بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
قُلْ اَيُّ شَيْءٍ اَكْبَرُ شَهَادَةًۗ قُلِ اللّٰهُۗ شَهِيْدٌۢ بَيْنِيْ وَبَيْنَكُمْۗ وَاُوْحِيَ اِلَيَّ هٰذَا الْقُرْاٰنُ لِاُنْذِرَكُمْ بِهٖ وَمَنْۢ بَلَغَۗ اَىِٕنَّكُمْ لَتَشْهَدُوْنَ اَنَّ مَعَ اللّٰهِ اٰلِهَةً اُخْرٰىۗ قُلْ لَّآ اَشْهَدُۚ قُلْ اِنَّمَا هُوَ اِلٰهٌ وَّاحِدٌ وَّاِنَّنِيْ بَرِيْۤءٌ مِّمَّا تُشْرِكُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Siapakah yang lebih kuat kesaksiannya?” Katakanlah, “Allah, Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Al-Qur`an ini diwahyukan kepadaku agar dengan itu aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang yang sampai (Al-Qur`an kepadanya). Dapatkah kamu benar-benar bersaksi bahwa ada tuhan-tuhan lain bersama Allah?” Katakanlah, “Aku tidak dapat bersaksi.” Katakanlah, “Sesungguhnya hanya Dialah Tuhan Yang Maha Esa dan aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah).”
Asbabunnuzul
Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dan Ibnu Jarir, dari Said atau Ikrimah yang bersumber dari Ibnu Abbas bahwa an-Nahham bin Zaid, Qarum bin Kab, dan Bahri bin Amr menghadap Rasulullah saw. dan berkata: "Hai Muhammad. Engkau tidak mengetahui ada Tuhan selain Allah." Bersabdalah Rasulullah saw, "Tiada tuhan melainkan Allah. Dengan (membawa penjelasan) itu aku diutus, dan kepada (kepercayaan) itu aku mengajak (berdakwah)." Maka Allah menurunkan ayat ini (al-Anam: 19-20) sebagai penegasan bahwa Allah Maha Esa, sebagai mana mereka ketahui dalam kitab Taurat.وَهُمْ يَنْهَوْنَ عَنْهُ وَيَنْـئَوْنَ عَنْهُ ۚوَاِنْ يُّهْلِكُوْنَ اِلَّآ اَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُوْنَ
Mereka melarang (orang lain) mendengarkan al-Quran dan mereka sendiri menjauhkan diri daripadanya, dan mereka hanyalah membinasakan diri mereka sendiri, sedang mereka tidak menyadari.
Asbabunnuzul
Diriwayatkan oleh al-Hakim dan lain-lain, yang bersumber dari Ibnu Abbas bahwa turunnya ayat ini (al-Anam: 26) berkenaan dengan Abu Thalib yang melarang kaum musyrikin menyakiti Nabi saw, padahal dia sendiri menjauhkan diri dari ajaran Nabi. Ayat ini (al-Anam: 26) menegaskan bahwa perbuatan seperti itu hanya akan mencelakakan diri sendiri tanpa disadari.Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Said bin Abi Hilal bahwa ayat ini (al-Anam: 26 turun berkenaan dengan paman-paman Nabi saw. yang berjumlah sepuluh orang. Secara terang-terangan mereka sangat dekat kepada Nabi, tapi secara diam-diam mereka merupakan perintang utamanya. Ayat tersebut menegaskan bahwa perbuatan seperti itu hanya akan mencelakakan diri sendiri tanpa disadari.
قَدْ نَعْلَمُ اِنَّهٗ لَيَحْزُنُكَ الَّذِيْ يَقُوْلُوْنَ فَاِنَّهُمْ لَا يُكَذِّبُوْنَكَ وَلٰكِنَّ الظّٰلِمِيْنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ يَجْحَدُوْنَ
Sungguh, Kami mengetahui bahwa apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu (Muhammad), (janganlah bersedih hati) karena sebenarnya mereka bukan mendustakan engkau, tetapi orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah.
