Diriwayatkan oleh asy-Syaikhaan (al-Bukhari dan Muslim) yang bersumber dari Ibnu Masud bahwa Ibnu Masud bertanya kepada Rasulullah saw. tentang dosa yang paling besar. Rasulullah saw. menjawab: "Engkau membuat sekutu untuk Allah, padahal Ia yang menjadikanmu." Ia bertanya : "Kemudian apa lagi?" Rasulullah menjawab: "Membunuh anakmu karena takut makan besertamu." Ia bertanya: "Kemudian apa lagi?" Rasulullah menjawab: "Engkau berzina dengan istri tetanggamu." Maka Allah menurunkan ayat ini (al-Furqaan: 68) yang membenarkan kata-kata Rasulullah tadi. Diriwayatkan oleh asy-syaikhaan yang bersumber dari Ibnu Abbas bahwa kaum musyrikin gemar membunuh dan berzina. Pada suatu hari bertanyalah mereka kepada Rasulullah saw, "Sesungguhnya yang tuan katakan dan tuan serukan adalah baik. Tunjukkan kepada kami, apa yang harus kami lakukan untuk menghapus dosa kami." Maka turunlah ayat ini (al-Furqaan: 68) yang melarang mereka menyekutukan Allah, membunuh, dan berzina; dan surah az-Zumar ayat 53 yang melarang mereka berputus asa dari Rahmat Allah dan ampunan-Nya. Diriwayatkan oleh al-Bukhari dll, yang bersumber dari Ibnu Abbas bahwa ketika turun ayat, wal ladziina laa yaduuna maallaahi ilaahan aakhara wa laa yaqtuluunan nafsal latii harramallaahu illaa bil haq, (dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah [membunuhnya] kecuali dengan alasan yang benar) (al-Furqaan: 68) kaum musyrikin Mekah berkata: "Kami telah membunuh orang tanpa alasan yang hak, telah menyeru kepada tuhan selain Allah, dan juga telah melakukan zina." Maka turunlah ayat selanjutnya (al-Furqaan: 70) yang menunjukkan jalan untuk bertobat kepada Allah.
Back

