut Musa keluar dari laut itu, dan Firaun beserta semua pengikutnya masuk ke laut, maka laut tersebut mengatup kembali menenggelamkan mereka. Belum ada suatu pemandangan orang tenggelam sebanyak itu selain hari itu, Firaun lanatullah pun ikut tenggelam. Kemudian Allah Swt. berfirman: Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar merupakan suatu tanda yang besar (mukjizat). (Asy-Syuara: 67) Yakni di dalam kisah ini dan keajaiban yang terkandung di dalamnya, serta pertolongan dan kemenangan bagi hamba-hamba Allah yang mukmin, benar-benar terkandung dalil dan hujah yang pasti serta hikmah yang agung. tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Dialah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang. (Asy-Syuara: 67-68).

Back

Snow
Snow
Snow