Asbabunnuzul
Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan al-Hakim, yang bersumber dari Ali bin Abi Thalib bahwa Abu Jahl berkata kepada Nabi saw, "Kami bukan tidak mempercayaimu, akan tetapi kami tidak percaya kepada apa yang kamu bawa." Maka Allah menurunkan ayat ini (al-Anam: 33) sebagai penjelasan bahwa orang-orang seperti itu tidak perlu disesali, karena hanya orang yang dzalim yang menentang ayat-ayat Allah.وَاَنْذِرْ بِهِ الَّذِيْنَ يَخَافُوْنَ اَنْ يُّحْشَرُوْٓا اِلٰى رَبِّهِمْ لَيْسَ لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ وَلِيٌّ وَّلَا شَفِيْعٌ لَّعَلَّهُمْ يَتَّقُوْنَ
Dan berilah peringatan dengan apa yang diwahyukan itu kepada orang-orang yang takut akan dihimpunkan kepada Rabbnya (pada hari kiamat), sedang bagi mereka tidak ada seorang pelindung dan pemberi syafaatpun selain daripada Allah, agar mereka bertaqwa.
Asbabunnuzul
Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan al-Hakim, yang bersumber dari Sad bin Abi Waqqash bahwa turunnya ayat ini (al-Anam: 52-53) berkenaan dengan enam orang, diantaranya Sad bin Abi Waqqash dan Abdullah bin Masud. Kaum kafir Quraisy berkata kepada Nabi saw.: "Usir mereka (keenam orang hina itu), karena kami malu menjadi pengikutmu setingkat dengan mereka." Perkataan itu tidak menyenangkan Nabi. Maka Allah menurunkan ayat ini (al-Anam: 52-53) sebagai larangan kepada kaum Mukminin untuk membeda-bedakan martabat sesama manusia.Diriwayatkan oleh Ahmad, ath-Thabarani, dan Ibnu Abii Hatim, yang bersumber dari Ibnu Masud bahwa para pembesar Quraisy lewat di hadapan Rasulullah saw. yang sedang duduk bersama Khabbab bin al Arat, Shuhail, Bilal, dan Ammar (para abid yang sudah dimerdekakan). Mereka berkata: "Hai Muhammad, apakah engkau rela duduk setingkat dengan mereka. Adakah mereka itu telah diberi nikmat oleh Allah lebih dari kami? Sekiranya engkau mengusir mereka, kami akan menjadi pengikutmu." Maka Allah menurunkan ayat ini (al-Anam: 51-55) yang melarang kaum Mukminin membeda-bedakan martabat seseorang, karena sesungguhnya Allah yang paling mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur.
Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Ikrimah bahwa Utbah bin Rabiah, Syaibah bin Rabiah, Muthim bin Adi, dan al-Harits bin Naufal dari kalangan pembesar-pembesar kafir Bani Abdi Manaf, datang kepada Abu Thalib dan berkata: "Jika anak saudaramu (Muhammad) mengusir budak-budak itu, kami akan merasa lebih bangga, dan kami akan lebih taat dan setia kepadanya." Adapun budak-budak tersebut adalah Bilal, Ammar bin Yasir, Salim maulaa Abu Hudzaifah, Shalih maulaa Usaid, Ibnu Masud, al-Miqdad bin Abdillah, Waqid bin Abdillah al-Hanzhali, dan teman-temannya. Lalu Abu Thalib menyampaikan hal itu kepada Nabi saw, Maka berkatalah Umar bin al-Khaththab: "Sekiranya tuan melaksanakan permintaan mereka, kita lihat nanti apa sebenarnya yang mereka inginkan." Maka Allah menurunkan ayat ini (al-Anam: 51-53) yang memerintahkan Muhammad untuk menyampaikan wahyu yang melarang mengusir orang-orang yang beribadah kepada Allah swt, dan melarang menilai derajat seseorang. Sesungguhnya Allah lebih mengetahui orang-orang yang bersyukur kepada-Nya. Setelah itu Umar meminta maaf atas ucapannya itu, dan turunlah ayat selanjutnya (al-Anam: 54) sebagai jaminan ampunan bagi orang-orang yang bertobat dari kesalahan, karena ketidaktahuannya.
Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim, yang bersumber dari Khabbab bahwa al-Aqra bin Habis dan Uyainah bin Hishn datang menghadap Rasulullah saw, di saat beliau duduk dikelilingi Shuhaib, Bilal, Ammar bin Yasir, dan Khabbab dari kalangan kaum Mukminin yang dianggap hina. Mereka meminta Nabi, dengan sikap meremehkan orang-orang yang hadir, untuk dapat berbicara di luar mereka. Dalam pembicaraan tersebut mereka menginginkan agar diadakan suatu majelis khusus untuk menerima delegasi-delegasi pembesar bangsa Arab, karena mereka merasa malu harus duduk bersama-sama dengan orang-orang yang dianggap hina oleh mereka. Mereka juga mengusulkan agar orang-orang yang dianggap hina itu diusir saja jika pembesar-pembesar itu datang, dan baru boleh duduk kembali bersama mereka apabila sudah selesai. Nabi saw. mengiyakannya. Maka turunlah ayat ini (al-Anam: 52). Ayat tersebut dibacakan pada al-Aqra dan temannya, kemudian dilanjutkan dengan ayat berikutnya (al-Anam: 53)
Pada waktu itu Rasulullah saw. duduk kembali beserta kaum Mukminin. Dan ketika Aqra akan pergi, Rasulullah berdiri meninggalkan kaum Mukminin. Maka turunlah ayat, washbir nafsaka maal ladziina yaduuna rabbahum, (dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Rabb-nya) sampai akhir ayat (al-Kahfi: 28), yang menyuruh Nabi untuk tetap duduk bersama kaum Mukminin yang dianggap hina oleh kaum zalim.
Keterangan: menurut Ibnu Katsir, hadits ini gharib, karena ayat ini Makkiyyah, sedang al-Aqra dan Unaiyah masuk Islam beberapa lama setelah hijrah.
Diriwayatkan oleh al-Farabi dan Ibnu Abi Hatim, yang bersumber dari Mahan bahwa suatu waktu orang-orang datang menghadap Rasulullah saw. seraya berkata: "Kami mengerjakan dosa-dosa yang besar." Rasulullah saw. tidak menjawab apa-apa, sampai turun ayat ini (al-Anam: 54) yang menjelaskan bahwa tobat orang-orang yang berbuat dosa tanda pengetahuan dan kemudian berbuat baik, akan diampuni Allah swt.
قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلٰٓى اَنْ يَّبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِّنْ فَوْقِكُمْ اَوْ مِنْ تَحْتِ اَرْجُلِكُمْ اَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعًا وَّيُذِيْقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍۗ اُنْظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الْاٰيٰتِ لَعَلَّهُمْ يَفْقَهُوْنَ
Katakanlah:"Dia yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu kepada keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami(nya).
Asbabunnuzul
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Zaid bin Aslam bahwa ketika turun ayat, qul huwal qaadiru alaa ay yabatsa alaikum adzaabam ming fauqikum, (katakanlah: "Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu) sampai akhir ayat (al-Anam: 65), Rasulullah saw. bersabda: "Sesudah aku tiada, janganlah kalian kembali menjadi kafir dengan menimbulkan pertumpahan darah di antara kalian." Mereka menjawab: "Bagaimana mungkin terjadi, padahal kami bersaksi bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah dan sesungguhnya engkau Utusan-Nya?" Berkatalah yang lainnya: "Tidak mungkin hal itu akan terjadi selama-lamanya, karena kami tetap Muslimin." Maka turunlah ayat selanjutnya (al-Anam: 65-67) yang memperingatkan bahwa bentrokan itu akan terjadi bila ada segolongan orang yang mengaku Mukmin tapi tidak melaksanakan hak (kebenaran).اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَلَمْ يَلْبِسُوْٓا اِيْمَانَهُمْ بِظُلْمٍ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمُ الْاَمْنُ وَهُمْ مُّهْتَدُوْنَ
Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.
