× Beranda Toko Online Artikel ↷ Baca Quran Asbabunnuzul Tafsir ↷ Mencari Artikel Mencari Ayat Advertisement

Berkatalah pembesar-pembesar dari kaum Fir’aun (kepada Firaun) "Apakah kamu membiarkan Musa dan kaumnya untuk membuat kerusakan di negeri ini (Mesir) dan meninggalkan kamu serta tuhan-tuhanmu?” Fir’aun menjawab, "Akan kita bunuh anak-anak lelaki mereka dan kita biarkan hidup perempuan-perempuan mereka, dan sesungguhnya kita berkuasa penuh di atas mereka." Musa berkata kepada kaumnya, "Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah, sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah, dipusakakan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa." Kaum Musa berkata, "Kami telah ditindas (oleh Firaun) sebelum kamu datang kepada kami dan sesudah kamu datang." Musa menjawab, "Mudah-mudahan Allah membinasakan musuh kalian dan menjadikan kalian khalifah di bumi-(Nya), maka Allah akan melihat bagaimana perbuatan kalian. Allah Swt. menceritakan tentang persekongkolan Firaun dan para pemuka kaumnya terhadap Musa, serta kedengkian dan kemarahan yang mereka pendam terhadap Musa a.s. dan kaumnya. Berkatalah pembesar-pembesar dari kaum Fir’aun. (Al-Araf: 127) Yakni mereka berkata kepada Firaun. Apakah kamu membiarkan Musa dan kaumnya. (Al-Araf: 127) Artinya, apakah engkau biarkan mereka menimbulkan kerusakan di bumi, yakni merusak rakyatmu dan menyeru mereka untuk menyembah Tuhan mereka, bukan menyembah kepadamu? Alangkah meng­herankannya, mengapa mereka merasa khawatir Musa dan kaumnya akan menimbulkan kerusakan. Bukankah sebenarnya Firaun dan kaumnyalah orang-orang yang membuat kerusakan itu, tetapi Firaun dan kaumnya tidak merasa, bahwa diri mereka sebenarnya adalah para perusak? Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan bahwa mereka mengatakan: dan meninggalkan kamu serta tuhan-tuhanmu? (Al-Araf: 127) Sebagian ulama tafsir mengatakan bahwa huruf wawu dalam ayat ini adalah wawu haliyah (kata keterangan keadaan), yakni apakah engkau biarkan Musa dan kaumnya membuat kerusakan, sedangkan penyembah­an kepadamu ditinggalkan? Orang yang membaca dengan pengertian ini adalah Ubay ibnu Kab, yakni sedangkan mereka meninggalkan penyembahan mereka kepadamu dan tuhan-tuhanmu? Demikianlah menurut riwayat Ibnu Jarir. Ulama lain mengatakan bahwa huruf wawu ini adalah huruf ataf, yakni apakah engkau biarkan mereka melakukan kerusakan seperti yang engkau lihat sendiri? Mereka juga tidak mau menyembah tuhan-tuhanmu. Sebagian ulama ada yang membacanya ilahataka yang artinya menyembah kepadamu. Pendapat ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Mujahid, dan lain-lainnya. Berdasarkan pengertian bacaan yang pertama dapat disimpulkan oleh sebagian ulama bahwa Firaun memang mempunyai tuhan-tuhan yang selalu disembahnya. Al-Hasan Al-Basri mengatakan, bahwa Firaun mempunyai tuhan yang selalu ia sembah secara rahasia. Dalam riwayat lain disebutkan pula bahwa Firaun mempunyai sebuah patung kecil yang dikalungkan pada lehernya dan selalu ia sembah. As-Saddi telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan meninggalkan kamu dan tuhan-tuhanmu? (Al-Araf: 127) Yakni tuhan-tuhan Firaun. Menurut dugaan Ibnu Abbas, apabila mereka melihat seekor sapi betina yang bagus, maka Firaun menyuruh mereka untuk menyembah sapi betina itu. Karena itulah Samiri membuatkan patung anak sapi yang dapat bersuara bagi mereka. Lalu Firaun memperkenankan permintaan pembesar-pembesar kaumnya itu melalui perkataannya, seperti yang disebutkan oleh firman Allah Swt.: Akan kita bunuh anak-anak lelaki mereka dan kita biarkan hidup perempuan-perempuan mereka. (Al-Araf: 127) Hal ini merupakan perbuatan kedua kalinya yang diperintahkan oleh Firaun terhadap kaumnya. Hal yang serupa pernah ia lakukan terhadap kaum Bani Israil, yaitu ketika menjelang kelahiran Musa a.s., karena merasa khawatir akan keberadaannya. Tetapi ternyata kejadiannya bertentangan dengan apa yang dituju dan yang dimaksud oleh Firaun (yakni Musa tetap lahir dengan selamat). Ia pun mendapat perlakuan yang sama di saat dia hendak menghinakan kaum Bani Israil dan menindas mereka. Maka kenyataannya menjadi kebalikan dari apa yang diinginkannya, yaitu Allah memenangkan kaum Bani Israil dan menghinakan Firaun beserta bala tentaranya- serta menenggelamkan mereka semua di dalam lautan. Setelah Firaun bertekad bulat hendak melaksanakan niatnya seperti yang telah disebutkan pada ayat di atas, yaitu berbuat jahat terhadap kaum Bani Israil, maka kelanjutannya disebutkan oleh firman Allah Swt. berikut: Musa berkata kepada kaumnya, "Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah. {Al-Araf: 128) Musa menjanjikan kepada mereka bahwa akibat yang terpuji akan mereka peroleh, dan kelak mereka akan beroleh kemenangan. Hal ini diungkapkan oleh Allah Swt. melalui firman-Nya: sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah; dipusakakan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa." Kaum Musa berkata, "Kami telah ditindas (oleh Firaun) sebelum kamu datang kepada kami dan sesudah kamu datang.” (Al-Araf: 128-129) Yakni mereka benar-benar telah mengerjai kami seperti apa yang engkau lihat sendiri, mereka telah menindas dan menghina kami sebelum engkau tiba, hai Musa, juga sesudahnya. Kemudian Musa berkata kepada mereka seraya mengingatkan perihal keadaan mereka di masa itu dan apa yang bakal mereka alami di masa berikutnya, seperti yang dikisahkan oleh firman-Nya: Mudah-mudahan Allah membinasakan musuh kalian. (Al-Araf:129) hingga akhir ayat Di dalam kalimat ini terkandung anjuran yang mendorong mereka untuk bersyukur secara meyakinkan bila mereka mendapat nikmat dan lenyapnya semua penderitaan dari diri mereka.

Back

Snow
Snow
Snow