Berkatalah mereka berdua:"Ya Rabb kami, sesungguhnya kami khawatir bahwa ia segera menyiksa kami atau akan bertambah melampaui batas." Allah berfirman:"Jangan kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat." dan katakanlah, "Sesungguhnya kami berdua adalah utusan Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israil bersama kami dan janganlah kamu menyiksa mereka. Sesungguhnya kami telah datang kepadamu dengan membawa bukti (atas kerasulan kami) dari Tuhanmu. Dan keselamatan itu dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk. Sesungguhnya telah diwahyukan kepada kami bahwa siksa itu (ditimpakan) atas orang-orang yang mendustakan dan berpaling.” Allah Swt. menceritakan perihal Musa dan Harun, bahwa keduanya mengadu kepada Allah Swt. dan memohon perlindungan kepada-Nya: sesungguhnya kami khawatir bahwa ia segera menyiksa kami atau akan bertambah melewati batas. (Thaha: 45) Keduanya bermaksud bahwa keduanya merasa takut jika Firaun begitu melihat keduanya langsung menyiksanya atau menangkap keduanya, lalu menghukumnya. Sedangkan keduanya tidak berhak untuk mendapat sambutan seperti itu. Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam mengatakan bahwa makna farat ialah segera. Sedangkan menurut Mujahid, Musa dan Harun merasa khawatir bila Firaun menangkap keduanya. Ad-Dahhak telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa makna Yatga dalam ayat ini ialah menyerang. Allah berfirman, "Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat.” (Thaha: 46) Maksudnya, janganlah kamu berdua takut kepada Firaun sesungguhnya Aku selalu bersamamu, Aku mendengar pembicaraanmu dan pembicaraannya, dan Aku melihat tempatmu dan tempatnya, tiada sesuatu pun dari perkara kalian yang samar bagi-Ku. Dan ketahuilah olehmu berdua bahwa ubun-ubun (roh) Firaun berada di dalam genggaman kekuasaan-Ku. Maka tidaklah ia berbicara, dan tidak bernafas, tidak pula memukul kecuali dengan seizin-Ku dan sesudah ada perintah dari-Ku. Aku selalu bersamamu melalui pemeliharaan-Ku, pertolongan dan dukungan-Ku. Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Muhammad At-Tanafisi, telah menceritakan kepada kami Abu Muawiyah, dari Al-Amasy, dari Amr ibnu Murrah, dari Abu Ubaidah, dari Abdullah yang mengatakan bahwa ketika Allah mengutus Musa kepada Firaun, Musa bertanya, "Wahai Tuhanku, apakah yang harus aku katakan?" Allah berfirman, "Katakanlah, Hayya syarahiya." Al-Amasy menafsirkan kalimat tersebut dengan terjemahan berikut, "Akulah Yang Hidup sebelum adanya segala sesuatu, dan Akulah yang hidup sesudah segala sesuatu tiada." Sanad riwayat ini jayyid, tetapi mengandung sesuatu yang garib. Maka datanglah kamu berdua kepadanya (Firaun) dan katakanlah, "Sesungguhnya kami berdua adalah utusan Tuhanmu.” (Thaha: 47) Dalam hadis yang menceritakan tentang fitnah-fitnah yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas telah disebutkan bahwa Musa dan Harun tinggal beberapa lama di depan pintu istana Firaun tanpa diberi izin untuk masuk, sesudah itu keduanya diperbolehkan masuk setelah melewati berbagai macam rintangan yang keras. Muhammad ibnu Ishaq ibnu Yasar mengatakan bahwa Musa dan saudaranya Harun berangkat menemui Firaun, lalu keduanya berhenti di depan pintu istana Firaun untuk meminta izin agar keduanya diperbolehkan masuk menemuinya. Keduanya mengatakan, "Sesungguhnya kami adalah utusan Tuhan semesta alam, maka izinkanlah kami masuk untuk menemui Firaun." Menurut berita yang sampai kepadaku, keduanya tinggal selama dua tahun pulang dan pergi ke pintu istana tanpa diberi izin untuk masuk. Tiada seorang pun dari kalangan penjaga pintu istananya yang berani melapor kepada Firaun tentang kedatangan keduanya. Sehingga akhirnya masuklah menemui Firaun seorang pelawak yang selalu menghiburnya dan membuatnya tertawa, lalu pelawak itu berkata kepadanya, "Wahai Raja, sesungguhnya di depan pintu istanamu terdapat seorang lelaki yang mengatakan kalimat-kalimat yang menakjubkan. Dia menduga bahwa dirinya mempunyai Tuhan selain engkau yang menyuruhnya untuk menghadap kepadamu." Firaun berkata, meminta ketegasan, "Apakah benar ia telah berada di depan pintu istanaku?" Si pelawak menjawab, "Ya (tadi saya melihatnya ketika masuk)." Maka Firaun berkata memberikan perintah, "Izinkanlah dia masuk." Maka masuklah Musa bersama Harun ke dalam