Asbabunnuzul
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Ubaidullah bin Zuhr yang bersumber dari Bakr bin Sawadah bahwa ada seorang musyrik yang menyerang seorang Muslim dan membunuhnya, kemudian menyerang seorang Muslim lainnya dan membunuhnya pula, lalu menyerang yang lainnya lagi serta membunuhnya pula. Sesudah itu ia bertanya kepada Nabi saw, apakah akan diterima Islamnya setelah ia melakukan perbuatan tadi. Rasulullah saw. menjawab: "Ya." Kemudian ia memukul kudanya dan menyerbu musuh Islam serta membunuh beberapa orang. Akhirnya ia sendiri terbunuh.Menurut Bakr bin Sawadah, para sahabat menganggap ayat ini (an-Anam: 82) turun berkenaan dengan peristiwa orang itu, yang menegaskan bahwa iman seseorang yang tidak dicampuri syirik dijamin keamanannya oleh Allah swt.
وَمَا قَدَرُوا اللّٰهَ حَقَّ قَدْرِهٖٓ اِذْ قَالُوْا مَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ عَلٰى بَشَرٍ مِّنْ شَيْءٍۗ قُلْ مَنْ اَنْزَلَ الْكِتٰبَ الَّذِيْ جَاۤءَ بِهٖ مُوْسٰى نُوْرًا وَّهُدًى لِّلنَّاسِ تَجْعَلُوْنَهٗ قَرَاطِيْسَ تُبْدُوْنَهَا وَتُخْفُوْنَ كَثِيْرًاۚ وَعُلِّمْتُمْ مَّا لَمْ تَعْلَمُوْٓا اَنْتُمْ وَلَآ اٰبَاۤؤُكُمْۗ قُلِ اللّٰهُۙ ثُمَّ ذَرْهُمْ فِيْ خَوْضِهِمْ يَلْعَبُوْنَ
Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan semestinya dikala mereka berkata:"Allah tidak menurunkan sesuatupun kepada manusia". Katakanlah:"Siapakah yang menurunkan kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai berai, kamu perlihatkan (sebagiannya) dan kamu sembunyikan sebagian besarnya, padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan bapak-bapak kamu tidak mengetahui(nya)". Katakanlah :"Allah-lah (yang menurunkannya)", kemudian (sesudah kamu menyampaikan al-Quran kepada mereka), biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya.
Asbabunnuzul
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Said bin Jubair (hadits ini mursal). Hadits seperti ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Ikrimah. Hadits seperti ini telah dikemukakan ketika menerangkan asbabun nuzul surah an-Nisaa ayat 163. Bahwa seorang pendeta gemuk dari kaum Yahudi, bernama Malik bin ash-Shaif, mengajak bertengkar kepada Nabi saw. bersabdalah Nabi kepadanya: "Terangkanlah kepada kami dengan sungguh-sungguh, Demi Allah yang telah menurunkan kitab Taurat kepada Musa, apakah kamu dapatkan di dalam Taurat bahwa Allah benci pendeta yang gemuk ?" Maka marahlah ia dan berkata: "Tidak, Allah tidak menurunkan apa-apa kepada manusia." Teman-temannya berkata: "Celakalah engkau. Apakah Ia juga tidak menurunkan apa-apa kepada Musa?" Maka turunlah ayat ini (al-Anam: 91) sebagai teguran kepada orang-orang yang menyembunyikan sebagian dari apa yang diturunkan Allah kepada Nabi dan Rasul.Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Ibnu Abi Thalhah yang bersumber dari Ibu Abbas bahwa seorang Yahudi berkata: "Demi Allah, Allah tidak menurunkan kitab dari langit." Maka turunlah ayat ini (al-Anam: 91) sebagai bantahan terhadap orang-orang yang mengingkari diturunkannya kitab suci.
وَمَنْ اَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرٰى عَلَى اللّٰهِ كَذِبًا اَوْ قَالَ اُوْحِيَ اِلَيَّ وَلَمْ يُوْحَ اِلَيْهِ شَيْءٌ وَّمَنْ قَالَ سَاُنْزِلُ مِثْلَ مَآ اَنْزَلَ اللّٰهُۗ وَلَوْ تَرٰٓى اِذِ الظّٰلِمُوْنَ فِيْ غَمَرٰتِ الْمَوْتِ وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ بَاسِطُوْٓا اَيْدِيْهِمْۚ اَخْرِجُوْٓا اَنْفُسَكُمْۗ اَلْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُوْنِ بِمَا كُنْتُمْ تَقُوْلُوْنَ عَلَى اللّٰهِ غَيْرَ الْحَقِّ وَكُنْتُمْ عَنْ اٰيٰتِهٖ تَسْتَكْبِرُوْنَ
Dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang mengadakan kedustaan terhadap Allah atau yang berkata:"Telah diwahyukan kepada saya", padahal tidak ada diwahyukan sesuatupun kepadanya, dan orang yang berkata:"Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah". Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata) :"Keluarkanlah nyawamu". Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya.
