× Beranda Toko Online Artikel ↷ Baca Quran Asbabunnuzul Tafsir ↷ Mencari Artikel Mencari Ayat Advertisement
×
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
يٰٓاَيُّهَا النَّبِيُّ لِمَ تُحَرِّمُ مَآ اَحَلَّ اللّٰهُ لَكَۚ تَبْتَغِيْ مَرْضَاتَ اَزْوَاجِكَۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya bagimu; kamu mencari kesenangan hati isteri-isterimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Asbabunnuzul

Diriwayatkan oleh al-Hakim dan an-Nasa-i dengan sanad yang shahih, yang bersumber dari Anas bahwa Rasulullah saw mempunyai seorang sahaya yang suka disentuhnya. Namun karena Siti Hafsah selalu merongrongnya, maka Rasulullah saw mengharamkan sahaya tersebut bagi dirinya. Maka Allah menurunkan ayat ini (at-Tahrim: 1) sebagai teguran kepada beliau karena mengharamkan yang halal.

Diriwayatkan oleh adl-Dliya di dalam Kitab al-Mukhtaaroh, dari Hadits Ibnu Umar yang bersumber dari Umar bahwa Rasulullah saw bersabda kepada Hafsah: "Jangan engkau sebarluaskan bahwa Ummu Ibrahim (Mariyah al-Qibthiyyah) telah aku haramkan bagiku." Sejak itu Rasulullah tidak mendekatinya hingga Hafsah memberitahukan hal ini kepada Aisyah. Maka Allah menurunkan ayat ini (at-Tahrim: 2) sebagai jalan keluar dari sumpah yang telah diucapkan beliau.

Diriwayatkan oleh ath-Thabarani dengan sanad yang daif, yang bersumber dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw membawa sahayanya yang bernama Mariyah al-Qibtiyyah ke rumah Hafsah. Ketika Hafsah datang, didapatinya Rasulullah bersama Mariyah. Berkatalah Hafsah: "Ya Rasulullah, mengapa di rumahku, tidak di rumah istrimu yang lain." Rasulullah bersabda: "Ia (Mariyah) aku haramkan untuk kusentuh. Tetapi pengharaman ini tidak perlu engkau bicarakan kepada orang lain." Tetapi Hafsah keluar juga menemui Siti Aisyah dan langsung memberitahukan persoalan tersebut kepadanya. Maka Allah menurunkan ayat ini (at-Tahrim: 1) sebagai teguran kepada Rasulullah yang telah mengharamkan perkara yang halal baginya.

Diriwayatkan oleh al-Bazzar dengan sanad yang shahih, yang bersumber dari Ibnu Abbas bahwa ayat ini (at-Tahrim: 1) turun berkenaan dengan Mariyah al-Qibthiyyah (seorang sahaya Rasulullah saw) yang beliau haramkan untuk "menyentuhnya."

Diriwayatkan oleh ath-Thabarani dengan sanad yang shahih, yang bersumber dari Ibnu Abbas. Hadits ini mempunyai syaahid (penguat) di dalam ash-Shaahihul Bukhaarii dan Shahihu Muslim, bahwa Rasulullah saw minum madu di rumah Saudah, kemudian pergi ke rumah Aisyah. Aisyah berkata: "Aku mencium bau yang tidak sedap." Kemudian Rasulullah datang ke rumah Hafsah, dan iapun berkata seperti ucapan Aisyah itu. Rasulullah saw bersabda: "Barangkali bau tersebut berasal dari minuman yang diminum di rumah Saudah. Demi Allah, saya tidak akan meminumnya lagi." Maka turunlah ayat ini (at-Tahrim: 1-2) sebagai teguran kepada Rasulullah saw yang telah mengharamkan apa yang halal baginya.
Menurut al-Hafizh Ibnu Hajar, ayat ini bisa saja diturunkan berkenaan dengan kedua sebab itu.

Diriwayatkan oleh Ibnu Saad yang bersumber dari Abdullah bin Rafi bahwa Abdullah bin Rafi bertanya kepada Ummu Salamah tentang ayat ini (at-Tahrim: 1). Ummu Salamah menjawab: "Ketika aku mempunyai madu putih yang kusimpan dalam satu wadah, Rasulullah saw mencicipinya karena beliau menyukai madu." Berkatalah Aisyah kepada Nabi Muhammad saw: "Rupanya madu yang tuan minum itu berasal dari tawon yang biasa mengisap arfath (buah-buahan yang berbau busuk yang tidak disukai Rasul)." Seketika itu juga Rasulullah mengharamkan madu putih bagi dirinya. Ayat ini (at-Tahrim: 1) menegur Rasulullah saw yang mengharamkan sesuatu yang halal bagi dirinya.

Diriwayatkan oleh al-Harits bin Usamah di dalam Musnad-nya, yang bersumber dari Aisyah. Hadits ini terlalu jauh apabila dianggap sebagai asbabun nuzul ayat ini, bahwa Abu Bakr bersumpah tidak akan memberi belanja kepada Misthah karena turut memfitnah Aisyah. Allah menurunkan ayat ini (at-Tahrim: 2) sebagai perintah agar menebus sumpah yang telah diucapkan. Setelah turun ayat tersebut Abu Bakr pun memberi belanja kembali kepada Misthah.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu Abbas. Riwayat ini gharib dan sanadnya daif, bahwa ayat ini (at-Tahrim: 1) turun berkenaan dengan seorang wanita yang menghibahkan dirinya kepada Nabi saw.