× Beranda Toko Online Artikel ↷ Baca Quran Asbabunnuzul Tafsir ↷ Mencari Artikel Mencari Ayat Advertisement
×
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
اَتٰىٓ اَمْرُ اللّٰهِ فَلَا تَسْتَعْجِلُوْهُ ۗسُبْحٰنَهٗ وَتَعٰلٰى عَمَّا يُشْرِكُوْنَ
Telah pasti datangnya ketetapan Allah maka janganlah kamu meminta-minta agar disegerakan (datang)nya. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan.

Asbabunnuzul

Diriwayatkan oleh Ibnu Marduwaih yang bersumber dari Ibnu Abbas bahwa ketika turun ayat, ataa amrullaah, (telah pasti datangnya ketetapan Allah) (an-Nahl: 1), gelisahlah hati para shahabat Rasulullah saw. maka turunlah kelanjutan ayat tersebut yaitu, falaa tastajiluuh, ( maka janganlah kamu meminta agar disegerakan [datang]nya), sehingga merekapun merasa tenteram kembali.

Diriwayatkan oleh Abdullah bin Imam Ahmad di dalam kitab Zawaa-iduz Zuhd, Ibnu Jarir, serta Ibnu Abi Hatim, yang bersumber dari Abu Bakr bin Abi Hafsh. Bahwa ketika turun ayat, ataa amrullaah, (telah pasti datangnya ketetapan Allah) (an-Nahl: 1), para shahabat berdiri. Maka turunlah kelanjutan ayat tersebut, falaa tastajiluuh, (maka janganlah kamu meminta agar disegerakan [datang] nya).
وَاَقْسَمُوْا بِاللّٰهِ جَهْدَ اَيْمَانِهِمْۙ لَا يَبْعَثُ اللّٰهُ مَنْ يَّمُوْتُۗ بَلٰى وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا وَّلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَۙ
Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sumpahnya yang sungguh-sungguh: "Allah tidak akan membangkitkan orang yang mati." (Tidak demikian), bahkan (pasti Allah akan membangkitkannya), sebagai suatu janji yang benar dari Allah, akan tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.

Asbabunnuzul

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Abul Aliyah bahwa ada seorang Mukmin yang berhutang kepada seorang Musyrik. Ketika ditagih, di antara ucapan orang Mukmin itu ialah mendoakan sesuatu bagi kehidupan si musyrik di akhirat. Si musyrik berkata: "Apakah engkau beranggapan bahwa engkau akan dibangkitkan sesudah mati? Demi Allah, aku yakin bahwa Allah tidak akan membangkitkan orang yang sudah mati." Ayat ini (an-Nahl: 38) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut, sebagai bantahan atas ucapan si musyrik tadi.
وَالَّذِيْنَ هَاجَرُوْا فِى اللّٰهِ مِنْۢ بَعْدِ مَا ظُلِمُوْا لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً ۗوَلَاَجْرُ الْاٰخِرَةِ اَكْبَرُۘ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَۙ
Dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia.Dan sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui,

Asbabunnuzul

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Dawud bin Abi Hind. Bahwa turunnya ayat, wal ladziina haajaruu fillaahi mim badi maa dzulimuu, (dan orang-orang yang berhijrah karena Allah setelah mereka dianiaya) sampai, wa alaa rabbihim yatawakkaluun ( dan hanya kepada Rabb saja mereka bertawakal) (an-Nahl: 41-42) berkenaan dengan Abu Jandal bin Suhail.

Abu Jandal bin Suhail termasuk Muslim yang terkena Perjanjian Hudaibiyyah (dilarang hijrah ke Madinah oleh kaum musyrikin), sehingga Rasulullah saw. sendiri menasehatinya untuk tetap bersabar (lihat: Muh. Husain Haikal, Hayaatu Muhammad, 1965, Nahdlah Mishriyyah, hal 375).
ضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا عَبْدًا مَّمْلُوْكًا لَّا يَقْدِرُ عَلٰى شَيْءٍ وَّمَنْ رَّزَقْنٰهُ مِنَّا رِزْقًا حَسَنًا فَهُوَ يُنْفِقُ مِنْهُ سِرًّا وَّجَهْرًاۗ هَلْ يَسْتَوٗنَ ۚ اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ ۗبَلْ اَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُوْنَ
Allah membuat perumpamaan dengan seorang hamba sahaya yang dimiliki yang tidak dapat bertindak terhadap sesuatupu dan seorang yang Kami beri rezki yang baik dari Kami, lalu dia menafkahkan sebagian dari rezki itu secara sembunyi dan secara terang-terangan. adakah mereka itu sama segala puji hanya bagi Allah. tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.