Asbabunnuzul
Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Ikrimah bahwa ayat, wa man azlamu mim maniftaraa alallaahi kadziban au qaala uuhiya ilayya walam yuuha ilaihi syaii, ( dan siapakah yang lebih dzalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata: "Telah diwahyukan kepada saya." Padahal tidak ada diwahyukan sesuatu pun kepadanya) (al-Anam: 93) turun berkenaan dengan Musailamah al-Kadzdzab.Sedangkan ayat, wa mang qaala sa ungzilu mitsla maa angzalallaah (dan orang yang berkata: "Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah") (kelanjutan al-Anam: 93), turun berkenaan dengan Abdullah bin Sad bin Abi Sarh yang pernah menulis kata yang berbeda dari apa yang didiktekan oleh Nabi kepadanya. Nabi mendiktekan aziizun hakiimun (Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana), ia menulis ghafuurur rahiimun (Yang Maha Pengampun lagi Maha penyayang). Kemudian Nabi mengulang kembali, tapi ia membantah dengan mengatakan sama saja. Kemudian iapun murtad dari Islam dan mengikuti kaum kafir Quraisy. Ayat ini memberikan peringatan kepada orang-orang yang memalsukan Wahyu Allah.
Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dario as-Suddi bahwa seperti hadits di atas, dengan tambahan bahwa Musailamah berkata: "Jika Muhammad diberi wahyu, maka sayapun diberi wahyu; dan jika Allah menurunkan kepadanya, maka diapun menurunkan pula kepadaku." Sementara Abdullah bin Sad bin Abi Sarh berkata: "Jika Muhammad berkata, samiian aliiman (Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui), maka saya pun bisa berkata, aliiman hakiiman (Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana)."
وَلَقَدْ جِئْتُمُوْنَا فُرَادٰى كَمَا خَلَقْنٰكُمْ اَوَّلَ مَرَّةٍ وَّتَرَكْتُمْ مَّا خَوَّلْنٰكُمْ وَرَاۤءَ ظُهُوْرِكُمْۚ وَمَا نَرٰى مَعَكُمْ شُفَعَاۤءَكُمُ الَّذِيْنَ زَعَمْتُمْ اَنَّهُمْ فِيْكُمْ شُرَكٰۤؤُاۗ لَقَدْ تَّقَطَّعَ بَيْنَكُمْ وَضَلَّ عَنْكُمْ مَّا كُنْتُمْ تَزْعُمُوْنَ
Dan kamu benar-benar datang sendiri-sendiri kepada Kami sebagaimana Kami ciptakan kamu pada mulanya, dan apa yang telah Kami karuniakan kepadamu, kamu tinggalkan di belakangmu (di dunia). Kami tidak melihat pemberi syafaat (pertolongan) besertamu yang kamu anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu (bagi Allah). Sungguh, telah terputuslah (semua pertalian) antara kamu dan telah lenyap dari kamu apa yang dahulu kamu sangka (sebagai sekutu Allah).
Asbabunnuzul
Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan lain-lain, yang bersumber dari Ikrimah bahwa an-Nadlr bin al-Harits berkata: "Al-Latta dan al-Uzza yang akan memeberi syafaat kepadaku." Maka turunlah ayat ini (al-Anam: 94 sampai syurakaa [sekutu-sekutu]), sebagai keterangan bahwa di hari akhir manusia akan datang kepada Allah tanpa mendapat bantuan siapapun, termasuk apa-apa yang mereka banggakan sebagai tuhan.وَلَا تَسُبُّوا الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ فَيَسُبُّوا اللّٰهَ عَدْوًاۢ بِغَيْرِ عِلْمٍۗ كَذٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ اُمَّةٍ عَمَلَهُمْۖ ثُمَّ اِلٰى رَبِّهِمْ مَّرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ
Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Rabb mereka kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.
