Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan al-Baihaqi di dalam kitab ad-Dalaa-il, dari Hadits Syahr bin Hausyab, yang bersumber dari Abdurrahman bin Ghanam. Hadits ini mursal dan sanadnya daif, tapi memiliki syaahiid (penguat) seperti beritkutnya. Bahwa orang-orang Yahudi datang kepada Nabi saw. (untuk menghasut), dengan berkata: "Sekiranya engkau benar-benar seorang Nabi, pergilah ke Syam, karena Syam itu tempat berkumpul dan negeri para nabi." Rasulullah percaya akan omongan mereka sehingga terkesan di dalam hatinya. Ketika perang Tabuk, Rasulullah bermaksud menuju Syam. Namun sesampainya di Tabuk, Allah menurunkan ayat-ayat ini (al-Israa: 73-75 diakhiri dengan ayat 76), sebagai pemberitahuan kepada Rasulullah bahwa kaum Yahudi itu bermaksud mengeluarkan beliau dari Madinah, dan sebagai pemberitahuan kepada beliau supaya pulang kembali ke Madinah. Berkatalah Jibril kepada Nabi saw: "Mintalah kepada Rabbmu, karena tiap-tiap Nabi itu ada permintaannya." Nabi saw berkata: "Apa yang engkau anjurkan untuk aku minta?" Jibril berkata: "Mohonlah, rabbi adkhilnii mudkhala shidqiw wa akhrijnii mukhraja shidqiw wajal lii mil ladungka shultaanan nashiiraa," (ya Rabbi, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah [pula] aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong) (al-Israa: 80). Ayat ini (al-Israa: 73-76, 80) turun berkenaan dengan keharusan Rasulullah pulang dari Tabuk. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Said bin Jubair. Hadits ini mursal. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir, dan disebutkan bahwa yang berkata kepada Rasulullah itu adalah kaum Yahudi. Hadits inipun mursal, bahwa kaum musyrikin berkata kepada Nabi saw, "Nabi-nabi bertempat tinggal di Syam, mengapa engkau tinggal di Madinah?" Ketika itu hampir dilaksanakan oleh Nabi, turunlah ayat ini (al-Israa: 80) yang memberitahukan maksud kaum musyrikin yang ingin mengusir beliau.
Back

