بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُّجَادِلُ فِى اللّٰهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَّيَتَّبِعُ كُلَّ
شَيْطٰنٍ مَّرِيْدٍۙ
Di antara manusia ada yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan dan mengikuti setiap syaitan yang jahat,
Asbabunnuzul
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Abu Malik bahwa firmah Allah, wa minan naasi may yujaadilu fillaah, (di antara manusia ada yang membantah tentang Allah) (al-Hajj: 3) turun berkenaan dengan Nadlr bin al-Harits.وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَّعْبُدُ اللّٰهَ عَلٰى حَرْفٍۚ فَاِنْ اَصَابَهٗ خَيْرُ ِۨاطْمَــئَـنَّ بِهٖۚ وَاِنْ اَصَابَتْهُ فِتْنَةُ ِۨانْقَلَبَ عَلٰى وَجْهِهٖۗ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةَۗ ذٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِيْنُ
Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi;maka jika memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.
Asbabunnuzul
Diriwayatkan oleh al-Bukhari yang bersumber dari Ibnu Abbas bahwa ada seorang laki-laki datang ke Madinah, kemudian memeluk Islam. Ia memuji agamanya apabila istrinya melahirkan anak laki-laki dan kudanya berkembang biak. Namun ia mencaci maki agamanya apabila istrinya tidak melahirkan anak laki-laki dan kudanya tidak berkembang biak. Ayat ini (al-Hajj: 11) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut.Diriwayatkan oleh Ibnu Marduwaih dari Athiyah yang bersumber dari Ibnu Masud bahwa seorang Yahudi masuk Islam, kemudian menjadi buta, harta bendanya habis, serta anaknya mati. Ia menganggap bahwa agama Islamlah yang menyebabkan dirinya sial. Ia berkata: "Aku tidak pernah mendapatkan kebaikan dari agama ini." Ayat ini (al-Hajj: 11) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut.
هٰذَانِ خَصْمٰنِ اخْتَصَمُوْا فِيْ رَبِّهِمْ فَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا قُطِّعَتْ لَهُمْ ثِيَابٌ مِّنْ نَّارٍۗ يُصَبُّ مِنْ فَوْقِ رُءُوْسِهِمُ الْحَمِيْمُۚ
Inilah dua golongan (golongan mukmin dan kafir) yang bertengkar, mereka bertengkar mengenai Tuhan mereka. Maka bagi orang kafir akan dibuatkan pakaian-pakaian dari api (neraka) untuk mereka. Ke atas kepala mereka akan disiramkan air yang mendidih.
Asbabunnuzul
Diriwayatkan oleh asy-syaikhaan (al-Bukhari dan Muslim) dan lain-lain yang bersumber dari Abu Dzarr bahwa turunnya ayat ini (al-Hajj: 19) berkenaan dengan Hamzah, Ubaidah, dan Ali bin Abi Thalib yang berlawanan dengan Utbah, Syaibah, dan al-Walid bin Utbah dalam masalah ketuhanan (peristiwa ini terjadi dalam perang Badr).Diriwayatkan oleh al-Hakim yang bersumber dari Ali bin Abi Thalib bahwa ayat-ayat ini (al-Hajj: 19-22) turun pada waktu perang Badr.
Diriwayatkan oleh al-Hakim melalui rawi yang lain, yang bersumber dari Ali bin Abi Thalib bahwa ayat ini (al-Hajj:19) turun pada waktu perang Badr berkenaan dengan Hamzah, Ali, Ubaidah bin al-Harits (dari pihak Islam) yang bersabung nyawa dengan Utbah bin Rabiah, Syaibah bin Rabiah, dan al-Walid bin Utbah (dari pihak kafir Quraisy).
Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari al-Aufi yang bersumber dari Ibnu Abbas. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Qatadah bahwa ayat ini (al-Hajj: 19) turun berkenaan dengan ahli kitab yang berebut kebenaran dengan kaum Mukminin, dengan berkata: "Kami lebih utama daripada kamu di sisi Allah. Kitab kami diturunkan lebih dulu dan nabi kami pun diutus sebelum Nabimu." Berkatalah kaum Mukminin: "Kami lebih berhak kepada Allah daripada kamu. Kami percaya kepada Muhammad, kepada Nabimu, dan kepada semua kitab yang diturunkan Allah."
اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَيَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ الَّذِيْ جَعَلْنٰهُ لِلنَّاسِ سَوَاۤءً ۨالْعَاكِفُ فِيْهِ وَالْبَادِۗ وَمَنْ يُّرِدْ فِيْهِ بِاِلْحَادٍۢ بِظُلْمٍ نُّذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ اَلِيْمٍ
Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalangi manusia dari jalan Allah dan masjidil haram yang telah Kami jadikan untuk semua manusia, baik yang bermukim di situ maupun di padang pasir dan siapa yang bermaksud di dalamnya malakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih.
Asbabunnuzul
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah saw. pernah mengutus Abdullah bin Anis beserta dua orang lainnya, yang seorang Muhajirin dan seorang lagi Anshar. Dalam perjalanan, mereka saling membanggakan keturunan masing-masing, sehingga Abdullah bin Anis marah dan membunuh orang Anshar tersebut. Kemudian ia murtad dari agama Islam dan lari ke Mekah. Maka turunlah ayat ini (al-Hajj: 25) sebagai celaan terhadap perbuatan seperti itu.وَاَذِّنْ فِى النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوْكَ رِجَالًا وَّعَلٰى كُلِّ ضَامِرٍ يَّأْتِيْنَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيْقٍۙ
Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.
Asbabunnuzul
Diriwayatkan oleh Jabir yang bersumber dari Mujahid bahwa diantara kaum Mukminin yang naik haji terdapat orang-orang yang tidak berkendaraan. Maka turunlah ayat ini (al-Hajj: 27). Pada kesempatan lain kaum Mukminin diperintahkan membawa bekal serta diizinkan pula berkendaraan dan membawa dagangan.لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ كَذٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ
Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketaqwan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkanya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.
Asbabunnuzul
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu Juraij bahwa orang-orang jahiliyyah biasa membalur baitullah dengan daging unta dan darahnya. Berkatalah shahabat-shahabat Nabi saw, "Kita lebih berhak membalur baitullah." Maka turunlah ayat ini (al-Hajj: 37) yang menegaskan bahwa Allah tidak akan menerima daging dan darah qurban mereka, akan tetapi yang Allah terima adalah ketakwaan.اُذِنَ لِلَّذِيْنَ يُقَاتَلُوْنَ بِاَنَّهُمْ ظُلِمُوْاۗ وَاِنَّ اللّٰهَ عَلٰى نَصْرِهِمْ لَقَدِيْرٌۙ
Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnaya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu.
Asbabunnuzul
Diriwayatkan oleh Ahmad, at-Tirmidzi, dan al-Hakim, yang bersumber dari Ibnu Abbas. Menurut at-Tirmidzi, hadits ini hasan, sedang menurut al-Hakim hadits ini shahih. Bahwa ketika Nabi saw. hijrah dari Mekah, berkatalah Abu Bakr: "Mereka telah mengusir nabi mereka. Mereka pasti akan dibinasakan." Maka turunlah ayat ini (al-Hajj: 39) yang memberi kelonggaran untuk berperang bilamana umat Islam dianiaya.وَمَآ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَّسُوْلٍ وَّلَا نَبِيٍّ اِلَّآ اِذَا تَمَنّٰٓى اَلْقَى الشَّيْطٰنُ فِيْٓ اُمْنِيَّتِهٖۚ فَيَنْسَخُ اللّٰهُ مَا يُلْقِى الشَّيْطٰنُ ثُمَّ يُحْكِمُ اللّٰهُ اٰيٰتِهٖۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌۙ
Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang rasulpun dan tidak (pula) seorang nabi, melainkan apabila ia mempunyai sesuatu keinginan, syaitanpun memasukkan godaan-godaan terhadap keinginan itu, Allah menghilangkan apa yang dimaksud oleh syaitan itu, dan Allah menguatkan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana,
Asbabunnuzul
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim, Ibnu Jarir, dan Ibnul Mundzir dengan sanad yang shahih, yang bersumber dari Said bin Jubair. Diriwayatkan pula oleh al-Bazzar dan Ibnu Marduwaih, melalui jalan lain, dari Said bin Jubair, yang bersumber dari Ibnu Abbas bahwa ketika Nabi saw. di Mekah membaca surat, wan najmi idzaa hawaa (demi bintang ketika terbenam) sampai ayat, a fa ra-aitumul laata wal uz-zaa wa manaatats tsaalitsatal ukh-raa (maka apakah patut kamu [hai orang-orang musyrik] menganggap al-Latta dan al-Uzza, dan manah yang ketiga, yang paling terkemudian [sebagai anak perempuan Allah]) (an-Najm: 1-20), setan menyelinap pada lidah beliau , tilkal gharaaniiqul ulaa wa inna syafaaatahunna la turtajaa (itulah berhala-berhala yang paling mulia dan syafaatnya benar-benar dapat diharapkan). Berkatalah kaum musyrikin: "Dia belum pernah menyebut-nyebut dan memuji tuhan kita sebelum ini." Setelah sampai pada bacaan sajdah, Nabi saw. sujud dan mereka mengikutinya. Maka turunlah ayat ini (al-Hajj: 52) sebagai penegasan bahwa setan selalu berusaha membelokkan apa-apa yang ditugaskan kepada para Nabi dan Rasul. Tetapi Allah melindunginya dari gangguan setan.Menurut al-Bazzar, riwayat-riwayat yang menyebutkan gharaaniqul ulaa tidak ada yang muttashil (yang sampai kepada Nabi saw.) kecuali sanad yang ia riwayatkan. Bersambungnya riwayat ini melalui rawi tunggal, yaitu umayyah bin Khalid, dan ia termasuk rawi yang dapat dipercaya dan masyhur. Pendapat ini menjadi pegangan as-Suyuthi.
Hadits semakna diriwayatkan pula oleh al-Bukhari yang bersumber dari Ibnu Abbas dengan sanad yang rawinya antara lain al-Waqidi; diriwayatkan pula oleh Ibnu Marduwaih dari al-Kalbi, dari Abu Shalih, yang bersumber dari Ibnu Abbas; diriwayatkan pula oleh Ishaq di dalam kitab Ash-Shirah, dari Muhammad bin Kab dan Musa bin Uqbah, dari Ibnu Syihab; diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir dari Muhammad bin Kab dan Muhammad bin Qais; diriwayatkan pula oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari as-Suddi. Riwayat-riwayat tersebut memiliki makna yang sama dan semuanya daif atau munqati, kecuali dari sumber Said bin Jubair pada riwayat yang disebut pertama.
Menurut Ibnu Hajar, banyaknya sanad dalam riwayat ini menunjukkan bahwa kisah ini mempunyai sumber. Disamping itu terdapat dua sanad yang shahih tapi mursal yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, yang satu dari az-Zuhri yang bersumber dari Abu Bakr bin Abdirrahman bin al-Harits bin Hisyam, dan yang satunya lagi dari Dawud bin Hind yang bersumber dari Abul Aliyah.
Adapun perkataan Ibnul Arabi dan Iyadh yang menyatakan bahwa riwayat ini semuanya palsu dan tidak bersumber, tidaklah dapat dijadikan pedoman.
ذٰلِكَ وَمَنْ عَاقَبَ بِمِثْلِ مَا عُوْقِبَ بِهٖ ثُمَّ بُغِيَ عَلَيْهِ لَيَنْصُرَنَّهُ اللّٰهُ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَعَفُوٌّ غَفُوْرٌ
Demikianlah, dan barangsiapa membalas seimbang dengan penganiayaan yang pernah ia derita kemudian ia dianiaya (lagi), pasti Allah akan menolongnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.

