× Beranda Toko Online Artikel ↷ Baca Quran Asbabunnuzul Tafsir ↷ Mencari Artikel Mencari Ayat Advertisement

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Ali bahwa kaum Banin Najjar bertanya kepada Rasulullah saw, "Kami sering bepergian berniaga, bagaimanakah shalat kami?" Maka Allah menurunkan sebagian ayat ini (an-Nisaa: 101) yang membolehkan shalat dikasar. Wahyu tentang ayat ini kemudian terputus sampai, minash shalaah, (shalat[mu]). Di dalam suatu peperangan yang terjadi setelah turunnya ayat di atas (an-Nisaa: 101) , Rasulullah saw. mendirikan shalat dzuhur. Di saat itulah kaum musyrikin berkata: "Muhammad dan teman-temannya memberikan kesempatan pada kita untuk menggempur dari belakang. Tidakkah sebaiknya kita perhebat serbuan terhadap mereka sekarang ini?" Maka berkatalah yang lainnya: "Sebaiknya kita ambil kesempatan lain, karena nantipun mereka akan melakukan hal serupa di tempat yang sama. Maka Allah menurunkan wahyu di antara kedua waktu shalat itu (dzuhur dan asyar) sebagai kelanjutan ayat ini (an-Nisaa: 101) yaitu, in khiftum (jika kamu takut) sampai adzaabam muhiinaa (azab yang menghinakan) (an-Nisaa: 102), dan kemudian ayat shalat khauf (an-Nisaa: 103). Diriwayatkan oleh Ahmad, al-Hakim, dishahihkan oleh al-Hakim, serta al-Baihaqi di dalam kitab ad-Dalaa-il, yang bersumber dari Ibnu Iyasy az-Zurqi. Hadits seperti ini diriwayatkan pula oleh at-Tirmidzi yang bersumber dari Abu Hurairah. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir dari Jabir bin Abdillah yang bersumber dari Ibnu Abbas. Bahwa ketika Rasulullah saw. bersama para shahabatnya di Ashfan, datanglah serbuan dari kaum musyrikin, yang di antaranya terdapat Khalid bin al-Walid. Mereka berada di arah kiblat. Kemudian Nabi saw. mengimami shalat dzuhur. Kaum musyrikin berkata: "Alangkah baiknya kalau kita bisa membunuh pimpinannya dalam keadaan demikian." Yang lainnya berkata: "Sebentar lagi akan datang waktu shalat, dan mereka lebih mencintai shalat daripada anaknya ataupun dirinya sendiri." Lalu turunlah Jibril, antara waktu dzuhur dan asyar, membawa ayat ini (an-Nisaa: 102). Diriwayatkan oleh al-Bukhari yang bersumber dari Ibnu Abbas. Bahwa turunnya ayat, ing kaana bikum adzam mim matharin au kungtum mardla (jika kemu mendapat sesuatu kesusahan karena hujan atau karena kamu memang sakit) berkenaan dengan Abdurrahman bin Auf pada waktu menderita luka parah. Ayat ini (an-Nisaa: 102) memperingatkan kepada orang yang sakit/ luka yang tidak mampu menyandang senjata untuk tetap bersiap siaga.

Back

Snow
Snow
Snow