Asbabunnuzul

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Ibnu Abbas bahwa firman Allah, dlaraballaahu matsalan abdam mamluukaa, (Allah membuat perumpamaan dengan seorang hamba sahaya yang dimiliki) (an-Nahl: 75), turun sebagai perumpamaan perbedaan antara Quraisy (yang kaya dan dapat berbuat sekehendaknya dengan harta bendanya) dibandingkan budaknya yang tidak dapat berbuat apa-apa. Ayat ini juga sebagai bantahan terhadap penyamaan Allah dengan berhala.
Dan firman Allah, rajulaini ahaduhumaa abkam ( dua orang lelaki yang seorang bisu) (an-Nahl: 76) turun sebagai perumpamaan perbedaan antara Utsman bin Affan dan budaknya. Budaknya membenci Islam, enggan masuk Islam, dan menghalang-halangi Usman bersedekah dan beramar makruf.

Kedua ayat ini (an-Nahl: 75 dan 76) menunjukkan perbedaan antara Allah Yang Maha Kuasa Berbuat menurut iradat-Nya dan berhala yang justru menjadi beban penyembah-penyembahnya.
وَاللّٰهُ جَعَلَ لَكُمْ مِّنْۢ بُيُوْتِكُمْ سَكَنًا وَّجَعَلَ لَكُمْ مِّنْ جُلُوْدِ الْاَنْعَامِ بُيُوْتًا تَسْتَخِفُّوْنَهَا يَوْمَ ظَعْنِكُمْ وَيَوْمَ اِقَامَتِكُمْ ۙ وَمِنْ اَصْوَافِهَا وَاَوْبَارِهَا وَاَشْعَارِهَآ اَثَاثًا وَّمَتَاعًا اِلٰى حِيْنٍ
Dan Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal dan Dia menjadikan bagi kamu rumah-rumah (kemah-kemah) dari kulit binatang ternak yang kamu merasa ringan (membawa)-nya di waktu kamu berjalan dan di waktu kamu bermukim dan (dijadikannya pula) dari bulu domba, bulu onta dan bulu kambing, alat-alat rumah tangga dan perhiasan (yang kamu pakai) sampai waktu (tertentu).

Asbabunnuzul

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Mujahid bahwa ketika seorang Arab bertanya kepada Nabi saw. tentang Allah, beliau membacakan ayat, wallaahu jaala lakum mim buyuutikum sakanaa, (dan Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal) (an-Nahl: 80). Orang itupun mengiyakannya. Kemudian Nabi saw. membacakan kelanjutan ayat tersebut, wa jaala lakum ming juluudil anaami buyuutang tastakhiffuunahaa yauma zhanikum wa yauma iqaamatikum, ( dan Dia menjadikan bagi kamu rumah-rumah [kemah-kemah] dari kulit binatang ternak yang kamu merasa ringan [membawa]-nya di waktu kamu berjalan dan waktu kamu bermukim) (an-Nahl: 80), orang itu berpaling dan tidak mau masuk Islam. Maka turunlah ayat selanjutnya (an-Nahl: 83) yang menegaskan bahwa walaupun orang-orang tahu akan nikmat yang diberikan Allah, tapi kebanyakan mereka tetap kafir.
وَاَوْفُوْا بِعَهْدِ اللّٰهِ اِذَا عَاهَدْتُّمْ وَلَا تَنْقُضُوا الْاَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيْدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمُ اللّٰهَ عَلَيْكُمْ كَفِيْلًا ۗاِنَّ اللّٰهَ يَعْلَمُ مَا تَفْعَلُوْنَ
Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah(mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpah itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.

