× Beranda Toko Online Artikel ↷ Baca Quran Asbabunnuzul Tafsir ↷ Mencari Artikel Mencari Ayat Advertisement

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa Aisyah berkata: "Sekiranya aku mengakui bahwa aku melakukan suatu perbuatan, padahal Allah mengetahui bahwa aku suci dari perbuatan itu, pasti tuan akan mempercayai aku. Demi Allah, aku tidak mendapatkan sesuatu perumpamaan yang sejalan dengan peristiwa kita ini, kecuali yang diucapkan oleh ayah Nabi Yusuf: fa shabrun jamiiluw wallaahu mustaaanu alaa tashifuun. (maka kesabaran yang baik itulah [kesabaranku]. Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang yang kamu ceritakan)" (Yusuf: 18). Setelah itu iapun pindah dan berbaring di tempat tidurnya. Belum juga Rasulullah meninggalkan tempat duduknya dan tidak seorangpun penghuni rumah yang keluar, Allah menurunkan wahyu kepada beliau. Tampak sekali Rasulullah kepayahan, sebagaimana biasa apabila beliau menerima wahyu. Setelah selesai menerima wahyu, kalimat pertama kali yang beliau ucapkan adalah: "Bergembiralah wahai Aisyah, sesungguhnya Allah telah membersihkanmu." Maka berkatalah ibunya kepada Aisyah: "Bangunlah dan menghadap beliau!" Aisyah berkata: "Demi Allah, aku tidak akan bangun menghadap kepadanya, dan tidak akan memuji syukur kecuali kepada Allah yang telah menurunkan ayat yang menyatakan kesucianku." yaitu ayat innal ladziina jaa-uu bil ifki ushbatum mingkum (sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga) hingga sepuluh ayat (an-Nuur: 11-20). Setelah kejadian ini, Abu Bakr yang biasanya memberi nafkah kepada Misthah karena kekerabatan dan kefakirannya, berkata: "Demi Allah, aku tidak akan memberi nafkah lagi kepada Misthah karena ucapannya tentang Aisyah." Maka turunlah ayat selanjutnya (an-Nuur: 22) sebagai teguran kepada orang-orang yang bersumpah tidak akan memberi nafkah kepada kerabat, fakir, dan lain-lain, karena merasa disakiti hatinya oleh mereka. Berkatalah Abu Bakr: "Demi Allah, sesungguhnya aku mengharapkan ampunan dari Allah." Ia pun terus menafkahi Misthah sebagaimana biasa.

Back

Snow
Snow
Snow