istana. Musa saat itu memegang tongkatnya. Setelah keduanya berdiri di hadapan Firaun, Musa berkata membuka pembicaraan, "Sesungguhnya aku adalah utusan Tuhan semesta alam," maka Firaun mengenalinya. As-Saddi menceritakan bahwa ketika Musa tiba di negeri Mesir, terlebih dahulu ia bertamu ke rumah ibunya dan saudaranya, sedangkan keduanya tidak mengenalinya. Hidangan makan keduanya pada malam itu adalah makanan taf’i, kemudian keduanya mengenalinya, lalu menyalaminya. Musa berkata kepada saudaranya, "Hai Harun, sesungguhnya Tuhanku telah memerintahkan kepadaku agar mendatangi Firaun ini, lalu menyerunya untuk menyembah Allah, dan Allah memerintahkan kepadaku agar kamu membantuku." Harun menjawab, "Kerjakanlah apa yang telah diperintahkan oleh Tuhanmu." Maka keduanya berangkat, saat itu hari telah malam, lalu Musa mengetuk pintu istana Firaun dengan tongkatnya, dan Firaun mendengarnya (karena suaranya sangat keras). Firaun sangat marah, lalu berkata, "Siapakah orang yang berani melakukan perbuatan yang kurang ajar ini terhadap diriku?" Maka para penjaga pintu istana melaporkan bahwa di depan pintu terdapat seorang lelaki yang gila, mengatakan bahwa dirinya adalah utusan Allah. Maka Firaun memerintahkan agar Musa dibawa menghadap kepadanya. Setelah Musa berada di hadapan Firaun, maka Musa dan saudaranya (Harun) mengatakan kepada Firaun hal-hal yang telah disebutkan oleh Allah di dalam Kitab-Nya. Firman Allah Swt.: Sesungguhnya kami telah datang kepadamu dengan membawa bukti (atas kerasulan kami) dari Tuhanmu. (Thaha : 47) Yakni bukti dan mukjizat dari Tuhanmu yang membenarkan kerasulan kami. Dan keselamatan itu dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk. (Thaha: 47) Maksudnya, keselamatan semoga dilimpahkan kepadamu jika kamu mengikuti petunjuk. Karena itulah ketika Rasulullah Saw. berkirim surat kepada Heraklius (Kaisar Romawi), di permulaan suratnya beliau menyebutkan: Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad, utusan Allah, ditujukan kepada Heraklius (pembesar Romawi) "Kesejahteraan semoga terlimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk. Amma Badu, sesungguhnya aku mengajakmu kepada seruan Islam, masuk Islamlah, niscaya engkau selamat. Allah pasti memberimu pahala dua kali lipat.” Begitu pula ketika Musailamah berkirim surat kepada Rasulullah Saw. yang teksnya berbunyi seperti berikut, "Dari Musailamah kepada Rasulullah, semoga keselamatan terlimpahkan kepadamu. Amma Badu, sesungguhnya aku menyaingimu dalam urusan ini. Maka bagimu adalah daerah perkotaan, sedangkan bagiku adalah daerah perkampungan (pedalaman), tetapi orang-orang Quraisy adalah kaum yang melampaui batas." Maka Rasulullah Saw. menjawab suratnya yang isinya seperti berikut: Dari Muhammad, utusan Allah, ditujukan kepada Musailamah Al-Kazzab, semoga kesejahteraan terlimpahkan kepada orang-orang yang mengikuti petunjuk. Amma Badu, sesungguhnya bumi itu adalah milik Allah, Dia mewariskannya (memberikannya) kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya, dan akibat yang terpuji itu hanyalah bagi orang-orang yang bertakwa. Karena itulah Musa dan Harun berkata kepada Firaun, seperti yang dikisahkan oleh Firman-Nya: Dan keselamatan itu dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk. Sesungguhnya telah diwahyukan kepada kami bahwa siksa itu (ditimpakan) atas orang-orang yang mendustakan dan berpaling. (Thaha: 47-48) Dengan kata lain, Musa bermaksud bahwa Allah telah menceritakan kepada kami di antara wahyu yang diturunkan-Nya kepada kami, bahwa azab itu akan ditimpakan khusus kepada orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah dan berpaling dari ketaatan kepada-Nya. Semakna dengan apa yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam ayat lain melalui firman-Nya: Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). (An-Naziat: 37-39) Maka Kami memperingatkan kalian dengan neraka yang menyala-nyala. Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka, yang mendustakan (kebenaran) dan berpaling (dari iman). (Al-Lail: 14-16) Dan firman Allah Swt.: Dan ia tidak mau membenarkan (Rasul dan Al-Quran) dan tidak mau mengerjakan salat, tetapi ia mendustakan (Rasul) dan berpaling (dari kebenaran). (Al-Qiyamah: 31-32) Yaitu hatinya mendustakan (Rasul) dan perbuatannya berpaling (dari kebenaran).
Back