Asbabunnuzul

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Buraidah bahwa ayat ini (an-Nahl: 91) turun sebagai perintah untuk mematuhi baiat pada Nabi saw. (masuk Islam).
وَلَا تَكُوْنُوْا كَالَّتِيْ نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْۢ بَعْدِ قُوَّةٍ اَنْكَاثًاۗ تَتَّخِذُوْنَ اَيْمَانَكُمْ دَخَلًا ۢ بَيْنَكُمْ اَنْ تَكُوْنَ اُمَّةٌ هِيَ اَرْبٰى مِنْ اُمَّةٍ ۗاِنَّمَا يَبْلُوْكُمُ اللّٰهُ بِهٖۗ وَلَيُبَيِّنَنَّ لَكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ مَا كُنْتُمْ فِيْهِ تَخْتَلِفُوْنَ
Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali, kamu menjadikan sumpah (perjanjian)mu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain. Sesungguhnya Allah hanya menguji kamu dangan hal itu. Dan sesungguhnya di hari kiamat kan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu.

Asbabunnuzul

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Abu Bakr bin Abi Hafsh bahwa Saidah al-Asadiyyah adalah seorang gila, yang kerjannya hanyalah mengepang dan mengurai kembali rambutnya berulang kali. Ayat ini (an-Nahl: 92) turun sebagai perumpamaan bagi orang-orang yang selalu mengikat janji, tapi tidak menepatinya.
وَلَقَدْ نَعْلَمُ اَنَّهُمْ يَقُوْلُوْنَ اِنَّمَا يُعَلِّمُهٗ بَشَرٌۗ لِسَانُ الَّذِيْ يُلْحِدُوْنَ اِلَيْهِ اَعْجَمِيٌّ وَّهٰذَا لِسَانٌ عَرَبِيٌّ مُّبِيْنٌ
Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata:"Sesungguhnya al-Quran itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad)." Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya bahasa Ajam, sedang al-Quran adalah dalam bahasa Arab yang terang.

Asbabunnuzul

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dengan sanad yang daif, yang bersumber dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah saw. mengajar seorang bule, abid Romawi yang bernama Balam, di Mekah. Ia tidak dapat berbahasa Arab dengan fasih. Ketika kaum musyrikin melihat Rasulullah sering keluar masuk rumah Balam, mereka berkata: "Tentu Balam mengajarinya." Maka Allah menurunkan ayat ini (an-Nahl: 103) sebagai bantahan terhadap pendapat kaum musyrikin itu.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Hushain yang bersumber dari Abdullah bin Muslim al-Hadlrami bahwa Abdullah bin Muslim al-Hadlrami mempunyai dua abid yang bernama Yasar dan Jabr, orang Sicilia. Keduanya membaca dan mengajarkan ilmunya. Rasulullah saw. sering lewat ke tempat mereka dan mendengarkan bacaannya. Orang-orang musyrik berkata: "Muhammad belajar dari kedua orang itu." Turunnya ayat ini (an-Nahl: 103) sebagai bantahan atas tuduhan mereka.
مَنْ كَفَرَ بِاللّٰهِ مِنْۢ بَعْدِ اِيْمَانِهٖٓ اِلَّا مَنْ اُكْرِهَ وَقَلْبُهٗ مُطْمَىِٕنٌّۢ بِالْاِيْمَانِ وَلٰكِنْ مَّنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِّنَ اللّٰهِ ۗوَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيْمٌ
Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar.