Asbabunnuzul
Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dari Mamar yang bersumber dari Qatadah bahwa kaum Muslimin pada waktu itu suka mencaci maki berhala kaum kafir, sehingga kaum kafir mencaci maki Allah. Maka Allah menurunkan ayat ini (al-Anam: 108) sebagai larangan mencaci maki apa-apa yang disembah oleh kaum kafir.وَاَقْسَمُوْا بِاللّٰهِ جَهْدَ اَيْمَانِهِمْ لَىِٕنْ جَاۤءَتْهُمْ اٰيَةٌ لَّيُؤْمِنُنَّ بِهَاۗ قُلْ اِنَّمَا الْاٰيٰتُ عِنْدَ اللّٰهِ وَمَا يُشْعِرُكُمْ اَنَّهَآ اِذَا جَاۤءَتْ لَا يُؤْمِنُوْنَ
Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan segala kesungguhan, bahwa sungguh jika datang kepada mereka sesuatu mukjizat, pastilah mereka beriman kepada-Nya. Katakanlah:"Sesungguhnya mukjizat-mukjizat itu hanya berada di sisi Allah". Dan tahukah kamu, bahwa apabila mukizat (ayat-ayat) datang, meteka tidak juga akan beriman.
Asbabunnuzul
Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Muhammad bin Kab al-Qurazhi bahwa orang-orang Quraisy berkata kepada Rasulullah saw.: "Hai Muhammad. Engkau telah menceritakan kepada kami mukjizat para Rasul, bahwa Musa mempunyai tongkat dan dengan tongkat itu ia memukul batu (hingga keluarlah air); Isa dapat menghidupkan yang mati; dan Shalih diberi unta untuk menguji kaum Tsamud. Maka datangkanlah mukjizatmu kepada kami agar kami percaya kepadamu." Rasulullah saw. bersabda: "Apa yang kalian inginkan?" Mereka menjawab: "Cobalah gunung Shafa itu dijadikan emas." Nabi saw. bersabda: "Jika aku telah melaksanakan permintaan kalian, apakah kalian akan percaya kepadaku?" Mereka menjawab: "Demi Allah, kami akan taat." Maka berdirilah Rasulullah seraya berdoa kepada Allah, sehingga datanglah Jibril dan berkata: "Jika engkau menghendakinya, pasti gunung Shafa itu akan menjadi emas. Tapi jika mereka tidak juga percaya , pasti Allah akan menyiksa mereka. Karenanya lebih baik engkau membiarkan mereka, sehingga bertobat orang-orang yang ingin bertobat." Kemudian Allah menurunkan ayat ini (al-Anam: 109-111) sebagai penegasan bahwa mukjizat apapun yang diidatangkan kepada mereka, mereka tidak akan beriman.فَكُلُوْا مِمَّا ذُكِرَ اسْمُ اللّٰهِ عَلَيْهِ اِنْ كُنْتُمْ بِاٰيٰتِهٖ مُؤْمِنِيْنَ
Maka makanlah binatang-binatang (yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, jika kamu beriman kepada ayat-ayat-Nya.
Asbabunnuzul
Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi, yang bersumber dari Ibnu Abbas bahwa orang-orang datang menghadap Rasulullah saw. dan berkata: "Ya Rasulallah. Mengapa kita boleh makan yang kita sembelih dan dilarang makan yang dimatikan oleh Allah?" Maka Allah menurunkan ayat ini (al-Anam: 118-121) yang menegaskan bahwa yang halal dimakan adalah sembelihan yang disaat menyembelihnya dibaca bismillah (dengan nama Allah).Diriwayatkan oleh Abu Dawud, al-Hakim, dan lain-lain, yang bersumber dari Ibnu Abbas bahwa firman Allah, wa innasy syayaathiina la yuuhuuna ilaa auliyaa-ihim li yujaadiluukum ( sesungguhnya setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu) (al-Anam: 121), turun berkenaan dengan ucapan kaum musyrikin yang bertanya: "Mengapa kalian tidak makan apa yang dimatikan oleh Allah dan kalian makan apa yang kalian sembelih?" Ayat ini (al-Anam: 121) memberi peringatan kepada kaum Mukminin supaya tidak mengikuti ajakan setan.
