Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan al-Hakim, yang bersumber dari Sad bin Abi Waqqash bahwa turunnya ayat ini (al-Anam: 52-53) berkenaan dengan enam orang, diantaranya Sad bin Abi Waqqash dan Abdullah bin Masud. Kaum kafir Quraisy berkata kepada Nabi saw.: "Usir mereka (keenam orang hina itu), karena kami malu menjadi pengikutmu setingkat dengan mereka." Perkataan itu tidak menyenangkan Nabi. Maka Allah menurunkan ayat ini (al-Anam: 52-53) sebagai larangan kepada kaum Mukminin untuk membeda-bedakan martabat sesama manusia. Diriwayatkan oleh Ahmad, ath-Thabarani, dan Ibnu Abii Hatim, yang bersumber dari Ibnu Masud bahwa para pembesar Quraisy lewat di hadapan Rasulullah saw. yang sedang duduk bersama Khabbab bin al Arat, Shuhail, Bilal, dan Ammar (para abid yang sudah dimerdekakan). Mereka berkata: "Hai Muhammad, apakah engkau rela duduk setingkat dengan mereka. Adakah mereka itu telah diberi nikmat oleh Allah lebih dari kami? Sekiranya engkau mengusir mereka, kami akan menjadi pengikutmu." Maka Allah menurunkan ayat ini (al-Anam: 51-55) yang melarang kaum Mukminin membeda-bedakan martabat seseorang, karena sesungguhnya Allah yang paling mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur. Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Ikrimah bahwa Utbah bin Rabiah, Syaibah bin Rabiah, Muthim bin Adi, dan al-Harits bin Naufal dari kalangan pembesar-pembesar kafir Bani Abdi Manaf, datang kepada Abu Thalib dan berkata: "Jika anak saudaramu (Muhammad) mengusir budak-budak itu, kami akan merasa lebih bangga, dan kami akan lebih taat dan setia kepadanya." Adapun budak-budak tersebut adalah Bilal, Ammar bin Yasir, Salim maulaa Abu Hudzaifah, Shalih maulaa Usaid, Ibnu Masud, al-Miqdad bin Abdillah, Waqid bin Abdillah al-Hanzhali, dan teman-temannya. Lalu Abu Thalib menyampaikan hal itu kepada Nabi saw, Maka berkatalah Umar bin al-Khaththab: "Sekiranya tuan melaksanakan permintaan mereka, kita lihat nanti apa sebenarnya yang mereka inginkan." Maka Allah menurunkan ayat ini (al-Anam: 51-53) yang memerintahkan Muhammad untuk menyampaikan wahyu yang melarang mengusir orang-orang yang beribadah kepada Allah swt, dan melarang menilai derajat seseorang. Sesungguhnya Allah lebih mengetahui orang-orang yang bersyukur kepada-Nya. Setelah itu Umar meminta maaf atas ucapannya itu, dan turunlah ayat selanjutnya (al-Anam: 54) sebagai jaminan ampunan bagi orang-orang yang bertobat dari kesalahan, karena ketidaktahuannya. Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim, yang bersumber dari Khabbab bahwa al-Aqra bin Habis dan Uyainah bin Hishn datang menghadap Rasulullah saw, di saat beliau duduk dikelilingi Shuhaib, Bilal, Ammar bin Yasir, dan Khabbab dari kalangan kaum Mukminin yang dianggap hina. Mereka meminta Nabi, dengan sikap meremehkan orang-orang yang hadir, untuk dapat berbicara di luar mereka. Dalam pembicaraan tersebut mereka menginginkan agar diadakan suatu majelis khusus untuk menerima delegasi-delegasi pembesar bangsa Arab, karena mereka merasa malu harus duduk bersama-sama dengan orang-orang yang dianggap hina oleh mereka. Mereka juga mengusulkan agar orang-orang yang dianggap hina itu diusir saja jika pembesar-pembesar itu datang, dan baru boleh duduk kembali bersama mereka apabila sudah selesai. Nabi saw. mengiyakannya. Maka turunlah ayat ini (al-Anam: 52). Ayat tersebut dibacakan pada al-Aqra dan temannya, kemudian dilanjutkan dengan ayat berikutnya (al-Anam: 53) Pada waktu itu Rasulullah saw. duduk kembali beserta kaum Mukminin. Dan ketika Aqra akan pergi, Rasulullah berdiri meninggalkan kaum Mukminin. Maka turunlah ayat, washbir nafsaka maal ladziina yaduuna rabbahum, (dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Rabb-nya) sampai akhir ayat (al-Kahfi: 28), yang menyuruh Nabi untuk tetap duduk bersama kaum Mukminin yang dianggap hina oleh kaum zalim. Keterangan: menurut Ibnu Katsir, hadits ini gharib, karena ayat ini Makkiyyah, sedang al-Aqra dan Unaiyah masuk Islam beberapa lama setelah hijrah. Diriwayatkan oleh al-Farabi dan Ibnu Abi Hatim, yang bersumber dari Mahan bahwa suatu waktu orang-orang datang menghadap Rasulullah saw. seraya berkata: "Kami mengerjakan dosa-dosa yang besar." Rasulullah saw. tidak menjawab apa-apa, sampai turun ayat ini (al-Anam: 54) yang menjelaskan bahwa tobat orang-orang yang berbuat dosa tanda pengetahuan dan kemudian berbuat baik, akan diampuni Allah swt.
Back

