× Beranda Toko Online Artikel ↷ Baca Quran Asbabunnuzul Tafsir ↷ Mencari Artikel Mencari Ayat Advertisement

Diriwayatkan oleh asy-Syaikhaan (al-Bukhari dan Muslim) dari Said bin al-Musayyab yang bersumber dari bapaknya. Menurut zhahirnya, ayat ini turun di Mekah. Bahwa ketika Abu Thalib hampir menghembuskan nafasnya yang terakhir, datanglah Rasulullah saw. kepadanhya. Didapatinya Abu Jahl dan Abdullah bin Abi Umayyah berada di sisinya. Nabi saw. bersabda: "Wahai pamanku. Ucapkanlah: laa ilaaha illallaah (tidak ada tuhan selain Allah), agar dengan mengucapkan kalimat itu saya dapat membela Pamanda di hadapan Allah." Berkatalah Abu Jahl dan Abdullah: "Hai Abu Thalib, apakah engkau benci dengan agama Abdul Muthalib?" kedua orang itu tidak henti-hentinya membujuk Abu Thalib, sehingga kalimat terakhir yang ia ucapkan pun sesuai dengan agama Abdul Muthalib. Nabi saw. bersabda: "Aku akan memintakan ampun untuk Pamanda selagi aku tidak dilarang berbuat demikian." Maka turunlah ayat ini (Baraaah: 113) sebagai larangan untuk memintakan ampun bagi kaum musyrikin. Ayat lain yang diturunkan berkenaan dengan usaha Nabi untuk mengislamkan Abu Thalib ialah surah al-Qashash ayat 56, yang menegaskan bahwa Nabi tidak dapat memberikan petunjuk kepada orang yang ia sayangi selagi tidak diberi petunjuk oleh Allah. Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan al-Hakim, yang bersumber dari Ali bin Abi Thalib. Menurut at-Tirmidzi hadits ini hasan, bahwa Ali bin Abi Thalib mendengar seorang laki-laki sedang memohonkan ampun kepada Allah bagi kedua ibu bapaknya yang musyrik. Ali bertanya kepadanya: "Apakah engkau memintakan ampun bagi kedua orang tuamu yang musyrik?" Ia menjawab: "Ibrahim pun memintakan ampun bagi bapaknya yang musyrik." Hal ini disampaikan oleh Ali kepada Rasulullah saw.. Maka turunlah ayat ini (Baraaah: 113) yang melarang kaum Mukminin memintakan ampun bagi kaum musyrik. Diriwayatkan oleh al-Hakim, al-Baihaqi di dalam kitab ad-Dalaa-il, dan lain-lain, yang bersumber dari Ibnu Masud bahwa pada suatu hari Rasulullah pergi ke kuburan. Beliau duduk di sebuah kuburan serta berdoa di sana lama sekali, kemudian menangis. Ibnu Masud pun jadi menangis karena tangisan beliau itu. Rasulullah bersabda: "Kuburan yang aku duduk di sisinya itu adalah kuburan ibuku. Aku minta izin kepada Rabb-ku untuk mendoakannya, tetapi Dia tidak memberi izin kepadaku." Permohonan Nabi itu dijawab dengan turunnya ayat ini (Baraaah: 113) yang melarang kaum Mukminin memintakan ampun bagi kaum musyrikin. Diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Marduwaih, yang bersumber dari Buraidah. Hadits ini menurut lafal Ibnu Marduwaih, bahwa ketika Nabi saw. bersama Buraidah berhenti di Asfan, teringatlah beliau kepada kuburan ibunya. Beliau berwudlu dan shalat, kemudian menangis dan bersabda: "Aku minta izin kepada Rabb-ku agar aku dapat memintakan ampunan untuk ibuku, akan tetapi aku dilarang-Nya." Ayat ini (Baraaah: 113) turun berkenaan dengan larangan tersebut. Keterangan: ath-Thabari dan Ibnu Marduwaih meriwayatkan juga hadits seperti di atas yang bersumber dari Ibnu Abbas, dengan tambahan bahwa peristiwa itu terjadi setelah beliau pulang dari Peperangan Tabuk, ketika berangkat ke Mekah untuk mengerjakan umrah dan berhenti di pendakian Asfan. Menurut Ibnu Hajar, ayat ini (Baraaah: 113) bisa jadi turun dengan beberapa sebab. Mungkin berkenaan dengan Abu Thalib, mungkin juga berkenaan dengan Ibnu Nabi (Aminah), atau berkenaan dengan kisah Ali, atau kesemuanya itu menjadi sebab turunnya ayat tersebut.

Back

Snow
Snow
Snow