× Beranda Toko Online Artikel ↷ Baca Quran Asbabunnuzul Tafsir ↷ Mencari Artikel Mencari Ayat Advertisement

Diriwayatkan oleh Ibnu Marduwaih dan Ibnu Abi Hatim, dari Ishaq, dari Muhammad bin Abi Muhammad, dari Ikrimah, yang bersumber dari Ibnu Abbas. Bahwa Umayyah bin Khalaf, Abu Jahl bin Hisyam, dan tokoh-tokoh Quraisy menghadap Rasulullah saw. dan berkata: "Hai Muhammad. Mari kita meminta berkah kepada tuhan-tuhan kami, dan kami akan masuk agamamu." Rasulullah sangat menginginkan mereka masuk Islam, dan merasa kasihan terhadap mereka. Maka Allah menurunkan ayat-ayat tersebut di atas (al-Israa: 73-75) yang menegaskan bahwa ajakan mereka tidak perlu diperhatikan karena akan menyesatkan. Imam as-Suyuti mengaggap bahwa hadits tersebut paling shahih berkenaan dengan asbabun nuzul ayat-ayat ini (al-Israa: 73-75). Hadits tersebut sanadnya kuat serta mempunyai syahiid (penguat). Diriwayatkan oleh Abusy Syaikh yang bersumber dari Said bin Jubair dan Ibnu Syihab bahwa Rasulullah saw. mencium Hajar Aswad. Kaum Quraisy berkata: "Kami tidak akan membiarkan engkau mencium Hajar Aswad sebelum engkau mencium tuhan-tuhan kami." Maka Rasulullah berkata: "Apa salahnya kalau aku berbuat demikian, karena Allah mengetahui perbedaan perbuatan itu." Maka turunlah ayat tersebut di atas (al-Israa: 73-75) sebagai larangan kepada Rasulullah untuk meluluskan permintaan mereka. Diriwayatkan oleh Abusy Syaikh yang bersumber dari Jubair bin Nufair bahwa kaum Quraisy datang menghadap Rasulullah saw. dan berkata: "Jika engkau betul diutus kepada kami, usirlah para pengikutmu yang hina dan para abid itu, nanti kami yang akan menjadi shahabat-shahabatmu." Nabi condong untuk meluluskan permintaan mereka. Maka turunlah ayat ini (al-Israa: 73-75) yang melarang Nabi meluluskan permintaan mereka. Diriwayatkan oleh Abusy Syaikh yang bersumber dari Muhammad bin Kab al Qurazhi bahwa ketika Nabi saw. membacakan ayat, wan najmi idzaa hawaa (demi bintang ketika terbenam) sampai afa ra-aitumul laata wal uzzaa (maka patutkah kamu [hai orang orang musyrik] menganggap al-Latta dan Uzza) (an-Najm: 1-19), setan menyelipkan perkataan, tilkal gharaaniiqul syafaatahunna la turjaa (itulah gharaniq yang paling mulia, yang syafaatnya benar-benar dapat diharapkan). Maka turunlah ayat tersebut di atas (al-Israa: 73-75) yang melarang untuk menggubris ocehan setan. Sejak itu Nabi merasa bingung, sehingga turunlah surat al-Hajj ayat 52 yang menegaskan bahwa apa-apa yang diturunkan oleh Allah tidak akan dapat dicampur baurkan dengan perbuatan makhluk-Nya. Keterangan: Berdasarkan riwayat-riwayat di atas, ayat-ayat ini (al-Israa: 73-75) diturunkan di Mekah. Ada pula yang menganggap bahwa ayat-ayat tersebut diturunkan di Madinah berdasarkan riwayat di bawah ini: Diriwayatkan oleh Ibnu Marduwaih dari al-Aufi yang bersumber dari Ibnu Abbas. Sanad hadits ini daif. Bahwa suatu kaum berkata kepada Nabi saw, "Berilah kami tempo satu tahun agar kami bisa mengumpulkan hadiah untuk tuhan-tuhan kami. Jika sudah banyak terkumpul, kami akan masuk Islam." Hampir saja Rasulullah saw. memberikan tempo kepada mereka. Maka turunlah ayat ini (al-Israa: 73-75) sebagai larangan untuk mengabulkan permintaan mereka.

Back

Snow
Snow
Snow