Diriwayatkan oleh ath-Thabarani dan lain-lain, yang bersumber dari Ibnu Abbas bahwa ketika turun ayat, wa laa takuluu mimmaa lam udzkararismullaahi alaih (dan janganlah kamu memakan binatang yang tidak disebut Nama Allah ketika menyembelihnya) (al-Anam: 121), seorang pengendara kuda diutus untuk menghasut kaum Quraisy agar menentang Muhammad tentang sembelihan hewan (dengan mengatakan): "Mengapa yang disembelih dengan pisau oleh manusia itu halal, sedang yang dimatikan oleh Allah itu haram?" Maka turunlah kelanjutan ayat tersebut.
Dalam hadits ini dikemukakan pula bahwa yang dimaksud dengan asy-syayaathiin (setan) dalam ayat itu (al-Anam: 121) ialah pengendara kuda, sedang auliyaa-uhum (kawan-kawannya) ialah kaum Quraisy.
اَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَاَحْيَيْنٰهُ وَجَعَلْنَا لَهٗ نُوْرًا يَّمْشِيْ بِهٖ فِى النَّاسِ كَمَنْ مَّثَلُهٗ فِى الظُّلُمٰتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِّنْهَاۗ كَذٰلِكَ زُيِّنَ لِلْكٰفِرِيْنَ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ
Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan ditengah-tengah manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah dijadikan terasa indah bagi orang-orang kafir terhadap apa yang mereka kerjakan.
Asbabunnuzul
Diriwayatkan oleh Abusy Syaikh yang bersumber dari Ibnu Abbas. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari adl-Dlahhak bahwa turunnya ayat ini (al-Anam: 122) berkenaan dengan Umar dan Abu Jahl.Keterangan: dalam tarikh dikemukakan bahwa Rasulullah saw. pernah berdoa: "Ya Rabbanaa, semoga Islam jaya dengan sebab salah seorang dari dua Umar (Umar bin al-Khaththab atau Amr bin Hisyam /Abu Jahal)." Ternyata Umar bin al-Khaththab-lah yang masuk Islam. Dialah yang dimaksud dengan orang yang tadinya mati kemudian dihidupkan dan Amr bin Hisyam yang dimaksud dengan orang yang tetap dalam kegelapan.
وَهُوَ الَّذِيْٓ اَنْشَاَ جَنّٰتٍ مَّعْرُوْشٰتٍ وَّغَيْرَ مَعْرُوْشٰتٍ وَّالنَّخْلَ وَالزَّرْعَ مُخْتَلِفًا اُكُلُهٗ وَالزَّيْتُوْنَ وَالرُّمَّانَ مُتَشَابِهًا وَّغَيْرَ مُتَشَابِهٍۗ كُلُوْا مِنْ ثَمَرِهٖٓ اِذَآ اَثْمَرَ وَاٰتُوْا حَقَّهٗ يَوْمَ حَصَادِهٖۖ وَلَا تُسْرِفُوْاۗ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَۙ
Dan Dialah yang menjadikan tanaman-tanaman yang merambat dan yang tidak merambat, pohon kurma, tanaman yang beraneka ragam rasanya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak serupa (rasanya). Makanlah buahnya apabila ia berbuah dan berikanlah haknya (zakatnya) pada waktu memetik hasilnya, tapi janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan,
Asbabunnuzul
Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Abul Aliyah bahwa orang-orang menghambur-hamburkan hasil panen serta hidup berfoya-foya, tetapi tidak mengeluarkan zakatnya. Maka turunlah ayat ini (al-Anam: 141) sebagai perintah untuk mengeluarkan zakat pada hari panennya.Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Ibnu Juraij bahwa ayat ini (al-Anam: 141) turun berkenaan dengan Tsabit bin Qais bin Syammas yang menuai buah kurma, kemudian berpesta pora, sehingga pada petang harinya tak sebiji kurmapun tersisa di rumahnya.