Asbabunnuzul

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu Abbas bahwa ketika Nabi saw. hendak hijrah ke Madinah, kaum musyrikin menahan Bilal, Khabbab, dan Ammar bin Yasir. Ammar bin Yasir dapat menyelamatkan diri dengan jalan mengucapkan kata-kata yang mengagumkan mereka. Ketika sampai kepada Rasulullah saw., Ammar menceritakan kejadian itu. Nabi bertanya: "Apakah hatimu lapang di kala berkata demikian itu?" Ia menjawab: "Tidak." Ayat ini (an-Nahl: 106) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut, yang menegaskan bahwa Allah tidak akan mengutuk orang yang dipaksa kufur tapi hatinya tetap dalam keimanan.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Mujahid bahwa ayat ini (an-Nahl: 106) turun ketika orang-orang Mekah yang beriman dikirimi surat oleh para shahabat dari Madinah agar mereka berhijrah. Mereka berangkat pergi ke Madinah, akan tetapi dapat disusul oleh (orang-orang kafir) Quraisy. Kemudian orang-orang kafir Quraisy itu menganiaya mereka, sehingga mereka terpaksa mengucapkan kata-kata kufur. Ayat ini (an-Nahl: 106) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut, yang menegaskan bahwa orang-orang yang terpaksa mengucapkan kata-kata kufur akan diampuni oleh Allah, asalkan hatinya tetap beriman.
ثُمَّ اِنَّ رَبَّكَ لِلَّذِيْنَ هَاجَرُوْا مِنْۢ بَعْدِ مَا فُتِنُوْا ثُمَّ جَاهَدُوْا وَصَبَرُوْاۚ اِنَّ رَبَّكَ مِنْۢ بَعْدِهَا لَغَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
Dan sesungguhnya Rabbmu (pelindung) bagi orang-orang yang berhijrah sesudah menderita cobaan, kemudian mereka berjihad dan sabar; sesungguhnya Rabbmu sesudah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Asbabunnuzul

Diriwayatkan oleh Ibnu Sad di dalam kitab ath-Thabaqaat, yang bersumber dari Umar bin al-Hakam. Lihat pula surah an-Nisaa ayat 97. Bahwa Ammar bin Yasir disiksa hingga tidak tahu apa yang mesti dikatakannya. Demikian juga Shuhaib, Abu Fukaihah, Bilal, Amir bin Fuhairah, dan kaum Muslimin lainnya. Ayat ini (an-Nahl: 110) turun berkenaan dengan mereka yang telah diselamatkan oleh Allah swt.
وَاِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوْا بِمِثْلِ مَا عُوْقِبْتُمْ بِهٖۗ وَلَىِٕنْ صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِّلصّٰبِرِيْنَ
Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.

Asbabunnuzul

Diriwayatkan oleh al-Hakim, al-Baihaqi di dalam kitab ad-Dalaa-il, dan al-Bazzar, yang bersumber dari Abu Hurairah bahwa ketika Rasulullah saw. berdiri di hadapan jenazah Hamzah yang syahid dan dirusak anggota badannya, bersabdalah beliau: "Aku akan membunuh tujuh puluh orang dari mereka sebagai balasan atas perlakuan mereka terhadap dirimu." Maka turunlah Jibril menyampaikan wahyu akhir surat an-Nahl (an-Nahl: 126-128) di saat Nabi masih berdiri, sebagai teguran kepada beliau. Akhirnya Rasulullah pun mengurungkan rencana itu.

Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi yangmenganggap hadits ini hasan, dan al-Hakim, yang bersumber dari Ubay bin Kab, bahwa pada waktu perang Uhud gugurlah enam puluh empat orang sahabat dari kaum Anshar dan enam orang dari kaum Muhajirin, di antaranya Hamzah. Kesemuanya dirusak anggota badannya secara kejam. Berkatalah kaum Anshar: "Jika kami memperoleh kemenangan, kami akan berbuat lebih dari apa yang mereka lakukan." Ketika terjadi pembebasan kota Mekah, turunlah ayat ini (an-Nahl: 126) yang melarang kaum Muslimin mengadakan pembalasan yang lebih kejam dan menganjurkan supaya bersabar.

Keterangan: menurut lahiriyahnya, turunnya tiga ayat terakhir ini (an-Nahl: 126-128) ditangguhkan sampai Fat-hu Makkah. Namun, mengacu pada hadits-hadits sebelumnya, dapatlah dikatakan bahwa turunnya ayat-ayat tersebut dalam Perang Uhud.
Menurut kesimpulan Ibnul Hishar, ayat-ayat ini (an-Nahl: 126-128) turun tiga kali: mula-mula di Mekah, kemudian di Uhud, dan yang ketiga kalinya pada waktu Fat-hu Makkah, sebagai peringatan Allah bagi hamba-hamba-Nya.